Jutaan Warga AS Turun ke Jalan dalam Aksi “No Kings”, Soroti Kebijakan Imigrasi dan Perang

Sukabumiupdate.com
Minggu 29 Mar 2026, 14:43 WIB
Jutaan Warga AS Turun ke Jalan dalam Aksi “No Kings”, Soroti Kebijakan Imigrasi dan Perang

Aksi unjuk rasa jutaan warga AS menolak kebijakan Donald Trump. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Gelombang aksi demonstrasi kembali terjadi di berbagai wilayah Amerika Serikat melalui gerakan bertajuk "No Kings" (Tanpa Raja) edisi ketiga.

Jutaan massa dilaporkan turun ke jalan di sejumlah kota besar untuk memprotes kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai cenderung otoriter dan berpotensi mengancam demokrasi.

Aksi ini merupakan lanjutan dari demonstrasi sebelumnya yang disebut-sebut mampu menarik hingga tujuh juta peserta di seluruh negeri.

Dalam aksi tersebut, para demonstran menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik di Iran, kebijakan penegakan hukum imigrasi yang dinilai agresif, serta meningkatnya biaya hidup.

Dilansir dari BBC, di Washington DC, massa memadati kawasan Lincoln Memorial dan National Mall hingga meluas ke Arlington, Virginia. Dalam orasi yang disampaikan, para peserta menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dibangun untuk dipimpin secara otoriter.

Baca Juga: Indonesia vs Bulgaria di Final FIFA Series 2026: Prediksi Susunan Pemain & Ulasan

“Trump ingin memerintah kita seperti seorang diktator. Namun ini adalah Amerika, dan kekuasaan ada di tangan rakyat, bukan di tangan mereka yang haus kekuasaan atau kroni-kroni miliardernya," tegas salah satu penyelenggara aksi dalam orasinya di pusat ibu kota.

Menanggapi aksi tersebut, juru bicara Gedung Putih merespons dengan nada meremehkan. Ia menyebut demonstrasi ini sebagai "Sesi Terapi Gangguan Trump" (Trump Derangement Therapy Sessions) serta menuding aksi tersebut hanya mendapat perhatian dari media tertentu.

Sorotan utama aksi pada hari Sabtu tertuju ke Minnesota, yang menjadi pusat kemarahan publik setelah insiden tewasnya dua warga negara AS, Renee Nicole Good dan Alex Pretti, oleh agen imigrasi federal pada Januari lalu.

Peristiwa tersebut memicu gelombang kritik nasional terhadap kebijakan penegakan imigrasi yang dijalankan sejak Trump kembali menjabat pada 2025.

Di hadapan ribuan massa di State Capitol, St. Paul, musisi Bruce Springsteen turut tampil menyuarakan solidaritas. Ia membawakan lagu berjudul "Streets of Minneapolis" yang mengangkat tema penolakan terhadap kekerasan dalam kebijakan imigrasi.

Baca Juga: Puncak Arus Balik Lebaran Sukabumi Terpantau Padat di Akhir Pekan

Di New York City, aparat kepolisian menutup kawasan Times Square dan Midtown Manhattan setelah lebih dari 100.000 orang turun ke jalan.

Aksi serupa juga terjadi di sejumlah kota besar lainnya seperti Los Angeles, Chicago, Houston, hingga Hartford. Para demonstran terlihat membawa berbagai atribut kreatif, termasuk boneka burung raksasa setinggi 12 kaki.

Menariknya, gerakan "No Kings" juga menjangkau kota-kota kecil seperti Shelbyville di Kentucky dan Howell di Michigan, di mana warga turut menggelar aksi dengan membawa poster berisi penolakan terhadap perang dan kritik terhadap lembaga imigrasi ICE.

Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, Donald Trump diketahui telah mengeluarkan sejumlah kebijakan melalui perintah eksekutif untuk merombak struktur pemerintahan federal.

Ia juga mengerahkan Garda Nasional ke sejumlah kota, meskipun langkah tersebut menuai penolakan dari beberapa gubernur negara bagian. Para pengkritik menilai tindakan tersebut sebagai langkah inkonstitusional karena melibatkan aparat untuk kepentingan politik.

Baca Juga: Fungsional Terakhir, Lalin Arus Balik di Bocimi Seksi 3 Berlaku Bergantian

Namun demikian, dalam wawancara dengan Fox News, Trump membantah anggapan tersebut.

"Mereka menyebut saya sebagai raja. Saya bukan raja. Langkah-langkah ini diperlukan untuk membangun kembali negara yang sedang krisis," klaimnya.

Aksi protes ini juga meluas ke luar negeri. Warga Amerika yang tinggal di sejumlah kota seperti Paris, London, dan Lisbon ikut menggelar demonstrasi dengan membawa berbagai spanduk berisi kritik terhadap presiden, termasuk tuntutan pemakzulan.

Meski beberapa negara bagian telah menyiagakan Garda Nasional, pihak penyelenggara memastikan bahwa aksi demonstrasi tetap berlangsung secara damai dan tanpa kekerasan.

Sumber: Suara.com 

Berita Terkait
Berita Terkini