Inflasi Kota Sukabumi Juli 2026 Cuma 2,47 Persen, Lebih Rendah dari Provinsi dan Nasional

Sukabumiupdate.com
Rabu 12 Agu 2026, 22:47 WIB
Inflasi Kota Sukabumi Juli 2026 Cuma 2,47 Persen, Lebih Rendah dari Provinsi dan Nasional

Inflasi Kota Sukabumi Juli 2026 Lebih Rendah dari Jabar dan Nasional, Harga Pangan Tetap Terkendali. (Sumber : Istimewa.)

SUKABUMIUPDATE.com - Pengendalian inflasi di Kota Sukabumi menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 3 Agustus 2026, inflasi tahunan (year-on-year/y-o-y) Kota Sukabumi pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,47 persen.

Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Capaian inflasi Kota Sukabumi juga tercatat lebih rendah dibandingkan Jawa Barat yang berada di angka 2,72 persen dan nasional sebesar 2,88 persen.

Sementara secara bulanan (month-to-month/m-t-m), Kota Sukabumi justru mencatatkan deflasi sebesar 0,02 persen pada Juli 2026.

Pergerakan inflasi tersebut tidak terlepas dari dinamika harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Secara umum, terdapat tiga komponen utama yang menjadi indikator dalam melihat perkembangan inflasi, yakni inflasi inti, harga yang diatur pemerintah, dan harga pangan bergejolak.

Baca Juga: Bocah Selamat Usai Terpental, Sedan Toyota Corolla DX Hantam 6 Motor di Tamkot Karangtengah Sukabumi

Pada komponen inflasi inti (core inflation), tekanan harga pada Juli 2026 antara lain dipengaruhi momentum tahun ajaran baru. Penyesuaian biaya pendidikan, seperti jenjang SD, SMP hingga bimbingan belajar, turut memberikan andil terhadap inflasi.

Selain itu, pergerakan harga emas perhiasan dan tarif kontrak rumah juga menjadi faktor yang memengaruhi inflasi inti di Kota Sukabumi.

Sementara pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), tekanan inflasi berasal dari penyesuaian harga bensin serta tarif cukai sejumlah produk rokok, khususnya sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT).

Adapun kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) relatif terkendali. Komoditas pangan strategis seperti daging ayam ras, minyak goreng serta sejumlah komoditas hortikultura, di antaranya wortel, jengkol dan ketimun, masih berada dalam batas kewajaran.

Baca Juga: Kasus Narkoba Kades Tamanjaya Sukabumi, BPD Belum Berani Usulkan Pemberhentian

Bahkan, harga daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami penurunan pada Juli 2026. Kondisi tersebut sejalan dengan melandainya permintaan selama masa libur sekolah serta belum beroperasinya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemerintah Kota Sukabumi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) pun terus memperkuat koordinasi lintas instansi untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gejolak harga pangan strategis, sekaligus menjaga daya beli masyarakat hingga akhir tahun.

Pemerintah berharap stabilitas harga yang terjaga dapat memberikan dampak positif terhadap daya beli warga Kota Sukabumi serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (adv)

 

Berita Terkait
Berita Terkini