Sejarah POB Cibeas, Cerobong PLTU dan Hijrah Ilmiah Titik Rukyatul Hilal di Sukabumi

Sukabumiupdate.com
Senin 16 Feb 2026, 20:34 WIB
Sejarah POB Cibeas, Cerobong PLTU dan Hijrah Ilmiah Titik Rukyatul Hilal di Sukabumi

Pengamatan hilal di Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi | Foto : Ilyas Supendi

SUKABUMIUPDATE.com - Di perbukitan yang menghadap langsung ke laut selatan, berdiri kokoh Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas di Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Dari lokasi inilah, setiap menjelang Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, mata-mata terlatih para ahli hisab rukyat menatap ufuk barat, menanti kepastian hadirnya hilal penentu awal bulan hijriah.

POB Cibeas bukan hanya bangunan observasi. Ia adalah simbol keseriusan menjaga tradisi ilmiah. Di senja hari, ketika langit mulai bergradasi jingga dan biru tua, teleskop-teleskop diarahkan ke cakrawala. Di balik lensa-lensa itu, ada dedikasi ilmiah, keikhlasan para ulama, dan tanggung jawab besar terhadap umat.

Namun siapa sangka, keberadaan POB Cibeas lahir dari sebuah “hijrah ilmiah” akibat terganggunya titik pengamatan lama oleh cerobong dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Wakil Ketua I Dewan Hisab Rukyat (DHR) Kabupaten Sukabumi Bidang Diklat dan Hisab Rukyat, Zaenurridwan, menjelaskan bahwa latar belakang berdirinya POB Cibeas tak lepas dari pembangunan PLTU Palabuhanratu. 

Sebelumnya, kata Zaenurridwan, pengamatan hilal dilakukan di POB Cidadap, Desa Cidadap yang lebih dikenal sebagai POB Palabuhanratu, berlokasi dekat Kantor KUA Simpenan. Namun, seiring beroperasinya PLTU yang merupakan proyek strategis nasional, pandangan ke ufuk barat tidak lagi ideal.

Baca Juga: Barongsai Gie Say Ikon Sukabumi, Warisan Budaya yang Tak Ditemukan di China

"Kalau mencari tempat lain untuk memindahkan PLTU yang merupakan proyek strategis nasional, itu hampir mustahil. Maka para ulama dan tim ahli saat itu sepakat mencari lokasi baru untuk rukyat yakni di Cibeas. Cerobong dari PLTU mengganggu pengamatan hilal, terutama posisi hilal 19 sd 20 derajat ke arah utara dari titik barat," kata Zaenurridwan kepada sukabumiupdate.com, Senin (16/2/2026).

Ia juga mengungkapkan bahwa POB Cibeas mulai dibangun pada 2010 dan resmi digunakan saat rukyatul hilal Ramadan 1433 Hijriah atau tahun 2012. Di balik perpindahan lokasi itu, Zaenurridwan mengungkapkan bahwa terdapat peran penting para ulama dan ahli falak Sukabumi. Beberapa di antaranya kini telah berpulang ke rahmatullah, seperti KH Makmur, KH Ade Mashudi, dan KH Supadli Ramli.

Menurut Zaenurridwan, merekalah yang mengusulkan pencarian lokasi baru yang lebih representatif untuk pengamatan hilal. Sebuah keputusan strategis yang kini terbukti membawa manfaat besar, tak hanya bagi Sukabumi, tetapi juga bagi Indonesia.

"Beliau-beliau melihat jauh ke depan. Bahwa rukyat harus dilakukan di tempat yang benar-benar ideal secara astronomis," tuturnya.

Pemilihan Cibeas bukan tanpa alasan. Kata dia, secara geografis, Sukabumi memiliki kombinasi perbukitan dan lautan yang sangat mendukung pengamatan hilal. "Pertama karena letak geografis Sukabumi berupa perbukitan dan lautan. Kedua lautan view-nya datar sempurna meskipun terkadang terganggu awan dan kelembaban udara," bebernya.

Baca Juga: Saat Hati Terpanggil ke Baitullah, Khairo Travel Siap Mendampingi!

Laut memberikan horizon datar yang relatif sempurna. Meski kadang terkendala awan dan kelembaban udara, kondisi ini tetap dinilai lebih stabil dibanding wilayah gurun pasir di sejumlah negara Timur Tengah yang rentan debu.

"Kalau markaz di gurun pasir, debu bisa menjadi penghalang serius. Di sini, kita punya laut yang view-nya datar dan terbuka," jelasnya.

Adapun secara teknis, Zaenurridwan menyampaikan, sudut pandang ufuk barat idealnya mencapai 180 derajat atau lebih, tanpa terhalang gunung, pohon, bangunan, atau benda lain. Dan Cibeas memenuhi kriteria tersebut.

Lebih dari sekadar lokasi pengamatan, POB Cibeas kini menjadi salah satu titik penting dalam sistem penentuan awal bulan hijriah di Indonesia. Hasil terlihat atau tidak terlihatnya hilal dari Sukabumi dilaporkan ke Kementerian Agama RI, lalu menjadi bagian dari pertimbangan dalam sidang isbat nasional.

"Kami merasa bangga. Dari wilayah ini, informasi hilal disampaikan ke Kementerian Agama pusat dan kemudian diumumkan ke seluruh Indonesia," ujarnya.

Berita Terkait
Berita Terkini