Polemik ‘Wartawan Bodrex’ di Ujunggenteng, Akun Rere Said Subakti Klarifikasi dan Minta Maaf

Sukabumiupdate.com
Rabu 01 Apr 2026, 18:26 WIB
Polemik ‘Wartawan Bodrex’ di Ujunggenteng, Akun Rere Said Subakti Klarifikasi dan Minta Maaf

Reni Sumarni, pemilik akun Facebook Rere Said Subakti saat memberikan klarifikasinya atas unggahan 'Wartawan Bodrex' di Polsek Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Rabu (1/4/2026). (Sumber: SU/Ragil Gilang)

SUKABUMIUPDATE.com – Polemik unggahan media sosial yang menyulut reaksi keras dari kalangan jurnalis akhirnya berujung pada klarifikasi di hadapan aparat kepolisian. Reni Sumarni (38 tahun), pemilik akun Facebook Rere Said Subakti, memenuhi panggilan Polsek Ciracap, Rabu (1/4/2026), setelah dilaporkan oleh sejumlah wartawan di Kabupaten Sukabumi.

Kasus ini mencuat setelah unggahan yang dibuat pada Rabu malam (25/3/2026) viral dan menuai kontroversi. Dalam postingannya, Reni menyebut pihak yang mempermasalahkan tiket masuk wisata Ujunggenteng sebagai “wartawan bodrex” atau sebuah istilah yang dianggap merendahkan profesi jurnalis.

Adapun isi postingan tersebut berbunyi:
“Tah anu asli piknik mah fine fine jeung happy we puas tos piknik ka Ujunggenteng. Natt eta si wartawan bodrex, tong sok rareseh mempermasalahkeun karcis. Ulin heunteu, jajan heunteu, demi mengejar fyp dan jadi wartawan bodrex beres wawanianan mencemarkan kawasan wisata Ujunggenteng.”

Baca Juga: Dua Tahun Bertahan, Warga Cikadu Akhirnya Bangun Kehidupan Baru di Kampung Mubarakah

Unggahan tersebut dengan cepat menyebar luas, memicu gelombang protes dari insan pers yang merasa profesinya dilecehkan. Tekanan publik pun meningkat, hingga akhirnya Reni dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

Di hadapan petugas, Reni akhirnya angkat bicara. Dengan nada lebih tenang, ia menyampaikan klarifikasi atas pernyataan yang telah memicu kegaduhan tersebut.

“Saya tidak ada niat sedikitpun untuk menyindir wartawan secara umum maupun lembaga pers. Pernyataan saya tidak ditujukan ke sana,” ujar Rere.

Ia menjelaskan, unggahan itu lahir dari kegelisahan pribadi terhadap berbagai konten di media sosial yang menyoroti kondisi wisata Ujunggenteng, mulai dari persoalan karcis, sampah, hingga dugaan pungutan liar yang ramai diperbincangkan.

Baca Juga: Kado Pahit HUT Kota Sukabumi ke-112: Warga Cibeureum Demo Soroti Program MBG

“Ada beberapa postingan yang kemudian berkembang menjadi opini pro dan kontra, bahkan cenderung menyudutkan,” katanya.

Menurutnya, saat itu kawasan wisata Ujunggenteng, khususnya Tenda Biru tengah dipadati wisatawan dalam momentum libur panjang. Ia khawatir, narasi negatif yang beredar tanpa penjelasan utuh dapat berdampak serius pada citra destinasi tersebut.

“Pengunjung sedang ramai dari luar daerah. Saya khawatir jika narasi negatif terus menyebar, bisa memengaruhi kepercayaan orang untuk datang, dan objek wisata Tenda Biru Ujunggenteng takut ditutup oleh pengelola,” ujarnya.

Reni juga menegaskan bahwa istilah yang digunakannya tidak ditujukan kepada profesi wartawan secara keseluruhan, melainkan kepada oknum tertentu yang ia nilai tidak bertanggung jawab, bahkan menurutnya bukan berasal dari kalangan jurnalis.

“Yang saya maksud adalah oknum, dan itu bukan wartawan. Saya tidak menyebutkan siapa pun karena unggahan saya bersifat umum,” jelasnya.

Baca Juga: Jumat WFH untuk ASN, Wali Kota Sukabumi: Pimpinan Tetap Ngantor

Meski demikian, ia mengakui bahwa pilihan kata dalam unggahannya telah menimbulkan multitafsir dan melukai perasaan banyak pihak. Kesadaran itu mendorongnya untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

“Saya mohon maaf kepada rekan-rekan wartawan yang merasa tersinggung. Sungguh, itu bukan maksud saya. Ini menjadi pelajaran penting bagi saya, atas kegaduhan sehingga menjadi viral,” ucapnya.

Ia pun berjanji menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi agar lebih berhati-hati dalam bermedia sosial di masa mendatang.

“Ke depan saya akan lebih bijak dalam bermedia sosial, supaya tidak terjadi hal serupa,” pungkasnya.

Berita Terkait
Berita Terkini