Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dengan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Sukabumiupdate.com
Senin 25 Mei 2026, 09:00 WIB
Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dengan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Ilustrasi sahur. Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dengan Puasa Tarwiyah dan Arafah (Foto: Freepik)

SUKABUMIUPDATE.com - Saat ini umat Islam tengah berada di bulan Dzulhijjah, salah satu bulan mulia yang dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah. Di antara amalan yang sangat dianjurkan ialah puasa sunnah pada 10 hari pertama Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.

Bagi umat Muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, puasa Arafah sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah SAW bersabda:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Artinya:

“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

Baca Juga: Tata Cara dan Niat Puasa Qadha Ramadhan

Karena keutamaannya tersebut, puasa Arafah termasuk puasa sunnah yang sangat dianjurkan (muakkad). Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat, apakah puasa Tarwiyah dan Arafah boleh digabungkan dengan qadha puasa Ramadhan?

Para ulama menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki utang puasa Ramadhan tetap boleh mengqadha puasanya pada hari Tarwiyah atau Arafah. Qadha puasanya sah dan ia juga tetap memperoleh keutamaan puasa sunnah pada hari tersebut.

Hal ini dijelaskan oleh Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Asnal Mathalib:

أَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِأَنَّ مَنْ صَامَ عَاشُورَاءَ مَثَلًا عَنْ قَضَاءٍ أَوْ نَذْرٍ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ

Artinya:

“Al-Barizi berfatwa bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura misalnya untuk qadha atau nazar puasa, maka ia juga mendapat pahala puasa sunnah hari Asyura.”

Baca Juga: Jangan Lewatkan, Ini Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Pendapat ini juga disepakati sejumlah ulama lain dan disebut sebagai pandangan yang mu’tamad. Meskipun dalil tersebut membahas puasa Asyura, para ulama mengqiyaskannya pada puasa Arafah dan hari-hari sunnah utama lainnya.

Hal serupa dijelaskan oleh Sayyid Bakri dalam kitab I‘anatut Thalibin:

وَمِنْ ثَمَّ أَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِأَنَّهُ لَوْ صَامَ فِيهِ قَضَاءً أَوْ نَحْوَهُ حَصَلَا

Artinya:

“Dari sana Al-Barizi berfatwa bahwa apabila seseorang berpuasa pada hari tersebut dengan niat qadha atau semisalnya, maka ia mendapatkan keduanya.”

Maksudnya, seseorang tetap memperoleh pahala qadha puasa Ramadhan sekaligus keutamaan puasa sunnah Tarwiyah atau Arafah.

Meski diperbolehkan menggabungkan niat qadha dengan puasa sunnah, para ulama tetap menganjurkan agar utang puasa Ramadhan segera dilunasi terlebih dahulu karena hukumnya wajib. Setelah itu, barulah seseorang memperbanyak puasa sunnah.

Namun, apabila seseorang baru teringat memiliki utang puasa menjelang hari Arafah atau Tarwiyah, maka dianjurkan tetap mengqadha puasanya pada hari tersebut agar tidak kehilangan keutamaan bulan Dzulhijjah.

Dengan demikian, menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa Tarwiyah dan Arafah hukumnya diperbolehkan menurut pendapat mayoritas ulama. Qadha puasanya tetap sah dan keutamaan puasa sunnahnya pun tetap bisa diperoleh.

Baca Juga: Bacaan Niat Puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, dan Arafah Lengkap dengan Artinya

Sumber: NU Online

Berita Terkait
Berita Terkini