Panen Tembus 10 Ton per Hektare, Kementan Dorong Pemupukan Berimbang Pureplant Diperluas

Sukabumiupdate.com
Sabtu 19 Sep 2026, 11:26 WIB
Panen Tembus 10 Ton per Hektare, Kementan Dorong Pemupukan Berimbang Pureplant Diperluas

Panen raya demplot budidaya padi di Bantul dilaksanakan pada Selasa (15/9/2026). (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Demplot budidaya padi seluas 5 hektare yang dikelola Kelompok Tani Lestari Nogosari, Kelurahan Trirenggo, Kabupaten Bantul, mencatat hasil panen lebih dari 10 ton per hektare.

Capaian tersebut diperoleh melalui penerapan pola pemupukan berimbang dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia menjadi 70 persen dan mengombinasikannya dengan pupuk hayati cair (PHC) Pureplant sebanyak 6 liter per hektare.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gemah Ripah Kelurahan Trirenggo yang membina Kelompok Tani Lestari Nogosari, Sunarya, mengatakan penerapan pola tersebut menunjukkan hasil yang positif.
“Hasilnya bagus sekali, anakan mencapai 55 anakan dan bulirnya banyak,” ungkap Sunarya.

Berdasarkan laporan hasil panen Kelompok Tani Lestari Nogosari pada Kamis (17/9/2026), produktivitas tertinggi tercatat pada lahan dengan komposisi 70 persen pupuk sintetis dan tambahan PHC Pureplant, yakni mencapai 10.097 kilogram per hektare.

Sebagai pembanding, demplot dengan penggunaan 100 persen pupuk kimia tanpa tambahan pupuk hayati menghasilkan 6.624 kilogram per hektare. Sementara perlakuan 100 persen pupuk kimia yang ditambah PHC Pureplant menghasilkan 7.534 kilogram per hektare.

Baca Juga: Dugaan Pemerasan Kelompok Tani di Sukabumi, 2 Pria Ngaku LSM KPK Diciduk Polisi

Capaian 10,097 ton per hektare tersebut disebut meningkat sekitar 30 persen dibandingkan produktivitas padi yang selama ini berada di kisaran 7 ton per hektare di kawasan Trirenggo, Bantul.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, berharap pola budidaya tersebut dapat dikembangkan di wilayah lain. Menurutnya, peningkatan produktivitas di tingkat petani dapat turut mendorong produksi padi Kabupaten Bantul sehingga berpotensi memperkuat ketersediaan pangan daerah.

Diapresiasi Kementan

Program demplot dengan sistem pemupukan berimbang tersebut merupakan hasil kolaborasi pimpinan dan anggota Komisi IV DPR RI dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Direktorat Pembenihan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia (Persero), Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani), PT Intani Bumi Lestari, serta PT Indoraya Mitra Persada 168 selaku produsen pupuk hayati cair Pureplant dan pembenah tanah organik (PTO) HumicGen.

Demplot dikembangkan di tiga daerah, yakni Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta; Kabupaten Bandung, Jawa Barat; dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Masing-masing lokasi memiliki luas 5 hektare dengan total luasan mencapai 15 hektare.

Program tersebut diarahkan untuk mendukung swasembada pangan nasional secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.

Lokasi demplot merupakan wilayah binaan pimpinan dan anggota DPR RI Siti Hediati di Bantul, Panggah Susanto di Temanggung, serta Dadang Naseer di Kabupaten Bandung.

Baca Juga: Penonton Tinggalkan Venue Jelang Juicy Luicy Tampil di Sukabumi Viral

Panen raya demplot budidaya padi di Bantul dilaksanakan pada Selasa (15/9/2026). Kegiatan yang digelar bersama Gapoktan Gemah Ripah Trirenggo tersebut dihadiri sejumlah pihak, di antaranya Direktur Pembenihan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc., Direktur Pupuk Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Dr. Ir. Syamsudin, M.Sc., Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo, Manajer Senior Wilayah DIY-Jateng PT Pupuk Indonesia Jeff Narapati, Lurah Trirenggo Ernawati Kusumaningsih, Direktur Utama PT Indoraya Mitra Persada 168 Atik Chandra, serta Ketua Umum Intani sekaligus pendiri PT Intani Bumi Lestari, Guntur Subagja Mahardika.

Direktur Pupuk Kementerian Pertanian, Syamsudin, mengapresiasi kolaborasi penerapan pemupukan berimbang tersebut. Ia menilai peningkatan produktivitas hingga lebih dari 10 ton per hektare menjadi salah satu capaian yang menunjukkan adanya inovasi dalam budidaya padi.

“Saya mengapresiasi apa yang dilakukan Intani. Sangat baik dan terukur dalam program swasembada pangan berkelanjutan. Jarang demplot seperti ini yang bisa meningkatkan produktivitas,” ungkap Syamsudin.

Ia mengatakan penerapan inovasi dalam sistem budidaya yang mampu meningkatkan produksi hingga 10 ton per hektare sejalan dengan fokus pemerintah dalam meningkatkan produksi pertanian melalui program Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS).

Syamsudin juga menyampaikan pemerintah terus mendukung pemenuhan kebutuhan pupuk bagi petani. Ia menyebut kebutuhan pupuk yang disiapkan mencapai 18.713 ton yang terdiri atas urea dan NPK, dengan sekitar 62 persen di antaranya diserap petani padi.

Baca Juga: Kebakaran Hebat di Cibadak Sukabumi, 4 Rumah Ludes Saat Warga Terlelap

Menurut data yang disampaikannya, terdapat sekitar 14,6 juta petani dan sebanyak 10 juta petani di antaranya telah menebus pupuk bersubsidi.

Sementara itu, Direktur Pembenihan Kementerian Pertanian Ladiyani Retno Widowati mengatakan pihaknya mendukung program tersebut sejak awal, termasuk memfasilitasi penyediaan benih. Adapun dukungan pupuk kimia non-subsidi diberikan PT Pupuk Indonesia.

Ladiyani menegaskan penggunaan benih unggul yang dipadukan dengan pola pemupukan berimbang dapat membantu meningkatkan produktivitas tanaman.

Menurut dia, penerapan pupuk hayati cair juga dapat menjadi salah satu upaya untuk memperbaiki kondisi tanah pertanian yang mengalami degradasi.

“Pemilihan benih yang unggul dan pola pemupukan berimbang terbukti mampu meningkatkan produksi yang tinggi. Sistem ini juga mengatasi permasalahan tanah di Indonesia yang saat ini sebagian besar kritis, sehingga dengan aplikasi pupuk hayati cair kondisi tanah pertanian menjadi sehat kembali,” ujarnya.

Baca Juga: Puluhan Tahun Dinanti, Perbaikan Jalan Kabupaten di Citamiang Mulai Direalisasikan

Ia berharap pola tersebut dapat dikembangkan di wilayah lain untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan program swasembada pangan.

Tiga Tujuan Pemupukan Berimbang

Ketua Umum Intani Guntur Subagja Mahardika menjelaskan, penerapan sistem pemupukan berimbang yang memadukan pupuk sintetis dengan pupuk hayati cair Pureplant memiliki tiga tujuan utama.

Pertama, memperbaiki kondisi tanah pertanian yang mengalami kerusakan atau degradasi. Kedua, meningkatkan produktivitas pertanian. Ketiga, meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya produksi petani.

“Dengan tiga hal tersebut, otomatis pendapatan dan kesejahteraan petani akan meningkat. Sekadar ilustrasi, setiap kenaikan produksi satu ton per hektare, pendapatan petani bertambah sekitar Rp7 juta. Di Bantul kenaikannya bisa mencapai tiga ton,” ujar Guntur.

Berita Terkait
Berita Terkini