SUKABUMIUPDATE.com – Keberadaan pedagang kaki lima (PKL), kios, hingga aktivitas usaha yang menggunakan trotoar di Jalan Sudirman, Kota Sukabumi, dikeluhkan pejalan kaki. Kondisi tersebut dinilai mengganggu fungsi trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi pejalan kaki.
Muhammad Fadhli, salah seorang pengguna trotoar Jalan Sudirman, mengaku merasa terganggu karena sebagian trotoar digunakan untuk berbagai aktivitas usaha. Kondisi itu membuat ruang berjalan kaki semakin sempit, bahkan di sejumlah titik pejalan kaki terpaksa turun ke badan jalan.
Menurut Fadhli, trotoar semestinya benar-benar dikhususkan bagi pejalan kaki sehingga masyarakat dapat berjalan dengan aman dan nyaman tanpa harus berhadapan dengan kendaraan yang melintas di jalan.
"Trotoar itu harusnya nyaman, aman dan benar-benar dikhususkan untuk pejalan kaki, masa di trotoar ada bengkel motor, kios, PKL dan lain lain yang sampai menutup setengah bahkan ada yang full jadi pejalan kaki secara gak langsung diseret ke tepi atau tengah jalan," kata Fadhli kepada sukabumiupdate.com.
Baca Juga: BGN Keluarkan 80 Sekolah Elite dari Penerima MBG, Temukan 6 Juta Data Tumpang Tindih
Ia menilai persoalan penggunaan trotoar oleh PKL dan pelaku usaha bukan persoalan baru. Karena itu, Fadhli mempertanyakan langkah Pemerintah Kota Sukabumi dalam menangani persoalan tersebut.
"harusnya pemkot itu gerak cepat mengurus masalah beginian, saya yakin bukan setahun dua tahun praktik ini berjalan masa belum ada solusi," ujarnya.
Fadhli menilai pemerintah sebenarnya dapat mencari solusi dengan melakukan penataan maupun menyediakan lokasi alternatif bagi para pedagang. Menurutnya, relokasi dapat dilakukan ke tempat yang lebih layak dan sesuai dengan fungsi ruang publik.
"kan bisa mereka dipindah atau disediakan tempat yang layak dan lebih sesuai kayak di terminal lama degung," katanya.
Selain persoalan trotoar, Fadhli menyoroti kondisi Kota Sukabumi secara umum. Menurutnya, perkembangan kota yang semakin ramai harus diikuti dengan pembenahan tata ruang, kebersihan, penerangan, hingga pengelolaan aktivitas usaha.
Baca Juga: Setelah 2 Tahun Vakum, Pacu Dayung Sungai Cikaso Kembali, Ini Daftar Pemenangnya
Ia melihat Sukabumi kini mulai mendapat perhatian dari masyarakat luar daerah, termasuk para kreator konten yang datang untuk berwisata, mencicipi kuliner, maupun sekadar melintas.
"sukabumi ini udah mulai rame jadi tempat kunjungan selebgram atau tiktoker yang entah cuma traveling, kulineran atau sekadar lewat harusnya dari sini pemkot bisa ngambil kesempatan untuk benahi sukabumi biar makin maju, rapi dan tertib," tuturnya.
Fadhli mengakui penataan kota membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Namun, ia menilai pemerintah memiliki peran yang lebih besar karena mempunyai kewenangan dalam membuat kebijakan sekaligus menegakkan aturan.
"memang harus ada kerja sama antara masyarakat dengan pemkot, tapi saya akan lebih menekankan peran pemkotnya disini karena bagaimanapun mereka yang mengatur dan punya kapasitas untuk membuat kebijakan aturan," ucapnya.
Menurut Fadhli, pembangunan dan pelebaran trotoar seharusnya memberikan manfaat langsung bagi pejalan kaki. Namun, pada praktiknya, trotoar justru kembali dimanfaatkan sebagai lokasi berjualan maupun tempat berkumpul.
"Trotoar dibagusin, dilebarin malah dipake sama PKL untuk tempat jualan & nongkrong cafe jadi pejalan kaki yang harus ngalah," katanya.
Baca Juga: Tiga Kios di Jalan Pelabuhan II Sukabumi Terbakar Hebat, Kerugian Ditaksir Rp100 Juta
Ia juga menilai masih banyak persoalan yang perlu dibenahi agar Kota Sukabumi menjadi kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki. Selain trotoar yang digunakan PKL, ia menyoroti keberadaan kafe yang menggunakan area pinggir jalan sebagai tempat parkir hingga berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas.
"banyak banget yang harus dibenahi sukabumi ga ramah bagi pejalan kaki, sukabumi sekarang semrawut cafe tapi parkir nya di pinggir jalan jadi bikin macet dan trotoar dipakai PKL, sampah dimana mana, malam minim penerangan jadi keliatan kumuh padahal wisatawan lagi interest banget sama sukabumi," ujarnya.
Fadhli juga mempertanyakan peran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Sukabumi dalam melakukan penertiban terhadap PKL yang menggunakan trotoar.
Menurutnya, penertiban perlu dilakukan secara konsisten agar persoalan yang sama tidak terus berulang. Ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan penertiban sesaat, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat memberikan kepastian bagi pedagang sekaligus mengembalikan fungsi trotoar kepada pejalan kaki.
Baca Juga: Karhutla Melanda Bukit Cipait Karangpara Sukabumi, Api Merembet Dekati Pemukiman Warga
"Dan disini juga saya menanyakan peran kinerja dari satpol pp kota sukabumi kenapa tidak selalu ditertibkan ?, masalah pkl yang memakai trotoar untuk tempat berjualan masih saja terulang terjadi kayak belum ada solusi nya," kata Fadhli.
Ia berharap Pemkot Sukabumi segera mengambil langkah konkret untuk menata penggunaan trotoar, menyediakan ruang usaha yang lebih sesuai bagi PKL, serta memastikan fasilitas pejalan kaki benar-benar dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Bagi Fadhli, trotoar bukan sekadar bagian dari pembangunan fisik kota, melainkan fasilitas publik yang menyangkut hak masyarakat untuk berjalan dengan aman, nyaman, dan terlindungi dari risiko kendaraan.













