SUKABUMIUPDATE.com - Supriyanto, 39 tahun, yang mengaku pawang buaya tewas dimangsa oleh buaya Muara Jawa Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Jumat 8 September 2017 lalu. Tubuhnya diseret ke dasar sungai Muara Jawa. Masyarakat yang menyaksikan insiden ini merekam dan kini videonya viral di media sosial.
“Supriyanto menjadi korban kedua diseret buaya muara pada saat itu,†kata Kepala Polsek Sektor Muara Jawa Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, Ajun Komisaris Triyanto SIK, Senin, 18 September 2017.
Triyanto mengatakan, korban ini sebenarnya berupaya ikut membantu pencarian korban pertama atas nama Arjuna yang hilang di lokasi sama. Mengaku punya kelebihan supranatural indra ke enam, dia menyebutkan, Supriyanto bertekat menyelam dasar sungai guna mencari keberadaan korban.
“Pada saat korban pertama hilang, Supriyanto mengaku akan mencari korban di dasar sungai. Katanya, dia punya indra ke enam dan kelebihan sehingga sukarela mencari korban pertama ini,†paparnya.
Namun kala itu, Triyanto tegas melarang korban yang sudah berancang ancang terjun ke dalam sungai Muara Jawa. Polisi enggan menanggung resiko adanya korban kedua serangan buaya Muara Jawa.
“Pada hari pertama sudah kami larang untuk mencari dalam sungai,†ujarnya.
Esok harinya, Triyanto menyebutkan, korban ini nekat dengan menjeburkan badannya di lokasi kejadian serangan buaya pertama. Saat itu, Polisi dan tim SAR sedang sibuk mencari jasad korban pertama.
“Esok harinya saat tidak ada yang mengawasi, dia terjun ke dalam sungai hingga kami menerima laporan tubuhnya juga tidak ditemukan,†ungkapnya.
Triyanto menyesalkan kenekatan Supriyanto pada ujungnya berdampak fatal serta menjadi korban keganasan buaya muara. Apalagi belakangan, Supriyanto bukanlah pawang buaya melainkan dukun kuda lumping jalanan. “Mengaku punya kelebihan, indra ke enam sehingga membantu korban,†paparnya.
Mayat Supriyanto dan Arjuna ditemukan sekitar 10 meter dari tempat mereka dimangsa buaya di dermaga Jeti perahu di Muara Jawa Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Korban Arjuna ditemukan mengambang berjarak 10 meter dari lokasi serangan buaya, pada Sabtu 16 September 2017 lalu) pukul 00.45 Wita. Mayat korban terdapat luka di sekitar area wajah dan tangan kanannya.
Adapun Supriyanto mengalami luka robek gigitan kaki kirinya berikut wajahnya. Kedua korban meninggal akibat lemas setelah diseret ke dalam sungai di Muara Jawa yang mencapai 5 meter dasarnya.
Mereka ini korban keganasan buaya muara yang kerap didapati sekitar wilayah ini. Sungai sungai di Kutai Kartanegara memang sudah terkenal dengan keberadaan buaya air payau yang acap kali menerkam ternak hingga manusia.
Saat ini, Polisi sudah memulangkan kedua mayat korban agar dikebumikan keluarganya masing masing di Anggana dan Muara. Polisi juga membentangkan garis polisi agar warga menjauhi lokasi serangan buaya terhadap manusia di Muara Jawa.
“Masyarakat hingga kini masih memadati lokasi terjadinya serangan buaya. Kami batasi agar mereka tidak terlalu mendekat,†paparnya.
Triyanto menghimbau warga agar hati hati kala beraktivitas di sekitar area sungai Muara Jawa yang menjadi sarang buaya. Polisi juga tidak bisa memburu buaya di kawasan tersebut yang dianggap meresahkan warga.
“Kami hanya bisa menghimbau warga agar hati hati di kawasan tersebut. Apalagi buaya juga termasuk satwa yang dilindungi sehingga tidak serta merta diburu. Disitu juga sudah menjadi habitat alam buaya muara,†ujarnya.
Segenap warganet sempat digemparkan video korban keganasan buaya di Sungai Muara Jawa Kutai Kartanegara. Sosok korban yang belakangan diketahui bernama Supriyadi sempat melakukan ritual aneh sebelum akhirnya diseret ke dalam sungai. Supriyadi sebelumnya mengaku sebagai pawang buaya. Ia menjadi korban kedua buaya muara di sungai tersebut.
Sumber: Tempo