SUKABUMIUPDATE.com - Berangkat dari jejak sejarah sepak bola di Indonesia, khususnya di tanah Sunda, istilah “bal” dikenal sebagai kata dari bahasa Belanda yang berarti bola, sementara “maen” berarti bermain. Dari perpaduan sederhana tersebut lahirlah nama MAENBAL—sebuah gagasan yang membawa kembali semangat bermain sepak bola ke ruang-ruang yang dekat dengan masyarakat.
Inisiatif kolaboratif yang digagas oleh HITS Society × HITS Sukabumi ini lahir dari kepedulian terhadap perkembangan olahraga di tingkat akar rumput (grassroots). Liga MAENBAL dihadirkan tidak sekadar sebagai turnamen, melainkan sebagai wadah pembentukan karakter dan ruang tumbuh yang inklusif bagi generasi muda.
Melalui kegiatan ini, lapangan-lapangan kecil di pelosok pemukiman kembali dipenuhi gelak tawa anak-anak yang berlari mengejar bola, sorak-sorai orang tua di pinggir lapangan, serta hangatnya kebersamaan antarwarga.
"Lebih dari sekadar kompetisi, MAENBAL ingin menghidupkan kembali pengalaman sederhana yang membuat sepak bola begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. MAENBAL hadir bukan sekadar sebagai sebuah event sepak bola, tetapi sebagai upaya untuk menumbuhkan cerita baru dan menciptakan kenangan yang akan dibawa pulang oleh setiap orang yang terlibat," kata Fajar F. Wijaya penggagas/penanggung jawab utama Liga MAENBAL dalam press release yang diterima sukabumiupdate.com, Minggu (27/9/2026).
Liga MAENBAL mengusung semangat kesetaraan. Bagi penggagasnya, sepak bola adalah milik bersama yang tidak boleh dibatasi oleh status sosial, latar belakang ekonomi, maupun garis keturunan.
Kegiatan ini juga memegang teguh keyakinan bahwa cerita-cerita besar dalam dunia sepak bola tidak selalu lahir dari stadion megah bermodal fantastis, melainkan dari tanah-tanah lapang sederhana di sekitar pemukiman warga.
"Kami percaya bahwa banyak cerita besar dalam sepak bola justru lahir dari tempat-tempat sederhana: lapangan kecil, lingkungan tempat tinggal, teman-teman sebaya, dan dukungan masyarakat sekitar. Melalui MAENBAL, kami ingin menghadirkan kegiatan sepak bola yang sederhana, dekat dengan masyarakat, dan terbuka bagi anak-anak. Sepak bola tidak melihat siapa kamu, dari mana kamu berasal, bagaimana kondisi ekonomimu, maupun warna kulitmu. Selama ada kemauan untuk bermain, semua orang memiliki tempat di lapangan," tuturnya.
Dalam campaign Liga MAENBAL, lanjut Fajar, Panitia penyelenggara juga senantiasa membuka ruang kolaborasi dengan berbagai elemen lokal. Mulai dari musisi lokal, seniman lokal, hingga pemuda-pemudi setempat dan karang taruna di setiap wilayah yang dikunjungi. Kolaborasi ini menjadi bagian penting untuk membuat MAENBAL tidak hanya hadir sebagai pertandingan, tetapi juga sebagai ruang bertemunya olahraga, kreativitas, dan masyarakat.

TUJUAN UTAMA LIGA MAENBAL
• Memberikan kesempatan bermain bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas olahraga.
• Menghidupkan kembali budaya bermain sepak bola di lingkungan masyarakat.
• Mendorong pemanfaatan ruang terbuka dan lahan sederhana sebagai ruang aktivitas positif.
• Menjauhkan anak dan remaja dari aktivitas negatif melalui kegiatan olahraga.
• Membangun ekosistem sepak bola akar rumput yang dekat dengan masyarakat.
"Bagi kami, lapangan bukan hanya tempat pertandingan. Lapangan adalah ruang bertemu, ruang belajar, ruang berekspresi, dan ruang bagi anak-anak untuk tumbuh. Karena itu, Liga MAENBAL ingin terus bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya, menghadirkan energi positif dan mempertemukan lebih banyak orang melalui sepak bola," ujar Fajar.
Fajar berharap semakin banyak pihak dapat menjadi bagian dari campaign Liga MAENBAL—baik masyarakat, komunitas, pelaku usaha, kreator, musisi, seniman, pemuda, karang taruna, maupun berbagai pihak yang memiliki semangat yang sama untuk menghadirkan ruang olahraga yang inklusif dan positif bagi masyarakat.
"Salam Liga MAENBAL. Karena cerita besar bisa dimulai dari lapangan kecil," pungkasnya. (adv)










