SUKABUMIUPDATE.com - Selain keindahan alam, Geyser Cisolok, Sukabumi rupanya menyimpan harta karun lain yakni makhluk hidup super kecil yang bisa sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia
Diketahui tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menemukan spesies baru bakteri termofilik yang mampu hidup pada suhu mendekati titik didih air.
Mikroorganisme tersebut diberi nama Thermus javaensis sp. nov. dan telah dipublikasikan dalam jurnal internasional International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology (2026;76:007136).
Lalu, apa sebenarnya Thermus Javaensis sp. nov ini dan bagaimana tim peneliti menemukannya? Berikut ulasannya.
Baca Juga: Mengenal Bakteri Acinetobacter Baumannii: Risiko, Gejala, dan Pengobatannya
Mengenal Bakteri Thermus Javaensis sp. nov
Dikutip dari laman sci-ui.id , penemuan ini menjadi spesies pertama dari genus Thermus yang dideskripsikan dari kawasan geotermal Indonesia. Nama “javaensis” diambil dari Pulau Jawa, lokasi tempat bakteri tersebut pertama kali ditemukan.
Bakteri Thermus javaensis ditemukan dari serasah daun di sekitar semburan geiser Cisolok yang bersuhu mencapai titik didih air (100°C).
Untuk dapat tumbuh di lingkungan seperti itu, mikroorganisme harus memiliki kemampuan adaptasi biologis yang tidak dimiliki kebanyakan makhluk hidup lain.
Bakteri ini diketahui mampu tumbuh di laboratorium pada suhu 45–80°C dengan suhu optimum 60–65°C. Secara morfologi, bakteri tersebut berpigmen kuning, bentuk sel batang, dan memiliki struktur unik bernama rotund bodies, yaitu bentuk bulat yang jarang ditemukan pada anggota genus Thermus.
Keberadaan struktur tersebut menarik perhatian peneliti karena sebelumnya juga pernah ditemukan pada Thermus aquaticus, bakteri terkenal penghasil enzim Taq polymerase yang menjadi dasar teknologi PCR—metode penting dalam diagnosis penyakit dan biologi molekuler modern.
Baca Juga: 8 Bahaya Konsumsi Ikan Sapu-sapu: Risiko Logam Berat dan Bakteri
Bagaimana Bakteri Thermus Javaensis Ditemukan?
Penemuan ini bukan hasil penelitian singkat. Eksplorasi mikroorganisme di kawasan geiser Cisolok telah dimulai sejak 2012, sementara pengambilan sampel untuk spesies ini dilakukan pada 2015.
Proses identifikasi berlangsung bertahun-tahun melalui tahapan isolasi mikroba, analisis genetik, whole genome sequencing (WGS), hingga karakterisasi biokimia dan mikroskopik di kampus UI maupun di berbagai laboratorium mitra internasional.
Menurut tim peneliti, salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan kultur bakteri termofilik tetap hidup selama proses penelitian karena mikroorganisme ini membutuhkan suhu tinggi dan medium khusus untuk tumbuh optimal.
Penetapan Thermus javaensis sebagai spesies baru dilakukan melalui pendekatan studi polifasik yang menggabungkan analisis genetik, fisiologi, biokimia, dan kemotaksonomi.
Hasil analisis menunjukkan bakteri ini berbeda secara signifikan dari spesies terdekatnya, baik pada tingkat genom maupun karakter biologis lainnya.
Perbedaan tersebut menegaskan bahwa mikroorganisme tersebut bukan sekadar varian, melainkan spesies baru yang sebelumnya belum pernah dideskripsikan di dunia ilmiah.
Dengan penemuan ini, jumlah spesies dalam genus Thermus kini bertambah menjadi 26 spesies sejak genus tersebut pertama kali diperkenalkan pada 1969.
Potensi untuk industri dan kesehatan
Selain penting bagi ilmu dasar mikrobiologi, Thermus javaensis juga dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan bioteknologi.
Analisis genom menunjukkan bakteri ini berpotensi menghasilkan enzim termostabil yang tahan panas dan dapat digunakan dalam proses industri bersuhu tinggi.
Peneliti juga menemukan indikasi adanya metabolit sekunder baru dari kelompok terpen yang berpotensi dikembangkan menjadi senyawa antibakteri, antijamur, anti inflamasi, hingga senyawa bioaktif lainnya.





