Di Indonesia Kamu 'Tua', Di Panggung Global Kamu 'Expert' Kenapa Perspektif Usia Berbeda Jauh?

Sukabumiupdate.com
Sabtu 29 Nov 2025, 06:15 WIB
Di Indonesia Kamu 'Tua', Di Panggung Global Kamu 'Expert' Kenapa Perspektif Usia Berbeda Jauh?

Di mata dunia, budaya Indonesia dilihat sebagai aset yang eksklusif dan unik. Pertunjukan tersebut dianggap sebagai perwujudan diplomasi budaya yang penting. (Sumber : Freepik/@freepik)

SUKABUMIUPDATE.com - Diskusi yang berawal dari pengalaman ekspatriat sering kali menyoroti jurang perbedaan yang sangat tajam antara pandangan sosial dan profesional yang berlaku di Indonesia dengan yang berlaku di negara-negara lain, khususnya Barat. Fenomena ini lebih dari sekadar masalah kompensasi finansial. Tetapi, inti masalahnya adalah bagaimana usia, bakat, dan prestasi individu orang Indonesia dihargai, diakui, dan diizinkan untuk berkembang dalam suatu sistem dan struktur masyarakat.

Yuk, kita coba bedah tiga area utama yang menjadi inti perdebatan ini, yakni perbedaan mendasar dalam perspektif terhadap usia (ageism), kontras dalam apresiasi terhadap karya dan upaya kebudayaan, serta pertarungan antara sistem penilaian profesional yang berbasis meritokrasi versus formalisme yang didominasi koneksi.

  1. Diskriminasi Usia: Memecah Mitos tentang Tua dan Muda

Inisiatif awal observasi ini muncul dari pengalaman seorang profesional di platform LinkedIn, Radito Maulana Putra, yang secara lugas mengemukakan pergeseran nilai dramatis dalam memandang usia dalam konteks profesional. Perbedaan pandangan ini memperlihatkan bagaimana usia, yang seharusnya netral, menjadi faktor penghalang atau pendorong, tergantung pada lokasi geografis dan budaya kerja yang diterapkan.

Pandangan yang Menghambat terhadap Usia Senior

Di Indonesia, terdapat kekhawatiran yang meluas bahwa usia senior dalam dunia kerja identik dengan ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi yang cepat dan cenderung memegang teguh metode kerja tradisional. Seperti yang dicatat dalam observasi awal:

Di Indo : You're already old, likely slow and Rigid

Perspektif ini menempatkan pekerja senior pada risiko dianggap sebagai beban atau penghambat inovasi di tengah tuntutan pasar yang serba dinamis. Berbanding terbalik, dalam sistem global yang berbasis pengalaman, masa kerja panjang dan senioritas dianggap sebagai modal penting yang harus dijaga. Di luar negeri, pengalaman tersebut diterjemahkan sebagai stabilitas, keahlian mendalam (deep expertise) yang teruji waktu, dan jaringan profesional yang luas semuanya dilindungi oleh kerangka hukum anti-diskriminasi usia yang ketat.

Baca Juga: Eks Dirut ASDP Ira Puspadewi Bebas dari Rutan KPK, Rehabilitasi dari Prabowo

Penilaian yang Meremehkan terhadap Tenaga Muda

Fenomena serupa berlaku pada usia muda. Dalam struktur yang didominasi hierarki dan penghormatan terhadap senioritas di Indonesia, inisiatif dan ide segar dari generasi yang lebih muda sering kali terhambat. Mereka dianggap:

Di Indo : You're too young, immature, lack experience

Akibatnya, talenta muda sering kesulitan mendapatkan posisi kepemimpinan atau otoritas substansial tanpa harus menunggu waktu yang lama atau memiliki "jam terbang" yang secara formal dianggap memadai. Namun, di lingkungan profesional luar negeri, energi muda dan kedekatan dengan teknologi justru dilihat sebagai katalisator utama perubahan. Di sistem yang menjunjung meritokrasi, talenta muda dihargai karena ambisi, semangat, dan potensi mereka yang besar untuk mendorong inovasi dan disrupsi.

  1. Apresiasi Kebudayaan: Kontras Penerimaan Karya di Dalam dan Luar Negeri

Perbedaan mencolok dalam sistem nilai juga merembet ke bidang seni dan kebudayaan, di mana kualitas karya sering kali tidak mendapatkan sambutan yang selayaknya di negara asal. Komentar dari Marieta Pinky, President Director at PT. Lavania Global Energi, memberikan ilustrasi yang memilukan tentang bagaimana dedikasi dan kerja keras para pelaku budaya, khususnya anak-anak, diperlakukan secara berbeda.

Saat misi kebudayaan diadakan di Indonesia, respons yang diterima cenderung minim antusiasme, bahkan dari pihak yang seharusnya mendukung:

"saya mengalami waktu adakan misi kebudayaan anak2, tampil di indonesia, gratis, undang pejabat terkait yg datang stafnya, penonton sepi..."

Baca Juga: Kasus Tumbler Tuku yang Hilang Jadi Viral, Anita Dewi dan Alvin Harris Minta Maaf

Rendahnya kehadiran pejabat dan minimnya penonton menunjukkan bahwa budaya lokal, karena mudah diakses dan ditemui sehari-hari, sering kali dianggap biasa saja (taken for granted). Kegiatan kebudayaan gratis sering ditempatkan pada prioritas yang sangat rendah dibandingkan urusan politik, ekonomi, atau infrastruktur.

Sebaliknya, ketika pertunjukan yang sama dibawa ke kancah internasional, tanggapan yang didapatkan adalah penghormatan yang mendalam dan tulus:

"...saat tampil di luar negeri pejabat2 negara datang dan penonton jg standing applaus"

Di mata dunia, budaya Indonesia dilihat sebagai aset yang eksklusif dan unik. Pertunjukan tersebut dianggap sebagai perwujudan diplomasi budaya yang penting. Kehadiran pejabat asing bukan hanya bentuk menonton, tetapi simbol penghormatan antarnegara, sementara tepuk tangan berdiri dari publik menunjukkan penghargaan universal terhadap kualitas artistik dan kerja keras yang telah diinvestasikan oleh para seniman muda tersebut.

  1. Sistem Kerja: Tirani Formalitas yang Membunuh Peluang

Inti dari rasa "dihargai" atau "tidak dihargai" dalam karier terletak pada sistem penilaian profesional yang digunakan. Komentar dari Riko Hariyadi, seorang profesional yang bekerja dengan kejujuran, dengan tegas merangkum dilema yang dihadapi oleh banyak individu berbakat di Indonesia:

"Betul pak.. karena kalo di negeri orang.kita dihargai karena skill dan prestasi kita dalam pekerjaan dan mereka selalu memberi kesempatan kita untuk berkembang."

Baca Juga: Aksi Donor Darah PLN Indonesia Power UBP JPR: Kepedulian dan Kemanusiaan

Di lingkungan kerja luar negeri, sistem meritokrasi berfokus penuh pada hasil nyata (deliverables) dan potensi pertumbuhan. Perusahaan di sana bersedia berinvestasi pada talenta karena kemampuan mereka yang terbukti dalam menyelesaikan masalah dan menghasilkan nilai, bukan karena label formalitas mereka.

Ironisnya, di dalam negeri, fokus penilaian sering bergeser dari kinerja ke kriteria yang bersifat formal, bahkan interpersonal:

"tapi kalo di negeri sendiri, mereka hanya terfokus kepada ordal, ijazah dan syarat syarat dan kriteria yg mereka anggap bagus.."

Obsesi yang berlebihan pada ijazah, akreditasi kampus, atau koneksi (Orang Dalam/Ordal) menciptakan benteng birokrasi dan formalisme yang menghambat mobilitas karier. Sistem ini secara inheren tidak adil bagi individu dengan keterampilan yang teruji tetapi tanpa koneksi yang memadai atau label pendidikan yang secara sepihak dianggap "sempurna."

Akibat dari sistem formalistik ini adalah hilangnya peluang bagi talenta lokal untuk berkontribusi maksimal. Hal ini memicu "brain drain" atau perpindahan para profesional yang merasa frustrasi. Seperti keluhan Bapak Riko, ini bukan tentang kurangnya kemampuan, melainkan kurangnya kesempatan:

"Buat kita yg tidak dihargai.. bukan berarti kita tidak bisa berbuat banyak.. tapi karena kesempatan yang tidak ada.."

  1. Kasus Serupa dalam Dunia Sains, Penelitian, dan Penemuan di Indonesia

Fenomena kurangnya apresiasi terhadap talenta lokal juga sangat terasa dalam ekosistem akademik dan riset di Indonesia, sering kali memicu academic brain drain. Penemuan dan inovasi ilmiah yang berasal dari peneliti atau ilmuwan Indonesia seringkali justru mendapatkan pengakuan dan pendanaan yang lebih besar dari lembaga internasional, bukan dari pemerintah atau industri di negara sendiri.

Baca Juga: Setelah Kalah dari Lion City Sailors, Bojan Hodak Dirumorkan akan Mencoret William dan Ramon dari Skuad Persib?

Kendala Pendanaan dan Birokrasi

Salah satu masalah utamanya adalah kendala pendanaan riset yang terbatas dan proses birokrasi yang kompleks. Peneliti Indonesia sering kesulitan mendapatkan dana yang memadai untuk mengembangkan prototipe atau melanjutkan penelitian hilir (dari lab ke pasar), yang membuat karya mereka stagnan di tingkat publikasi ilmiah saja. Sebaliknya, ketika peneliti tersebut mengajukan proposal ke lembaga donor atau universitas di luar negeri, mereka akan mendapatkan fasilitas dan dana riset yang jauh lebih besar karena penelitian mereka dinilai berdasarkan dampak ilmiah global (global scientific impact) dan potensi aplikasinya.

Kurangnya Apresiasi dan Pemanfaatan Inovasi Lokal

Dalam banyak kasus, inovasi yang dikembangkan oleh ilmuwan Indonesia justru lebih dulu diakui dan dikomersialkan oleh negara lain. Hal ini disebabkan oleh:

  • Sistem Paten yang Lambat: Proses pendaftaran dan perlindungan paten yang lambat dan berbelit-belit di Indonesia.
  • Ketidakpercayaan Pasar Lokal: Industri dalam negeri seringkali lebih memilih untuk membeli teknologi impor yang sudah terbukti dari luar negeri, daripada mengambil risiko untuk berinvestasi pada penemuan lokal. Sikap risk aversion (menghindari risiko) ini memperburuk rasa tidak dihargai di kalangan inventor.
  • Pentingnya "Label Internasional": Sebuah penemuan baru terasa "sah" atau "penting" di mata publik dan pemangku kepentingan Indonesia hanya setelah mendapatkan pengakuan atau penghargaan dari institusi luar negeri terlebih dahulu.

Fenomena ini adalah cerminan dari tantangan sistemik di mana nilai ilmu pengetahuan dan penelitian belum sepenuhnya diintegrasikan sebagai pilar utama pembangunan ekonomi, sehingga para ilmuwan terbaik akhirnya memilih lingkungan di mana kontribusi mereka dihargai dan difasilitasi secara maksimal.

Baca Juga: Cuaca Jabar 29 November 2025, Sukabumi Akhir Pekan Potensi Berawan

Pengalaman para profesional ini, dari Radito Maulana Putra hingga Riko Hariyadi, serta kasus-kasus di dunia sains, secara konsisten menunjukkan bahwa bakat dan kompetensi Indonesia diakui dan dihargai di panggung global. Perbedaan yang dirasakan adalah hasil dari pertarungan antara Budaya Kolektivis yang mengutamakan hierarki dan koneksi, dan Budaya Individualis yang menjunjung tinggi meritokrasi dan keadilan.

Keputusan bagi seorang profesional atau ilmuwan untuk menjadi ekspatriat atau memilih bekerja di lingkungan global sering kali adalah bentuk penentuan nasib sendiri, yaitu mencari platform di mana Kemampuan dan Prestasi adalah Mata Uang Utama, bukan ijazah atau kenalan. Tantangan terbesar bagi Indonesia adalah bagaimana melakukan reformasi budaya kerja dan riset secara fundamental untuk mengakhiri fokus yang berlebihan pada formalitas dan mulai membangun sistem yang secara konsisten dan adil menghargai potensi, keterampilan, dan output nyata dari setiap individu.

Keputusan para profesional, seniman, dan ilmuwan Indonesia untuk berkarier di luar negeri, atau yang sering disederhanakan melalui tagar #kaburajadulu, pada hakikatnya adalah sebuah aksi penentuan nasib sendiri untuk mencari lingkungan yang secara adil menghargai kompetensi, bukan formalitas. Migrasi talenta ini bukanlah wujud kurangnya nasionalisme, melainkan respons rasional terhadap sistem yang belum sepenuhnya meritokratis. Ketika skill dan prestasi menjadi mata uang utama di pasar global, sementara di tanah air ordal, ijazah, atau faktor usia masih mendominasi peluang, maka mencari platform yang menghargai aset nyata adalah pilihan logis. Fenomena brain drain ini akan terus berlanjut selama sistem di Indonesia belum memberikan kesempatan yang sepadan dengan kemampuan terbaik yang dimiliki warga negaranya.

Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi Indonesia saat ini adalah melakukan reformasi budaya kerja dan riset secara fundamental. Reformasi ini menuntut keberanian untuk mengakhiri fokus yang berlebihan pada formalitas administratif dan koneksi interpersonal, dan menggantinya dengan sistem yang secara konsisten dan transparan menghargai potensi, keterampilan, dan output nyata dari setiap individu. Hanya dengan membangun ekosistem yang inklusif, adil, dan berorientasi pada hasil, Indonesia dapat menciptakan insentif yang kuat agar para profesional terbaiknya merasa dihargai dan termotivasi untuk kembali, mengubah gerakan #kaburajadulu menjadi #balikdanberkontribusi.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini