SUKABUMIUPDATE.com – Serangan babi hutan yang merusak lahan jagung milik petani di Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, menjadi perhatian serius pemerintah kecamatan setempat. Selain melakukan penanganan darurat, pemcam kini mulai menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengurangi konflik antara satwa liar dan kawasan pertanian warga.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah berada di Kampung Cicurug RT 18 dan RT 19, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cidolog. Padahal, wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung di Sukabumi Selatan dan pernah meraih prestasi sebagai penghasil jagung unggulan tingkat Provinsi Jawa Barat.
Camat Cidolog, Ikhsan Mukhlis Sani, mengatakan pihaknya langsung bergerak setelah menerima laporan dari para petani terkait serangan babi hutan yang terjadi hampir setiap malam.
“Sejak pertama kali ada laporan dari petani, kami sudah berkoordinasi dengan BPP Cidolog dan melaporkan kondisi ini ke Dinas Pertanian. Selain itu, kami juga meminta bantuan Perbakin Kota Sukabumi sebagai langkah penanganan jangka pendek,” ujar Ikhsan kepada sukabumiupdate.com, Kamis (18/6/2026).
Baca Juga: SPMB 2026 Kabupaten Sukabumi SD-SMP Buka 76 Ribu Kuota, Ini Jadwal dan Jalurnya
Menurut Ikhsan, upaya pengendalian populasi babi hutan terus dilakukan guna menekan kerusakan lahan pertanian. Perbakin Kota Sukabumi bahkan telah beberapa kali turun langsung membantu petani.
“Dari Perbakin sudah lima kali turun membantu petani. Bahkan malam tadi kembali melakukan operasi di lokasi yang terdampak,” katanya.
Meski demikian, pemerintah menilai penanganan dengan cara perburuan tidak bisa menjadi solusi utama dalam jangka panjang. Karena itu, sejumlah langkah berkelanjutan tengah dikaji bersama berbagai pihak terkait.
Salah satu rencana yang sedang dibahas adalah penyediaan area khusus di kawasan hutan yang ditanami berbagai jenis vegetasi sebagai sumber pakan alami satwa liar.
“Rencana ke depan akan dibuat area tertentu di hutan yang ditanami pohon dan tumbuhan sebagai sumber pakan alami satwa liar. Harapannya, hewan-hewan tersebut tidak lagi masuk ke area produktif milik masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga: Korban Pembacokan di Nagrak Pulang dari RSUD Sekarwangi, Kasus Dilimpahkan ke Kejaksaan
Ikhsan mengungkapkan serangan babi hutan tahun ini tergolong lebih masif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut diduga disebabkan oleh beberapa faktor.
“Yang kami terima tahun ini memang cukup masif dibanding tahun sebelumnya. Dugaan awalnya karena berkurangnya sumber makanan di habitatnya, berkurangnya predator pemangsa, serta perkembangan biak babi hutan yang cukup tinggi,” ungkapnya.
Akibat serangan tersebut, sejumlah petani mengaku mengalami kerusakan tanaman jagung dengan tingkat kerusakan yang cukup signifikan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi gagal panen jika serangan terus berlanjut.
Pemerintah Kecamatan Cidolog bersama instansi terkait pun terus memantau perkembangan di lapangan sambil menyiapkan langkah penanganan yang lebih komprehensif. Para petani berharap solusi yang dirumuskan dapat segera direalisasikan agar lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat tidak terus menjadi sasaran kawanan babi hutan.



