SUKABUMIUPDATE.com - Pondok Pesantren Sunanulhuda, Cikaroya, Sukabumi, menggelar Haol Masyayikh 1447 H/2026 M selama lima hari, 26–30 Januari 2026, dengan tema Menebar Bakti Meraih Berkah. Kegiatan ini menjadi momentum perjumpaan antara tradisi keagamaan, penguatan keilmuan, dan kepedulian sosial yang telah lama menjadi denyut kehidupan pesantren.
Haol tidak sekadar agenda tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai pesantren yang bertumpu pada adab dan terhubungnya sanad keilmuan. Salah satu rangkaiannya adalah ziarah ke Makam Pasir, tempat peristirahatan terakhir para masyayikh Sunanulhuda, yang diikuti santri, alumni, dan para muhibbin.
Agung Munajat, salah seorang muhibbin Sunanulhuda, mengaku rutin menghadiri rangkaian haol setiap tahun, terutama kegiatan ziarah. Baginya, ziarah bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari adab yang diwariskan pesantren. Ia terbilang cukup rajin berziarah ke pendiri ponpes ini, yakni Mama KH. Uci Sanusi dan anak beliau, sekaligus penerusnya, Buya KH. Dadun Sanusi.
“Setiap tahun saya selalu menyempatkan hadir, khususnya pada kegiatan ziarah. Ziarah itu bagian dari adab pesantren. Di sanalah saya merasa terus terhubung secara sanad keilmuan dengan para masyayikh yang telah berjuang mendidik umat,” ujar Agung.
Baca Juga: 20 Paribasa Sunda untuk Menyindir Sifat Sombong: “Agul ku payung butut”
Menurut Agung, rangkaian ziarah tidak berhenti di lingkungan Pondok Pesantren Sunanulhuda. Para peserta melanjutkan perjalanan ke sejumlah maqbarah masyayikh di wilayah Sukabumi dan sekitarnya.
Di antaranya adalah maqbarah KH. Muhammad Kholilullah di Pondok Pesantren Siraojul Athfal, KH. Abdullah Mahfud di Pondok Pesantren Assaafiyah, serta KH. Masthuroh dan Habib Syech Alathas di Pondok Pesantren Almasthuriyah. Ziarah juga dilakukan ke maqbarah KH. Ahmad Sanusi di Pondok Pesantren Syamsul ’Ulum.
Rangkaian ziarah tersebut ditutup dengan kunjungan ke maqbarah Mama Gentur dan Aang Nuh, Gentur, Cianjur. Bagi Agung, ziarah bukan sekedar upaya merawat ingatan, melainkan juga laku adab yang ia pelajari dari catatan tangan berbahasa Arab Pegon karya Buya KH. Dadun Sanusi. Catatan tentang tata cara ziarah ke orang saleh itu ditulis sekitar satu setengah bulan sebelum wafatnya. "Ziarah ada adabnya, nggak asal berdoa," singkat Agung.
Ulama Pasundan.
Sementara itu, Ketua Panitia Haol, KH. Luthfi Mukhtar Sholahudin, menjelaskan bahwa ziarah ke makam para masyayikh dipahami sebagai bentuk penghormatan dan tabarruk, sekaligus ikhtiar menjaga kesinambungan spiritual pesantren. Melalui Haol kali ini, Pondok Pesantren Sunanulhuda, kata dia, ingin menegaskan posisinya sebagai penjaga tradisi, sekaligus ruang refleksi untuk merespons tantangan zaman.
Menurut KH. Luthfi, praktek ziarah menjadi pintu masuk untuk menegaskan satu prinsip utama pesantren, yakni adab harus mendahului ilmu. Ia menilai krisis peradaban modern tidak lepas dari lunturnya adab dalam kehidupan manusia. “Karena itu, adab dan ilmu harus berjalan seimbang. Ketika adab ditinggalkan, ilmu kehilangan arah,” ujarnya.
Selama hampir sepekan, haol di Ponpes Sunanulhuda diisi rangkaian kegiatan yang merentang dari penguatan spiritual hingga kepedulian sosial.
Agenda tersebut mencakup Bazaar dan Food Court Pesantren yang melibatkan UMKM lokal, Takhtimul Qur’an bil Ghoib dan bin Nadhor yang diikuti para santri penghafal Al-Qur’an, Pameran Manuskrip Turats Ulama Pasundan yang menampilkan sekitar 500 naskah karya ulama Jawa Barat, termasuk karya Mama KH. Uci Sanusi, Buya KH. Dadun Sanusi, dan KH. Eman Sulaeman, SUHU Expo dengan partisipasi 30 perguruan tinggi se-Jawa Barat, serta Santunan Anak Yatim sebagai penegasan dimensi sosial pesantren.
Puncak Haol dijadwalkan berlangsung pada 30 Januari, ditandai dengan Ziarah Bersama ke Makam Masyayikh Sunanulhuda di Makam Pasir, Cikaroya. Kegiatan ini diperkirakan dihadiri ribuan alumni, santri, dan masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Sumatra.
Informasi lokasi ziarah dapat diakses melalui Google Maps: https://share.google/NOvkVDu9gteDIHaQp Rangkaian puncak acara dilanjutkan dengan Tabligh Akbar yang menghadirkan Abuya KH. Abdullah Mukhtar, pimpinan Pondok Pesantren An-Nidzom, Sukabumi, yang juga dikenal sebagai sahabat dekat Buya.





