SUKABUMIUPDATE.com - Salam tiga jari atau three-finger salute kini dikenal sebagai salah satu simbol perlawanan dan solidaritas dalam berbagai aksi protes di dunia.
Gestur yang awalnya populer melalui film The Hunger Games tersebut mulai digunakan dalam gerakan sosial dan politik, terutama setelah kudeta militer di Thailand pada 2014.
Sejak saat itu, salam tiga jari muncul dalam sejumlah peristiwa penting, mulai dari gerakan pro-demokrasi di Hong Kong, aksi penolakan kudeta militer di Myanmar pada 2021, hingga aksi 28 Oktober 2026 di sejumlah kota di Indonesia.
Penyebarannya menunjukkan bagaimana sebuah simbol dari karya fiksi dapat berkembang menjadi bahasa perlawanan yang dikenal lintas negara.
Baca Juga: D'MASIV Ganti Promotor Tur Asia Home Run, dari RANS Entertainment ke Antara Suara
Menariknya, salam tiga jari juga sempat mendapat respons keras dari aparat di sejumlah negara, sehingga keberadaannya semakin dikenal sebagai simbol perlawanan.
Berikut sejumlah peristiwa penting yang membawa salam tiga jari dari layar film ke jalanan dunia nyata dikutip dari berbagai sumber.
1. Kudeta militer Thailand pada 2014
Peristiwa yang menjadi titik awal populernya salam tiga jari sebagai simbol protes terjadi di Thailand. Pada 22 Mei 2014, militer Thailand mengambil alih kekuasaan melalui kudeta yang dipimpin Jenderal Prayuth Chan-ocha.
Kudeta tersebut memicu penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa dan aktivis pro-demokrasi. Setelah pengambilalihan kekuasaan, militer memberlakukan pembatasan terhadap kegiatan demonstrasi.
Dalam situasi tersebut, para aktivis mulai menggunakan berbagai bentuk protes simbolis untuk menyampaikan penolakan tanpa harus menggelar demonstrasi besar.
Baca Juga: Cara Membedakan Uang Asli dan Palsu, Kenali Ciri-Cirinya Sebelum Tertipu
Pada 1 Juni 2014, salam tiga jari mulai terlihat dalam aksi-aksi kecil di Bangkok, antara lain di kawasan pusat perbelanjaan Terminal 21, dekat Bangkok Art and Culture Centre, dan lingkungan Universitas Thammasat.
Gestur itu terinspirasi dari film The Hunger Games yang saat itu juga sedang populer. Foto-foto demonstran yang mengangkat tiga jari kemudian menyebar luas di media sosial.
Menariknya, pemerintah militer Thailand merespons penggunaan simbol tersebut dengan tindakan penertiban. Sejumlah orang yang mengangkat tiga jari ditahan, sementara pemutaran film The Hunger Games: Mockingjay Part 1 juga sempat dibatalkan karena kekhawatiran simbol perlawanan dalam film itu digunakan dalam aksi politik.
2. Gerakan Umbrella Movement di Hong Kong pada 2014
Masih pada tahun yang sama, salam tiga jari juga muncul dalam gerakan pro-demokrasi di Hong Kong yang dikenal sebagai Umbrella Movement atau Gerakan Payung.
Gerakan ini berlangsung pada September hingga Desember 2014. Aksi tersebut dipicu oleh ketidakpuasan terhadap keputusan pemerintah China mengenai mekanisme pemilihan kepala eksekutif Hong Kong.
Para demonstran menuntut pemilihan yang lebih demokratis dan kebebasan menentukan pemimpin mereka. Di tengah aksi pendudukan jalanan yang berlangsung selama berminggu-minggu, sebagian demonstran menggunakan salam tiga jari sebagai simbol solidaritas dan perlawanan.
Meski bukan simbol utama gerakan tersebut karena payung lebih dikenal sebagai lambang perlindungannya, kehadiran salam tiga jari memperlihatkan penyebaran simbol dari The Hunger Games ke gerakan pro-demokrasi di luar Thailand.
3. Gelombang demonstrasi Thailand pada 2020–2021
Setelah sempat meredup, salam tiga jari kembali ramai digunakan dalam demonstrasi di Thailand pada 2020–2021.
Gelombang demonstrasi tersebut melibatkan banyak anak muda dan mahasiswa. Mereka menyuarakan sejumlah tuntutan, antara lain pembubaran parlemen, perubahan konstitusi, serta reformasi terhadap institusi kerajaan.
Dalam aksi-aksi tersebut, salam tiga jari kembali diangkat oleh para demonstran. Gestur ini tidak hanya mengingatkan masyarakat pada gerakan anti kudeta 2014, tetapi juga menjadi simbol penolakan terhadap dominasi militer dalam kehidupan politik Thailand.
Pada periode ini, makna salam tiga jari semakin luas. Sebagian demonstran menghubungkannya dengan tiga nilai yang dikenal dalam Revolusi Prancis, yaitu kebebasan (liberty), kesetaraan (equality), dan persaudaraan (fraternity).
4. Kudeta militer Myanmar pada 2021
Peristiwa lain yang membuat salam tiga jari semakin dikenal secara internasional terjadi di Myanmar pada Februari 2021. Pada 1 Februari 2021, militer Myanmar mengambil alih kekuasaan dan menahan sejumlah pemimpin pemerintahan sipil, termasuk Aung San Suu Kyi.
Pengambilalihan kekuasaan tersebut memicu demonstrasi besar-besaran dan gerakan pembangkangan sipil atau Civil Disobedience Movement.
Dalam aksi penolakan kudeta, salam tiga jari digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Salah satu momen yang menarik perhatian dunia adalah ketika tenaga medis di Yangon mengangkat tiga jari sebagai bentuk penolakan terhadap pengambilalihan kekuasaan oleh militer.
Gestur serupa kemudian dilakukan oleh tenaga pengajar, mahasiswa, pegawai pemerintahan, hingga masyarakat umum. Foto-foto mereka yang mengangkat tiga jari menyebar luas melalui media sosial dan pemberitaan internasional.
Penggunaan salam tiga jari di Myanmar juga memperlihatkan bagaimana simbol yang sebelumnya populer di Thailand dapat menyebar ke negara tetangga.
Gestur tersebut menjadi tanda solidaritas lintas negara bagi kelompok-kelompok yang menentang kekuasaan militer.
5. Gerakan solidaritas lintas negara melalui Milk Tea Alliance
Penyebaran salam tiga jari juga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan solidaritas aktivis muda di Asia yang dikenal sebagai Milk Tea Alliance.
Istilah ini merujuk pada jaringan solidaritas daring yang berkembang sekitar 2020 dan melibatkan warganet serta aktivis dari sejumlah wilayah, termasuk Hong Kong, Taiwan, dan Thailand.
Nama tersebut terinspirasi dari budaya minum teh susu yang populer di wilayah-wilayah tersebut. Melalui media sosial, kelompok-kelompok ini saling menyebarkan informasi, simbol, dan pesan solidaritas terkait berbagai persoalan demokrasi dan kebebasan sipil.
Salam tiga jari menjadi salah satu simbol yang mudah dikenali dalam jaringan tersebut. Penggunaannya menunjukkan bahwa sebuah gestur yang berasal dari film dapat melampaui batas negara dan memperoleh makna baru sesuai dengan situasi politik masyarakat yang menggunakannya.
6. Aksi 28 Oktober 2026 di Indonesia
Aksi di Indonesia ini dikabarkan diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) dan sejumlah elemen masyarakat sipil.
Dalam demonstrasi itu, para peserta terlihat mengacungkan tiga jari, yakni telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Simbol tersebut juga ditampilkan dalam spanduk berukuran besar yang dibawa massa aksi.
Salam tiga jari dalam aksi tersebut memiliki kepanjangan pesan "Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan."
Slogan itu menggambarkan keresahan peserta aksi terhadap berbagai persoalan yang mereka soroti, mulai dari kondisi ekonomi, kerusakan lingkungan, hingga kebijakan pemerintah.
Salah satu momen menarik dalam aksi tersebut adalah ketika para mahasiswa mengucapkan ikrar Sumpah Pemuda sambil mengangkat tiga jari. Para peserta membacakan tiga ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, yakni Indonesia.
Momen ini mempertemukan dua simbol yang memiliki latar belakang berbeda: Sumpah Pemuda sebagai tonggak persatuan bangsa Indonesia dan salam tiga jari sebagai gestur yang populer dalam gerakan protes internasional.













