SUKABUMIUPDATE.com - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusa Putra University menggelar Advocacy Lab 2026, program pelatihan yang bertujuan meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam bidang advokasi dan pengelolaan organisasi.
Mengusung tema "Beyond Protest, Advocacy Skill for Future Leaders", kegiatan ini menekankan pentingnya keterampilan advokasi sebagai bekal bagi mahasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan yang mampu menghadirkan solusi, bukan sekadar menyuarakan aspirasi.
Kegiatan tersebut diikuti delegasi dari seluruh organisasi mahasiswa di Nusa Putra University. Setiap organisasi mengirimkan ketua, kepala divisi advokasi, dan kepala divisi pengkaderan, baik dari himpunan mahasiswa setiap program studi maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Ketua Pelaksana Advocacy Lab, Muhammad Faisal, mengatakan pelatihan ini dirancang sebagai laboratorium keilmuan yang mengombinasikan pemahaman tentang advokasi dengan kemampuan mengelola organisasi secara profesional.
Baca Juga: Petak Umpet Dimensi Mulai Syuting di Sukabumi, Pesona Alam Dalam Film Petualangan Anak
"Jadi kegiatan ini merupakan kegiatan training/pelatihan yang dinamakan Advocacy Lab yang berarti laboratorium keilmuan tentang advocacy juga managemen mengelola organisasi dengan tema 'Beyond Protest, Advocacy Skill for Future Leaders' yang tentu bermakna diluar protes skill advocacy menjadi penting untuk pemimpin masa depan," ujarnya kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (27/6/2026).
Selama dua hari pelaksanaan, peserta dibekali berbagai materi yang berkaitan dengan praktik advokasi berbasis data dan penyusunan kebijakan. Pada hari pertama, mahasiswa mempelajari evidence based advocacy, tahapan advokasi, pemetaan aktor dan pengaruhnya (stakeholder mapping), analisis isu strategis, penentuan fokus isu, hingga penyusunan berbagai bentuk rekomendasi kebijakan.
Materi tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan, tetapi juga memiliki kemampuan menyusun solusi yang dapat disampaikan kepada para pemangku kebijakan melalui policy brief atau rekomendasi kebijakan.
Sementara itu, pada hari kedua peserta mendapatkan materi mengenai Meaningful Youth Participation (MYP) atau partisipasi kaum muda yang bermakna. Melalui materi ini, mahasiswa diajak memahami bagaimana membangun organisasi yang partisipatif, mulai dari mengenali bentuk keterlibatan yang bersifat manipulatif, tokenism, hingga mampu menciptakan ruang partisipasi yang memberi kesempatan kepada anggota untuk menginisiasi dan mengambil keputusan bersama.
Baca Juga: Aksi Cikaso Lestari: Anggota Komisi IV DPR RI Tanam 15.000 Pohon di Leuweung Cikabuyutan Sukabumi
Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Time Bound) sebagai strategi dalam menyusun program kerja maupun aksi organisasi agar memiliki tujuan yang jelas, realistis, terukur, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Faisal berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti pada peserta, melainkan dapat diterapkan sekaligus ditularkan kepada mahasiswa lainnya di setiap organisasi kemahasiswaan.
"Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah secara garis besar mahasiswa meningkat kapasitasnya dalam hal skill advocacy yang baik, meningkat dalam skill menyusun rekomendasi kebijakan yang nantinya akan mereka berikan kepada pemangku kebijakan, dan tentu selain itu mereka juga mampu meneruskan kembali kepada mahasiswa lainya di setiap organisasi yang mereka pimpin, supaya partisipasi di organisasi mereka bermakna, juga aksi/program yang mereka betul betul realistis dan berdampak dengan keilmuan yang sudah mereka pelajari selama 2 hari," katanya.
Melalui Advocacy Lab 2026, BEM Nusa Putra University berharap lahir generasi pemimpin muda yang tidak hanya kritis dalam menyampaikan aspirasi, tetapi juga memiliki kemampuan advokasi berbasis data, menyusun rekomendasi kebijakan, serta membangun organisasi yang partisipatif dan mampu menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan kampus maupun masyarakat.





