Seren Taun di 3 Kasepuhan Digelar Juli Agustus, Dispar Sukabumi Ajak Wisatawan Berkunjung

Sukabumiupdate.com
Jumat 03 Jul 2026, 13:40 WIB
Seren Taun di 3 Kasepuhan Digelar Juli Agustus, Dispar Sukabumi Ajak Wisatawan Berkunjung

Prosesi Ngampih Pare ka Leuit di Kasepuhan Sinar Resmi | Foto : Ilyas Supendi

SUKABUMIUPDATE.com – Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi mengajak masyarakat dan wisatawan untuk menikmati kekayaan budaya melalui tradisi Seren Taun yang akan digelar di tiga kasepuhan di Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok. Ritual adat yang telah diwariskan turun-temurun ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya unggulan Kabupaten Sukabumi.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, mengatakan Desa Sirna Resmi memiliki kekayaan budaya yang luar biasa karena menjadi rumah bagi tiga kasepuhan, yakni Kasepuhan Sinar Resmi, Kasepuhan Cipta Mulia, dan Kasepuhan Gelar Alam. Keberadaan tiga kasepuhan tersebut turut memperkuat identitas budaya Sukabumi hingga menjadi bagian dari pengakuan UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.

"Tradisi Seren Taun harus kita sukseskan bersama. Ini bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang layak dikunjungi. Desa Sirna Resmi pantas menjadi desa wisata dan daerah tujuan wisata karena memiliki banyak atraksi budaya yang unik," ujar Ali, pada Jumat (3/7/2026).

Ia menjelaskan, puncak Seren Taun akan digelar di Kasepuhan Sinarresmi pada 5 Juli 2026, kemudian dilanjutkan di Kasepuhan Cipta Mulia pada 12 Juli 2026, dan terakhir di Kasepuhan Gelar Alam yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.

Baca Juga: Narkotika Mendominasi, Pemusnahan Barang Bukti di Kejari Cibadak Diwarnai Protes Jurnalis

Ali mengajak wisatawan untuk datang langsung menyaksikan rangkaian prosesi adat yang sarat makna, mulai dari ritual syukuran panen hingga berbagai atraksi budaya khas masyarakat adat.

Sementara itu, Kepala Desa Sirna Resmi, Iwan Ruswandi, mengatakan masyarakat adat di tiga kasepuhan masih teguh menjaga warisan leluhur, terutama dalam tradisi bertani padi.

Menurutnya, padi diperlakukan sebagai simbol kehidupan sehingga hasil panen hanya diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi masyarakat adat dan tidak diperjualbelikan. Panen pun hanya dilakukan satu kali dalam setahun sebagai bagian dari kearifan lokal yang terus dipertahankan.

Selain itu, masyarakat adat juga masih menjaga tradisi dalam kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan pakaian adat berupa sinjang bagi perempuan dan iket bagi laki-laki sebagai identitas budaya.

"Kami berharap budaya ini semakin dikenal luas dan mendapat perhatian, sehingga semakin banyak wisatawan yang datang untuk melihat langsung tradisi yang masih terjaga hingga sekarang," kata Iwan.

Baca Juga: Sempat Memanas, Konflik Nelayan Ujunggenteng Berakhir dengan Larangan Jaring Tanam

Dinas Pariwisata pun mengajak masyarakat untuk menjadikan momen Seren Taun sebagai agenda wisata budaya di Sukabumi. Selain menikmati keindahan alam Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, wisatawan juga dapat merasakan pengalaman menyaksikan tradisi adat yang autentik dan tetap lestari di tengah perkembangan zaman. (adv)

Berita Terkait
Berita Terkini