Ramadan di Tepi Rel Saniin Wardoy Sukabumi: Gairah Berburu Takjil dan Risiko Keselamatan

Sukabumiupdate.com
Sabtu 28 Feb 2026, 12:35 WIB
Ramadan di Tepi Rel Saniin Wardoy Sukabumi: Gairah Berburu Takjil dan Risiko Keselamatan

Suasana ngabuburit berburu takjil Ramadan di tepi Rel Saniin, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. (Sumber : SU/Turangga Anom).

SUKABUMIUPDATE.com - Menjelang berkumandangnya azan magrib, suasana di perlintasan rel kereta api Jalan Saniin, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi menjadi lebih ramai. Jika pada hari biasa kawasan itu tampak lengang, selama Ramadan 1447 H ini kemudian menjelma menjadi titik temu warga yang ngabuburit berburu takjil menunggu waktu berbuka puasa.

Anak-anak, remaja hingga orang dewasa memadati sisi rel untuk ngabuburit. Deretan pedagang kaki lima berjejer menawarkan aneka takjil, minuman segar hingga kudapan manis. Jalan Saniin seolah menjadi pasar senja dadakan yang selalu hidup mulai pukul 15.00 WIB.

Indra (31), salah satu pedagang, mengatakan fenomena ini sudah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir. Setiap Ramadan, ia rutin menggelar lapak di lokasi tersebut.

Baca Juga: Salah Satunya Sukabumi! 12 Alun-alun di Jawa Barat untuk Ngabuburit di Bulan Ramadan

"Kalau mulai mangkal dari jam 15.00. Tapi kalau ramainya sekitar jam setengah 5 sampai setengah 6 sore," kata Indra kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (27/2/2026).

Menurutnya, lokasi tersebut dipilih karena sudah dikenal sebagai tempat warga berkumpul menjelang berbuka. Namun, ia mengaku tetap memperhatikan faktor keselamatan dengan tidak berjualan saat kereta melintas.

"Jualannya di luar jam kereta melintas. Soalnya takut, kan cari aman dan keselamatan juga. Orang-orang itu suka ngabuburit di sini mungkin suasananya enak kali ya," paparnya.

Baca Juga: Ada Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia, Potensi Tinggi Gelombang hingga 2,5 M

Ramadan, lanjutnya, membawa berkah tersendiri bagi para pedagang. Omzet yang diperoleh meningkat dibanding hari biasa, terlebih jika cuaca cerah dan tidak turun hujan.

"Alhamdulillah berkah kalau bulan puasa omzet meningkat. Apalagi kalau cuaca lagi cerah," jelasnya.

Heru (26), pemuda setempat, menilai antusiasme warga cukup tinggi karena lokasi perlintasan berada tidak jauh dari pusat kota. Ia menyebut keramaian tersebut hampir selalu terjadi setiap Ramadan.

Baca Juga: Kuasa Hukum Ungkap Dugaan Fakta Baru dalam Kasus Kematian NS di Jampangkulon

"Tiap tahun selalu ramai. Banyak macam-macam makanan. Kan di sini tengah-tengah kota ya jualannya juga tiap tahun di sini," ungkapnya.

Namun, ia menegaskan suasana tersebut hanya berlangsung selama bulan puasa. Di luar Ramadan, kawasan itu kembali normal dan sepi tanpa aktivitas pedagang. Ia juga menyoroti perlintasan tersebut yang sudah lama tidak dilengkapi palang pintu.

"Kalau di luar Ramadan di sini biasa aja ga ada yang jualan. Beda jauh lah dibandingin sama pas bulan puasa," pungkasnya.

Sementara itu, di balik semarak takjil dan keramaian warga, PT KAI mengingatkan bahwa jalur rel bukanlah ruang publik untuk beraktivitas. Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menegaskan area rel merupakan zona terbatas yang berbahaya.

Baca Juga: Pergerakan Tanah di Cijambe Bantargadung Meluas: Rusak 25 Bangunan Termasuk Ponpes, 4 KK Mengungsi

“Keselamatan merupakan prioritas utama. Jalur rel bukan tempat untuk beraktivitas selain untuk kepentingan operasional perkeretaapian. Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan kegiatan seperti duduk, berjalan, berfoto, maupun ngabuburit di sekitar rel demi keselamatan bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, larangan tersebut telah diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Pasal 181 ayat (1) menyatakan setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api, termasuk melakukan aktivitas di atas rel untuk kepentingan di luar angkutan kereta api.

“Jika melanggar aturan ini, masyarakat dapat dikenakan sanksi berupa pidana penjara maksimal tiga bulan atau denda hingga Rp15.000.000 sesuai dengan Pasal 199 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007,” lanjutnya.

Data KAI Daop 1 Jakarta mencatat sepanjang 2025 terjadi 168 kejadian temperan pejalan kaki di wilayahnya. Sementara pada periode Januari–Februari 2026, telah terjadi 31 kasus pejalan kaki menemper kereta. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa rel kereta bukan sekadar latar senja Ramadan, melainkan jalur aktif dengan risiko tinggi.

"Melalui berbagai upaya tersebut, KAI berkomitmen menghadirkan lingkungan perkeretaapian yang aman, tertib, dan nyaman bagi seluruh masyarakat, khususnya selama momen Ramadan dan menjelang Lebaran. Keselamatan perjalanan kereta api merupakan tanggung jawab bersama," jelasnya.

 

Berita Terkait
Berita Terkini