SUKABUMIUPDATE.COM - Anomali cuaca yang cukup ekstrem terjadi di sejumlah daerah di Indonesia tahun 2016 menyebabkan terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Akibatnya pada bulan di saat seharusnya tak terjadi musim hujan, di beberapa daerah justru terjadi musim hujan sehingga menimbulkan bencana seperti tanah longsor dan banjir, Sabtu (29/10).
Banjir yang tak biasa misalnya, terjadi di ruas Jalan Pasteur, Kota Bandung, Senin (24/10), akibat hujan besar selama beberapa jam yakni dari sekitar pukul 11.30 sampai 13.30 WIB.
Mengingat banjir di Jalan Pasteur tak pernah terjadi, kejadian itu menjadi trending topic Twitter Indonesia yang bisa mencapai lebih 2.564 cuitan. Sejumlah netizen menginformasikan tentang banjir di Jalan Pasteur Kota Bandung.
"Hati2 belakang mall BTC Pasteur Bandung banjir. Lalin macet", cuit pemilik akun twitter@GalihTakayuki.
"Semoga gak ada korban jiwa dengan musibah Banjir Pasteur ini #PrayForBandung", cuit pemilik akun twitter @_aih.
"Telah dibuka. hari ini. Kolam renang pasteur =( =(", cuit pemilik akun twitter @MandaOctaviani.
Dari sisi ekonomi, cuaca ekstrem juga mempengaruhi harga sejumlah kebutuhan pokok karena mengganggu produksi serta distribusi sehingga mendorong kenaikan harga dan kelangkaan stok.
Pemerintah saat ini mewaspadai adanya lonjakan harga komoditas kebutuhan pokok khususnya untuk cabai merah besar, dengan harga rata-rata tingkat nasional menyentuh Rp50.100 per kilogram dan lebih tinggi di pasar konsumen.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan pada dasarnya kondisi untuk harga kebutuhan pangan pokok relatif stabil, namun yang menjadi pantauan adalah untuk cabai merah. Bahkan di daerah tertentu mengalami kenaikan cukup drastis.
Beberapa wilayah yang mengalami kenaikan harga tertinggi adalah Sumatera Utara dan Aceh. Berdasarkan informasi dari Kementerian Pertanian, sesungguhnya stok cabai masih mencukupi, namun para petani enggan memetik dikarenakan curah hujan yang tinggi dan akan menyebabkan komoditas tersebut cepat busuk.
Di daerah tertentu naiknya cukup drastis, dan setelah kita konfirmasi ke Kementerian Pertanian, bukan dikarenakan tidak ada stoknya, sebenarnya masih banyak. Namun, cabai tersebut tidak dipanen karena curah hujan tinggi, dan jika dipanen akan busuk sehingga petani tidak mau memanen dan dibiarkan saja.
Dengan adanya kendala curah hujan yang tinggi dan petani enggan untuk memanen cabai tersebut, maka pasokan cabai merah itu tidak bisa dialokasikan ke daerah-daerah yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi, sehingga seolah-olah stok cabai tidak tersedia.
Panen sebetulnya tidak masalah, akan tetapi petani tidak mau memanen karena begitu dipetik cabai akan busuk. Karena curah hujan tinggi, dan berdasarkan Kementerian Pertanian, petani tidak mau memetik. Sehingga saat akan dialokasikan ke daerah yang mengalami kenaikan harga seolah-olah stok tidak ada.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut ada baiknya harus tetap diwaspadai mengingat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca ekstrem masih dapat terjadi hingga awal 2017 karena masih aktifnya angin Monsun dingin Asia dan sejumlah faktor lainnya.
Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan dengan potensi interaksi antara Monsun dingin Asia, Dipole Mode, dan kondisi cuaca regional diperkirakan kejadian cuaca ekstrem masih dapat terjadi hingga awal 2017.
Aktifnya Monsun (angin yang berhembus secara periodik, minimal tiga bulan dan antara periode yang satu dengan yang lain polanya akan berlawanan) dingin Asia pada akhir bulan November 2016, intensitas hujan akan meningkat di beberapa kawasan sekitar Indonesia.
Cuaca ekstrem yang terjadi dipicu oleh pertumbuhan awan konvektif lokal yang signifikan. Hal tersebut terjadi karena kondisi atmosfer yang tidak stabil akibat masih hangatnya suhu muka laut, kelembaban udara tinggi, pertemuan dan belokan angin dan perlambatan kecepatan angin.
Banjir yang terjadi di Garut pada 21 September 2016, banjir di Bandung pada 24 Oktober 2016 dan banjir yang melanda Gorontalo pada 26 Oktober 2016 merupakan dampak dari cuaca ekstrem tersebut.
Kalau dilihat secara rinci maka kejadian itu terjadi karena kaitan dengan La Nina (kondisi dimana suhu permukaan air laut di kawasan Timur Equador atau di lautan Pasifik mengalami penurunan), Dipole Mode (penambahan massa uap air dari Samudera Hindia ke wilayah Indonesia bagian Barat) dan monsun.
Meski dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi di kawasan regional tersebut namun sifatnya hanya lokal sehingga intensitas hujan tinggi hanya terjadi di lokasi banjir.
Kondisi itu juga terjadi juga dipengaruhi perlambatan angin yang mendukung adanya pasokan uap air terkait suhu muka laut yang tinggi di selatan Pulau Jawa dan angin yang bergerak ke utara kemudian perlambatan ke daerah Garut.
Perlambatan ini yang kemudian membuat kondisi atmosfer labil dan menjadikan intensitas hujan tinggi sekali dan itu kemungkinan berulang di Bandung dan Gorontalo.
Puncak hujan BMKG juga memprakirakan puncak musim hujan akan terjadi pada Januari-Februari 2017 terutama di Jakarta.
Musim hujan tahun ini dapat dikatakan 50 persen normal, namun karena dipengaruhi beberapa faktor di regional antara lain Dipole Mode (penambahan massa uap air dari Samudera Hindia ke wilayah Indonesia bagian Barat), maka terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Selain itu juga dipengaruhi dengan La Nina (kondisi dimana suhu permukaan air laut di kawasan Timur Equador atau di lautan Pasifik mengalami penurunan) meski dampaknya tidak intens. Di samping itu, pengaruh suhu muka laut yang masih panas menyebabkan massa uap air sangat tinggi.
Berbanding dengan itu ada pergerakan monsun (angin yang berhembus secara periodik, minimal tiga bulan dan antara periode yang satu dengan yang lain polanya akan berlawanan), kemudian juga ada badai tropis dan tekanan rendah yang terjadi di regional.
Prediksi BMKG meski puncak musim hujan Januari-Februari, namun awal 2017 kurang basah dibandingkan puncak musim hujan pada awal 2016. Kecenderungan musim penghujan ini durasi hujan akan memanjang.
Hujan mungkin tidak seintens saat beberapa waktu lalu, tapi karena durasi yang panjang memasuki musim hujan akan memicu akumulasi hujan yang turun dan kecenderungan tanah juga jenuh sehingga tidak semua air tertampung.
Kondisi lingkungan turut mempengaruhi misalnya daya dukung lingkungan, kerusakan daerah aliran sungai dan lainnya akan sangat mempengaruhi dan berdampak pada kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Untuk itu diimbau kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kemungkinan bencana alam tersebut sehingga dapat mengurangi korban jiwa.
