SUKABUMIUPDATE.com - Menyimpan dendam sering kali dianggap sebagai reaksi yang wajar ketika seseorang merasa disakiti. Rasa marah, kecewa, dan terluka yang tidak tersalurkan dengan baik akhirnya mengendap dan berubah menjadi dendam.
Sayangnya, emosi negatif ini tidak hanya mempengaruhi kondisi batin, tetapi juga dapat berdampak serius pada kesehatan tubuh jika berlangsung dalam waktu lama.
Dendam adalah keadaan emosional ketika seseorang terus mengingat kesalahan orang lain dan berharap adanya balasan atas perlakuan tersebut.
Tanpa disadari, pikiran terus terjebak pada peristiwa masa lalu, seolah-olah luka itu terjadi berulang kali. Kondisi inilah yang membuat tubuh berada dalam tekanan berkepanjangan.
Pengaruh Dendam terhadap Keseimbangan Hormon
Saat seseorang menyimpan dendam, tubuh cenderung memproduksi hormon stres, terutama kortisol, dalam jumlah lebih tinggi. Kortisol memang dibutuhkan dalam kondisi tertentu, namun jika dilepaskan terus-menerus, hormon ini dapat mengganggu kerja sistem saraf dan organ tubuh lainnya.
Baca Juga: Mengenal Pedofilia: Gangguan Ketertarikan Seksual pada Anak dan Cara Penanganannya
Di sisi lain, hormon oksitosin yang berperan dalam perasaan tenang, empati, dan kedekatan emosional justru menurun. Ketidakseimbangan ini membuat seseorang lebih mudah cemas, sulit merasa bahagia, dan kesulitan menjalin hubungan sosial yang sehat.
Dampak Buruk Menyimpan Dendam terhadap Kesehatan Fisik dan Mental
1.Mendorong Pola Hidup Tidak Sehat
Tekanan emosional akibat dendam seringkali mempengaruhi kebiasaan sehari-hari. Seseorang yang diliputi emosi negatif cenderung mengabaikan kesehatan diri sendiri.
Pola makan menjadi tidak teratur, pilihan makanan cenderung tinggi gula dan lemak, serta muncul kebiasaan merokok atau kurang tidur. Jika dibiarkan, gaya hidup ini meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, dan gangguan metabolisme.
2. Meningkatkan Risiko Gangguan Jantung
Emosi negatif yang terus dipendam dapat memicu peningkatan tekanan darah. Ketika tubuh berada dalam kondisi tegang dalam waktu lama, pembuluh darah menjadi lebih kaku dan jantung bekerja lebih keras.
Akibatnya, risiko penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah meningkat. Rasa marah dan dendam yang tidak terkelola dengan baik dapat menjadi faktor tersembunyi yang membahayakan kesehatan jantung.
3. Memicu Nyeri Kronis dan Gangguan Psikosomatis
Menyimpan dendam juga sering dikaitkan dengan berbagai keluhan fisik yang sulit dijelaskan secara medis. Beberapa orang mengalami sakit kepala berulang, nyeri punggung, gangguan pencernaan, hingga masalah lambung.
Baca Juga: Mengenal Kecerdasan Kinestetik pada Anak dan Cara Mengembangkannya
Kondisi ini dikenal sebagai gangguan psikosomatis, yaitu keluhan fisik yang dipicu oleh tekanan emosional. Pikiran yang terus dibebani emosi negatif membuat tubuh seolah “berteriak” lewat rasa nyeri.
4. Mempercepat Proses Penuaan
Stres berkepanjangan akibat dendam dapat mempercepat penuaan biologis. Hormon stres yang berlebihan mempengaruhi proses regenerasi sel dan dapat merusak keseimbangan dalam tubuh.
Akibatnya, tanda-tanda penuaan seperti kelelahan, kulit kusam, dan penurunan daya tahan tubuh bisa muncul lebih cepat dari seharusnya.
Menyimpan dendam bukan hanya masalah emosi, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan. Dendam dapat mengganggu keseimbangan hormon, mendorong gaya hidup tidak sehat, meningkatkan risiko penyakit jantung, memicu nyeri kronis, dan mempercepat penuaan.
Mengelola emosi dan belajar memaafkan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Sumber: hellosehat



