SUKABUMIUPDATE.com - Saat membaca berita tentang prakiraan cuaca mungkin kita sering melihat banyak istilah dan beberapa diantaranya yaitu “MJO, Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby”.
Lalu, apa sebenarnya MJO, Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby itu dan bagaimana pengaruhnya terhadap cuaca di suatu wilayah?
Mengutip dari laman Digilib ITB, MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby merupakan fenomena atmosfer yang bisa menyebabkan cuaca di suatu wilayah bisa tiba-tiba berubah dari cerah menjadi hujan lebat, atau sebaliknya.
Ketiganya sama-sama berupa gelombang atau gangguan atmosfer, tetapi mekanisme, skala, dan dampaknya berbeda.
Baca Juga: Mengenal 52 Istilah saat Musim Kemarau dalam Bahasa Sunda, Ada Halodo, Cinyusu hingga Hanaang
Apa itu MJO?
Masih mengitip dari digilib ITB, MJO (Madden-Julian Oscillation) adalah pola gangguan cuaca berskala besar yang bergerak dari barat ke timur di wilayah tropis, terutama di sekitar ekuator.
MJO bisa dibayangkan seperti gumpalan aktivitas awan dan hujan yang bergerak perlahan mengelilingi bumi di daerah tropis.
Ketika fase aktif MJO berada di suatu wilayah, aktivitas pembentukan awan biasanya meningkat. Akibatnya, wilayah tersebut dapat mengalami hujan lebih sering, hujan lebat, awan konvektif lebih banyak, potensi petir dan angin kencang meningkat, bahkan dalam kondisi tertentu, risiko banjir dan longsor ikut meningkat.
Sebaliknya, ketika fase kering MJO berada di suatu wilayah, pembentukan awan hujan dapat berkurang sehingga kondisi menjadi lebih kering dan cerah.
Siklus MJO umumnya berlangsung sekitar 30–60 hari untuk mengelilingi wilayah tropis.
Baca Juga: Mengenal Heatwave, Cuaca Panas Mematikan, Apakah Indonesia Bisa Mengalaminya?
Apa itu Gelombang Kelvin?
Mengutip dari laman Unesa, gelombang Kelvin atmosfer merupakan gelombang yang bergerak terutama dari barat ke timur di wilayah tropis.
Fenomena ini berkaitan dengan perubahan tekanan, angin, kelembapan, dan aktivitas awan di atmosfer. Pergerakannya relatif cepat dibandingkan MJO.
Ketika Gelombang Kelvin melintas di suatu wilayah, kondisi atmosfer dapat menjadi lebih mendukung terbentuknya awan hujan. Dampaknya dapat berupa peningkatan curah hujan dalam periode tertentu.
Namun, Gelombang Kelvin tidak selalu berarti hujan lebat. Dampaknya bergantung pada kondisi atmosfer lain yang sedang berlangsung, termasuk kelembapan, angin, dan keberadaan sistem cuaca lainnya.
Apa itu Gelombang Rossby?
Berbeda dengan Kelvin, Gelombang Rossby berkaitan erat dengan rotasi Bumi dan perbedaan gaya Coriolis berdasarkan lintang.
Dalam meteorologi, gelombang Rossby dapat berperan dalam membentuk pola sirkulasi atmosfer berskala besar. Gelombang ini umumnya bergerak lebih lambat dan dapat mempengaruhi pola cuaca dalam wilayah yang sangat luas.
Sederhananya, kalau MJO dan Gelombang Kelvin sering dibicarakan dalam konteks aktivitas cuaca tropis, Gelombang Rossby lebih banyak berkaitan dengan pola sirkulasi atmosfer skala besar.
Di wilayah tropis, termasuk Indonesia, gelombang Rossby ekuatorial dapat berinteraksi dengan kelembapan dan sistem atmosfer lainnya sehingga ikut memengaruhi pembentukan awan dan hujan.
Ketiganya Bisa Berinteraksi
MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby tidak selalu bekerja sendiri-sendiri. Mereka dapat saling berinteraksi dengan kondisi atmosfer lain.
Ketika beberapa faktor tersebut mendukung pembentukan awan secara bersamaan, potensi hujan lebat di suatu wilayah bisa meningkat.
Sebaliknya, ketika atmosfer berada dalam kondisi yang kurang mendukung pembentukan awan, suatu wilayah bisa mengalami periode yang lebih kering.















