SUKABUMIUPDATE.com - Memasuki puncak musim kemarau, Kabupaten Sukabumi dikepung sejumlah kebakaran lahan dalam sepekan terakhir. Sedikitnya lima peristiwa terjadi di beberapa kecamatan dengan luas lahan yang terbakar lebih dari 10 hektare. Sebagian besar diduga dipicu aktivitas pembakaran terbuka yang ditinggalkan tanpa pengawasan.
Faktor lainnya, seperti cuaca panas dan angin kencang, dianggap membuat kobaran api cepat meluas sehingga berulang kali mengancam lingkungan sekitar dan rumah-rumah penduduk.
Rangkaian kejadian bermula pada Senin, 20 Juli 2026. Siang hari sekira pukul 13.30 WIB, kebakaran menghabisi lahan ilalang milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk di Kampung Sindang Resmi, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Masyarakat pertama kali melihat asap putih sebelum api merambat dan mendekati permukiman.
Sekitar 500 hingga 1.000 meter persegi lahan dan gubuk non-permanen untuk berkebun hangus terbakar. Proses pemadaman berlangsung sulit karena lokasi api tidak dapat dijangkau mobil pemadam dan sumber air berada cukup jauh sehingga petugas harus memadamkan manual. Dugaan sementara, api berasal dari aktivitas pembakaran lahan yang ditinggalkan.
Baca Juga: Masih Membara, Kebakaran Bukit di Jalur Loji–Geopark Ciletuh Sudah Hanguskan 10 Hektare Lahan
Masih pada hari yang sama sekira pukul 16.30 WIB, kebakaran terjadi di Kampung Sekarsari, Desa Munjul, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi. Api membakar lahan ilalang di kawasan PT Wonokoyo yang berada di tepi Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) Seksi 3.
Tiga titik api terlihat menyala di lokasi. Meski jaraknya cukup jauh dari permukiman, petugas mengingatkan potensi api merambat apabila tidak segera dikendalikan. Warga diimbau tidak membuka lahan pertanian dengan cara membakar, melainkan lebih dibersihkan saja.
Dua hari kemudian, Rabu, 22 Juli 2026, Pos Damkar Cibadak menangani dua kebakaran lahan. Peristiwa pertama terjadi pukul 14.13 WIB di Kampung Ciangsana, kawasan Industri Cijambe Indah, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Dugaan penyebabnya berasal dari pembakaran jerami di bagian bawah yang meluas ke alang-alang di atasnya.
Pada malamnya, sekira pukul 19.20 WIB, kebakaran muncul di Kampung Babakan, Desa Munjul, Kecamatan Ciambar, tepatnya di area yang sama dengan kebakaran sebelumnya yakni lahan PT Wonokoyo. Ketika petugas tiba, terdapat tiga titik api yang sedang menyala. Api sempat dipadamkan secara manual oleh P2BK dari BPBD sebelum kembali membesar.
Baca Juga: Kurang dari 24 Jam, Dua Kecelakaan Maut Menguji Keselamatan Jalan Sukabumi-Bogor
Medan yang berjarak sekitar 200 meter dari akses kendaraan pemadam menjadi kendala utama. Hingga kini penyebab pasti kebakaran masih diselidiki, walaupun dugaan sementara mengarah pada adanya aktivitas pembakaran oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Rentetan kebakaran berlanjut pada Jumat, 24 Juli 2026. Sekira pukul 14.09 WIB, api menghanguskan sekitar 1.000 meter persegi lahan alang-alang di Kampung Simpenan, Desa Sukaharja, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan api berasal dari pembakaran sampah yang ditinggalkan dan merambat ke lahan kering.
Beberapa jam kemudian, sekira pukul 18.00 WIB, kebakaran yang jauh lebih besar terjadi di kawasan perbukitan ruas jalan provinsi Loji-Palangpang, Kampung Cipendeuy, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Hingga menjelang tengah malam, kobaran api seluas sekitar 10 hektare masih terus menyala dan menjalar di area yang menjadi akses menuju kawasan inti Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGp).
Lokasi yang sulit dijangkau membuat petugas belum bisa melakukan pemadaman secara maksimal. Jarak titik api dengan permukiman diperkirakan sekitar tiga kilometer.
Berulangnya kebakaran di sejumlah wilayah dalam waktu berdekatan memperlihatkan tingginya kerentanan Sukabumi terhadap kebakaran lahan selama musim kemarau. Selain cuaca panas dan angin yang mempercepat penyebaran api, sebagian diduga berawal dari aktivitas manusia.















