20 Paribasa Sunda untuk Menyindir Sifat Sombong: “Agul ku payung butut”

Sukabumiupdate.com
Rabu 28 Jan 2026, 09:45 WIB
20 Paribasa Sunda untuk Menyindir Sifat Sombong: “Agul ku payung butut”

Ilustrasi - Paribasa Sunda yang menggambarkan sindirian tentang kehidupan yang sombong. (Sumber : AI/ChatGPT).

SUKABUMIUPDATE.com - Berdasarkan buku "Cakap Peribahasa, Puisi Baru dan Pantun", peribahasa didefinisikan sebagai bentuk bahasa kiasan yang menyampaikan makna secara tersirat melalui perbandingan.

Sementara itu, mengutip pendapat Satjadibrata dalam Rosidi (dilansir dari Gramedia), Paribasa adalah susunan kata yang membentuk ungkapan berisi petuah atau cerminan dari pengalaman hidup.

Masyarakat Sunda memiliki kekayaan Paribasa yang semestinya dijaga dan dipahami agar tidak punah tergerus perkembangan zaman. Banyak dari peribahasa ini yang masih sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, bahkan cocok untuk dilestarikan melalui konten media sosial di era modern ini.

Baca Juga: 20 Paribasa Sunda sareng Hartina, Contoh: Heueuh-heueuh Bueuk

Berikut adalah rangkuman dari Sundapedia, mengenai kumpulan Paribasa Sunda yang cocok untuk menyindir orang yang sombong atau lupa diri:

  1. Asa aing uyah kidul: Merasa diri paling hebat, paling unggul, dan bersikap sombong di hadapan orang lain.
  2. Adean ku kuda beureum: Bergaya atau menyombongkan diri menggunakan barang titipan atau milik orang lain, bukan milik sendiri.
  3. Pangkat méméh jeneng: Bersikap angkuh atau sombong seolah-olah memiliki jabatan tinggi, padahal tidak.
  4. Cileuncang mandé sagara, cécéndét mandé kiara, hunyur nandéan gunung: Mencoba meniru gaya hidup orang yang status sosial, derajat, atau kekayaannya jauh di atas kemampuan diri sendiri.
  5. Beunghar méméh boga: Banyak tingkah dan bergaya, namun tidak seimbang dengan kondisi ekonominya yang sebenarnya.
  6. Bonténg ngalawan kadu: Menggambarkan orang kecil atau lemah yang mencoba melawan orang besar atau berkuasa.
  7. Adam lali tapel: Seseorang yang melupakan sanak saudara dan tanah kelahirannya.
  8. Agul ku payung butut: Membanggakan garis keturunan atau menyombongkan barang yang sebenarnya tidak bernilai tinggi.
  9. Ari umur tunggang gunung, angen-angen pecat sawed: Usia sudah senja, namun keinginannya masih menggebu-gebu layaknya anak muda.
  10. Alak-alak cumampaka: Orang yang gila pujian, merasa paling hebat, atau orang hina yang berambisi menyamai orang mulia.
  11. Anjing ngagogogan kalong: Menginginkan sesuatu yang mustahil untuk didapatkan.
  12. Piit ngeundeuk ngeundeuk pasir: Menginginkan pasangan atau sesuatu yang tidak sederajat, sehingga mustahil tercapai.
  13. Hirup ku panyukup gedé ku paméré: Orang yang enggan berusaha sendiri dan hanya mengandalkan pemberian orang lain untuk hidup.
  14. Jogjog neureuy buah loa: Mengharapkan jodoh yang tidak selevel atau memimpikan sesuatu yang sulit berhasil.
  15. Hunyur nandéan gunung: Berambisi menyaingi orang yang memiliki harta dan derajat jauh lebih tinggi.
  16. Aku-aku angga: Mengklaim barang atau hasil kerja orang lain sebagai miliknya sendiri.
  17. Piritan milu endogan: Hanya ikut-ikutan arus orang banyak tanpa memiliki pendirian atau keinginan sendiri.
  18. Lauk buruk milu mijah: Sekadar ikut-ikutan melakukan sesuatu atau memanfaatkan situasi (aji mumpung), bukan karena keinginan murni.
  19. Kotok bongkok kumorolong, kacingcalang kumarantang: Ikut-ikutan melakukan sesuatu karena terbawa arus, sehingga hasilnya justru terlihat buruk atau memalukan.
  20. Beuteung mutiktrik berekat meunang: Sudah makan sampai kenyang, saat pulang masih membawa bingkisan makanan.

Baca Juga: 15 Tatarucingan Sunda Sareng Jawabanna: Kopeah Hejo, Baju Bodas, Naon Cing?

Sumber: Sundapedia.com

 

Berita Terkait
Berita Terkini