Nelayan Cisolok Sampai Berenang ke Pantai, Lina Ruslinawati Soroti Keselamatan akibat Sedimentasi

Sukabumiupdate.com
Sabtu 23 Mei 2026, 15:56 WIB
Nelayan Cisolok Sampai Berenang ke Pantai, Lina Ruslinawati Soroti Keselamatan akibat Sedimentasi

Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat Lina Ruslinawati saat ditemui di Kantor Desa Pangkalan, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (23/5/2026). (Sumber : SU/Ibnu Sanubari).

SUKABUMIUPDATE.com - Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat Lina Ruslinawati menyoroti kondisi pelabuhan perikanan di pesisir selatan Sukabumi, khususnya di wilayah Cisolok, yang menurutnya sempat mengalami sedimentasi cukup parah hingga mengganggu aktivitas nelayan.

Lina mengatakan persoalan tersebut ia temukan saat melakukan kunjungan ke Pelabuhan Perikanan Cisolok. Menurutnya, bidang kelautan dan perikanan memang menjadi salah satu ruang lingkup kerja Komisi II DPRD Jabar.

“Ketika kita melakukan kunjungan ke pelabuhan perikanan Cisolok, di mana terjadi sedimentasi. Saya melihat bagaimana nelayan ini karena memang terjadi sedimentasi, sehingga perahunya tidak bisa berlabuh di kolam labuh itu,” ujar Lina kepada Sukabumiupdate.com saat ditemui di Kantor Desa Pangkalan, Kecamatan Cikidang, Sabtu (23/5/2026).

Baca Juga: Uang Infak MTsN 2 Sukabumi Ramai di Medsos, Wali Murid Sebut Jadi Syarat Kartu Ujian

Ia menyebut sedimentasi di kawasan kolam labuh bahkan sempat memunculkan tanah timbul yang ditanami pisang oleh masyarakat. Padahal, area tersebut seharusnya digunakan sebagai tempat bersandarnya perahu nelayan.

“Padahal itu kolam labuh, seyogyanya perahu itu berlabuh di sana,” katanya.

Menurut Lina, persoalan tersebut sudah disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena kewenangan pengelolaan laut hingga 12 mil berada di tingkat provinsi.

Ia juga menyoroti kondisi nelayan yang dinilai mempertaruhkan keselamatan akibat sedimentasi tersebut. Lina mengaku saat berkunjung ke Cisolok, ia melihat nelayan harus memarkirkan perahu di laut lalu berenang menuju pantai sambil membawa hasil tangkapan.

Baca Juga: Aksi Cepat Zaskia Adya Mecca Selamatkan Afifa Berakhir Bahagia

“Mereka turun berenang untuk mengambil hasil tangkapannya ke pesisir pantai. Ini kan bahaya. Setelah melaut capek, harus membawa beban, belum lagi melawan ombak. Yang dipertaruhkan nyawanya mereka,” ucapnya.

Lina mengatakan saat ini sudah ada pengerukan di kawasan Cisolok melalui bantuan anggaran pemerintah. Namun menurutnya, wilayah tersebut memang rentan mengalami sedimentasi.

Selain menyoroti Cisolok, Lina juga membahas kondisi kolam labuh di Jayanti, Kabupaten Cianjur. Ia mengatakan lokasi tersebut berbeda dengan kawasan Teluk Palabuhanratu karena langsung berhadapan dengan Samudera Hindia.

“Kalau di Jayanti itu langsung laut lepas, Laut Hindia, ombaknya besar-besar,” katanya.

Menurut Lina, dari sekitar 2.000 nelayan di Jayanti, baru sekitar 300 perahu yang dapat tertampung di kolam labuh yang ada saat ini. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencanangkan pembangunan kolam labuh sebagai proyek strategis daerah.

Baca Juga: Masih Jadi Pertanyaan, Bolehkah Kurban Meski Belum Aqiqah? Ini Penjelasannya

Ia mengatakan keberadaan kolam labuh penting untuk melindungi perahu nelayan dari gelombang besar saat tidak melaut.

“Ketika perahu tidak berlabuh di kolam labuh, mereka parkir di tengah lautan, ketimpa ombak besar, perahu bisa tenggelam. Ini kerugian bagi mereka karena alat pencari nafkahnya hilang,” ujarnya.

Lina juga menjelaskan adanya kendala dalam pembangunan proyek tersebut. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari nelayan, terdapat 37 kepala keluarga yang masih menempati sempadan pantai di lokasi yang akan digunakan untuk pengembangan kolam labuh.

Ia mengatakan para nelayan sempat menyampaikan keluhan karena proses relokasi belum menemukan titik temu. Namun Lina mengaku meminta semua pihak mengedepankan musyawarah.

Baca Juga: Pakar Pendidikan: Sekolah Maung Jabar Dipaksakan, Picu Diskriminasi Labrak UU Sisdiknas

“Saya bilang enggak usah anarkis, bagaimanapun itu saudara kita. Coba dibicarakan dengan baik,” katanya.

Lina juga membantah anggapan bahwa dirinya mengkritik program Gubernur Jawa Barat terkait proyek tersebut. Ia menegaskan justru mendukung pembangunan kolam labuh karena dinilai bermanfaat bagi nelayan.

“Saya mendukung proyek strategis Pak Gubernur ini. Tidak mungkin saya menghambat program yang bermanfaat untuk masyarakat nelayan,” ucapnya.

Selain persoalan infrastruktur pelabuhan, Lina turut menyoroti kondisi ekonomi nelayan yang saat ini terdampak kenaikan bahan bakar untuk melaut. Meski demikian, ia meminta masyarakat tetap bersabar di tengah kondisi fiskal pemerintah yang menurutnya sedang terbatas.

“Kita juga tidak menginginkan hal ini terjadi, tapi kondisi fiskal negara dan provinsi memang sedang menurun. Mudah-mudahan ke depan perekonomian kembali membaik,” katanya. (adv)

 

Berita Terkait
Berita Terkini