SUKABUMIUPDATE.com – Setiap hari, sekitar 190 ton sampah diproduksi warga Kota Sukabumi. Dari jumlah tersebut, sekitar 132 ton berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul, sementara sisanya dikelola melalui berbagai skema pengurangan sampah.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya tersimpan persoalan yang saling berkaitan, mulai dari rendahnya budaya memilah sampah di rumah tangga, keterbatasan armada pengangkut, hingga ancaman penuhnya TPA yang diperkirakan hanya mampu bertahan hingga akhir 2026 apabila tidak ada perubahan signifikan.
Di sisi lain, di tengah ancaman krisis tersebut, muncul secercah harapan dari sebuah bank sampah di Kampung Subangjaya yang membuktikan bahwa sampah sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi jika dikelola sejak dari sumbernya.
Hulu: Masalah Terbesar Bukan Sampah, Melainkan Kebiasaan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, Yudi Sutriana, menilai persoalan terbesar pengelolaan sampah bukan berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan jauh sebelum itu, yakni di tingkat rumah tangga.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi tantangan paling berat.
"Memang yang lumayan sulit itu merubah mindset masyarakat menjadi budaya sadar sampah menjadi konsep bukan membuang sampah tapi menabung sampah dan ternyata untuk merubah habit atau kebiasaan itu butuh waktu yang luar biasa dan ekstra." ujar Yudi saat diwawancarai sukabumiupdate.com di kantornya.
DLH kini mengedepankan skema penanganan dari hulu melalui edukasi pemilahan sampah organik, anorganik dan limbah B3, termasuk gerakan penanaman pohon dan pembersihan lingkungan.
Namun di lapangan, persoalan belum banyak berubah. Meski sosialisasi terus dilakukan, sebagian besar sampah masih datang ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) dalam kondisi tercampur. Akibatnya, TPS yang baru saja dikosongkan kembali penuh hanya dalam hitungan dua hingga tiga jam.
Tengah: Armada Menua, TPS Cepat Penuh
Persoalan berikutnya muncul pada sistem pengangkutan.
Kota Sukabumi memiliki 32 rute pengangkutan, tetapi hanya 20 armada yang masih beroperasi dari total 28 kendaraan yang dimiliki. Delapan armada lainnya mengalami kerusakan berat. Sebagian besar kendaraan operasional bahkan telah berusia lebih dari 15 tahun.
Kondisi tersebut membuat pengangkutan sampah belum mampu mengimbangi laju produksi sampah harian. Di jalan protokol, pengangkutan dilakukan hingga tiga kali sehari. Namun di kawasan permukiman, sampah umumnya hanya diangkut sekali dalam sehari. Keterbatasan armada membuat ritme pelayanan sulit ditingkatkan.
Kondisi sampah di TPA Cikundul, Lembursitu, Kota Sukabumi.
Hilir: TPA Cikundul Tinggal Menghitung Hari
Persoalan paling serius berada di ujung sistem pengelolaan sampah.
TPA Cikundul yang menjadi satu-satunya tempat pembuangan akhir Kota Sukabumi memiliki luas sekitar 10,7 hektare. Namun sekitar 9,5 hektare di antaranya telah terisi. Artinya, hanya tersisa sekitar 1,2 hektare, itupun sebagian besar berada di sisi-sisi area pembuangan.
Persoalan tidak berhenti di sana. Air lindi dari TPA masih merembes ke lingkungan sekitar meski instalasi pengolahan air limbah (IPAL) telah dibangun.
Di saat yang sama, Kota Sukabumi juga tengah menjalani sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup sehingga tidak lagi diperbolehkan melakukan praktik pembuangan sampah secara terbuka.
Sebagai respons, DLH mulai menerapkan sistem sanitary landfill. Namun langkah tersebut dinilai belum cukup. Dengan timbulan sekitar 132 ton sampah yang masuk ke TPA setiap hari, usia TPA diperkirakan hanya mampu bertahan hingga Desember 2026 apabila pola pengelolaan sampah tidak berubah.
Jalan Keluar Masih Dikaji
DLH bersama Bappeda kini tengah mengkaji berbagai skema penyelesaian jangka panjang. Mulai dari kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan hingga rencana pengiriman sampah menuju fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang direncanakan beroperasi di wilayah Bogor pada 2028.
Namun rencana tersebut juga menghadapi tantangan baru, yakni kebutuhan armada pengangkut dalam jumlah besar.
Di sisi lain, Kota Sukabumi memiliki 12 TPS3R, tetapi yang beroperasi baru enam unit. Padahal jika seluruh TPS3R aktif, kapasitas pengolahan bisa mencapai sekitar 60 ton sampah per hari.
Bank Sampah Astrajingga di Kampung Subangjaya, Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi.
Harapan Datang dari Kampung Kecil
Di tengah persoalan yang kompleks, Kampung Subangjaya justru menunjukkan cerita berbeda. Di wilayah ini, bank sampah menjadi bagian dari solusi.
Penggerak Bank Sampah Astrajingga, Deri Maulana, mengatakan lahirnya bank sampah berangkat dari kekhawatiran terhadap kondisi TPA yang semakin kritis. Alih-alih menunggu sampah diangkut, warga diajak menyelesaikan persoalan sejak dari rumah.
Semua sampah dipilah terlebih dahulu. Sampah organik diolah menjadi pupuk maupun pakan ternak. Sementara sampah anorganik disetor ke bank sampah untuk memperoleh nilai ekonomi. Bahkan, wilayah tersebut kini tidak lagi memiliki Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS).
"Sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) karena semua sampahnya sudah dipilah sejak dari rumah." kata Deri.
Sistem tersebut diperkuat dengan keberadaan satgas sampah di setiap RW yang bertugas mengumpulkan hasil pemilahan warga menuju bank sampah.
Hasilnya mulai terlihat, selain lingkungan menjadi lebih bersih, bank sampah juga menghasilkan insentif sekitar Rp1,5 juta setiap bulan yang masuk ke kas RW untuk kepentingan masyarakat. Saat ini terdapat empat RW yang telah bergabung.
Dalam sehari, bank sampah mampu menampung sekitar 8 hingga 10 kuintal sampah bernilai ekonomis, belum termasuk sampah organik yang diolah secara mandiri oleh warga.
Ironi yang Harus Dijawab
Kota Sukabumi kini menghadapi ironi besar.
Di satu sisi, TPA Cikundul semakin mendekati batas kapasitas, armada pengangkut menua, dan produksi sampah terus meningkat.
Namun di sisi lain, contoh nyata di tingkat masyarakat membuktikan bahwa persoalan sampah dapat dikurangi secara signifikan apabila pemilahan dilakukan sejak dari rumah.
Artinya, solusi terbesar bukan hanya membangun TPA baru atau membeli armada baru. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama. Tanpa itu, TPA akan terus penuh.
Sebaliknya, jika budaya memilah sampah mampu tumbuh menjadi kebiasaan, umur TPA dapat diperpanjang, biaya pengangkutan berkurang, dan sampah yang selama ini dianggap beban justru berubah menjadi sumber manfaat ekonomi.




