Negeri Para Mullah, Iran, secara geologis adalah sebuah "remukan" raksasa yg terjepit di antara dua kekuatan besar dunia: Lempeng Arab di selatan dan Lempeng Eurasia di utara.
Bayangkan sebuah kacang kulit yg ditekan oleh dua telapak tangan; Iran adalah kacang kulit yang retak-retak di tengahnya. Lempeng Arab terus merangsek ke arah utara dengan kecepatan sekitar 2 cm per tahun, memaksa kerak bumi Iran untuk terus melipat, patah, dan terangkat menjadi rangkaian pegunungan yang megah sekaligus mematikan.
Sumber gempa utama di Iran terbagi dalam 3 wilayah besar yg masing-masing memiliki karakter unik. Di sisi barat daya, terdapat Sabuk Lipatan dan Sesar Naik Zagros yg membentang sepanjang perbatasan Irak hingga Teluk Persia.
Baca Juga: Matangkan RKPD 2027, Bapperida Sukabumi Sinkronkan Arah Pembangunan Daerah
Wilayah ini adalah salah satu zona paling aktif secara seismik di dunia, di mana gempa-gempa dangkal sering tjd akibat proses penunjaman. Bergeser ke utara, Pegunungan Alborz yg memagari Teheran mjd ancaman nyata dgn sistem sesar mendatar dan naiknya yg kompleks, siap mengguncang pusat peradaban kapan saja.
Sementara itu, di bagian tengah dan timur, daratan Iran dicabik-cabik oleh patahan-patahan besar seperti Sesar Nayband, Sesar Dasht-e Bayaz, dan Sesar Gowk yg membelah gurun dan dataran tinggi.
Namun, jika harus menunjuk siapa yang "paling galak" dan destruktif, predikat itu seringkali jatuh pada sistem sesar di wilayah Iran Tengah dan Timur, serta zona subduksi Makran di tenggara.
Baca Juga: Sopir Ungkap Kronologi Tabrakan Ambulans Baznas dan Pick Up di Cikembar Sukabumi
Meskipun Zagros paling sering "batuk" dengan gempa-gempa kecil hingga menengah, sesar-sesar di Iran Tengah seperti Sesar Bam memiliki sejarah kelam yg meratakan kota bersejarah dan menelan puluhan ribu jiwa dlm sekejap krn karakteristik gempanya yg sangat dangkal di bawah pemukiman padat.
Tak kalah mengerikan, zona subduksi Makran di lepas pantai selatan menyimpan potensi gempa megathrust yg mampu memicu tsunami besar, menjadikannya raksasa tidur yg paling diwaspadai oleh para ahli seismologi krn kekuatannya yg bisa melampaui magnitudo M8,0.*
Penulis: Daryono Perwira Sakti, Peneliti Gempa




