Angin Puyuh di Prana Sukabumi, Mengenal Fenomena Dust Devil

Sukabumiupdate.com
Rabu 16 Sep 2026, 14:17 WIB
Angin Puyuh di Prana Sukabumi, Mengenal Fenomena Dust Devil

edit AI. Angin Puyuh di Prana Kota Sukabumi (Sumber : Copilot (warganet)

SUKABUMIUPDATE.com - Fenomena angin puyuh atau puting beliung kecil mengejutkan pengguna jalan di terusan prana, Kelurahan Cisarua Kecamatan Cikole Kota Sukabumi Jawa Barat, Rabu siang (16/9/2026). Kolom angin yang berputar cepat ini muncul melintasi jalan dan lahan perkebunan membawa debu dan benda-benda kecil berterbangan.

Fenomena alam ini sempat diabadikan oleh warga Ciaul Pasir yang tengah melintas. Dalam rekaman video singkat tersebut, terlihat kolom angin berdiameter 1- 2 meter dengan ketinggian lebih dari 15 meter berputar-putar di jalan tembusan perumahan prana baru dan prana lama.

Warga yang tengah melintas sempat berhenti, untuk menghindari dampak. Setelah kurang lebih 5 - 10 menit, fenomena angin puyuh itu menghilang dengan sendirinya.

Baca Juga: HJKS ke-156: PLN IP UBP Jabar 2 Pelabuhan Ratu Salurkan Bantuan Sembako

“Tidak berdampak, cuma jalanan jadi lebih berdebu saja,” ucap Papih warga Ciaul Pasir yang merekam fenomena tersebut.

Kemunculan Angin Puyuh

Dari catatan sukabumiupdate, ini kali kedua dalam sebulan terakhir fenomena alam ini direkam dan terjadi di Sukabumi. Sebelumnya angin puyuh juga muncul di kawasan Cikembang Cikembar Kabupaten Sukabumi.

Dari catatan Stasiun Klimatologi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) angin puyuh merupakan fenomena siklon berskala mikro yang terbentuk akibat adanya perbedaan tekanan dan temperatur udara. 

Baca Juga: Bupati Sukabumi Angkat Bicara soal Pejabat Dishub Terseret Dugaan Pelecehan Siswi PKL

Fenomena tersebut umumnya terjadi ketika udara panas dan lembab di permukaan bumi bergerak naik dengan cepat, sementara udara yang lebih dingin di lapisan atas bergerak turun. Pertemuan dua massa udara itu dapat membentuk arus vertikal yang kuat. 

Ditambah adanya perbedaan kecepatan angin pada lapisan udara, terjadi gesekan yang kemudian memicu terbentuknya pusaran. Ketika tekanan udara di bagian tengah pusaran menjadi sangat rendah, udara di sekitarnya tertarik masuk dengan kecepatan tinggi. 

Jika pusaran tersebut cukup kuat dan memanjang hingga ke permukaan tanah, terbentuklah angin puyuh yang menyerupai corong. Angin puyuh memiliki skala yang relatif kecil, dengan diameter sekitar 1 hingga 100 meter. 

Baca Juga: Respons Ketua DPRD soal Dugaan Pelecehan Siswi PKL oleh Pejabat Dishub Sukabumi

Fenomena ini juga biasanya berlangsung singkat, sekitar 3 hingga 10 menit, dan lebih berpotensi terjadi pada siang hingga sore hari ketika kondisi udara cukup panas. Kecepatan anginnya dapat mencapai sekitar 50 hingga 100 kilometer per jam. 

Lebih sering terlihat di area terbuka seperti lapangan, persawahan maupun kawasan permukiman. Meski angin puyuh berskala kecil dan tidak terlalu berdampak terhadap bangunan maupun fasilitas umum, masyarakat tetap diimbau untuk waspada.

Di australia, angin puyuh puyuh sering terjadi hingga fenomena ini mendapatkan nama sendiri, yaitu Dust Devil (Setan Debu) atau willy-willy, pusaran angin kecil mirip tornado yang terbentuk karena perbedaan panas ekstrem di permukaan tanah.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini