SUKABUMIUPDATE.com – Nama Lurah Bisri Artawinata mungkin tak setenar tokoh-tokoh besar dalam buku sejarah nasional. Namun, jejak pengabdiannya dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia pada masa Perang Kemerdekaan menyimpan kisah luar biasa yang hingga kini hidup dalam ingatan masyarakat Sukabumi dan Cianjur.
Tedi Ginanjar dari Yayasan Cagar Budaya Nasional Gunung Kekenceng kepada sukabumiupdate.com mengungkapkan, nama Bisri Artawinata berulang kali tercatat dalam sejumlah literatur sejarah Divisi Siliwangi, salah satunya buku Siliwangi Dari Masa Ke Masa. Dalam buku tersebut disebutkan, saat Kapten Harun Kabir dieksekusi tentara Belanda pada 12 November 1947, istri dan anaknya berhasil diselamatkan dan diungsikan oleh Lurah Bisri Artawinata ke wilayah Cioray.
Tak hanya itu, Bisri juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan Brigade II/Suryakancana Divisi Siliwangi selama periode 1945–1949, masa krusial perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Fakta yang tak banyak diketahui publik, kata Tedi, Bisri Artawinata sebenarnya merupakan anggota TNI Angkatan Darat yang ditugaskan sebagai intelijen tempur (Sandi Yudha). Ia disusupkan menjadi lurah di Desa Pasawahan, yang kala itu masih termasuk wilayah Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur.
Baca Juga: Wajib Masuk Watchlist! Rekomendasi 4 K-Drama Fantasi tentang Keadilan
Masa Muda Lurah Bisri
Menurut Tedi, pada 15 November 2018 ia melakukan ziarah ke makam Bisri Artawinata di Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur. Di pusaranya tertera prasasti marmer bertuliskan aksara Arab yang mencatat Bisri Artawinata bin Hasan, lahir di Cianjur pada 19 Juni 1924 dan wafat di Jakarta pada 27 Januari 1995.
“Dari situlah kami mulai merangkai kembali kisah hidup beliau yang selama ini lebih dikenal lewat cerita-cerita lisan dan legenda kesaktian,” ujar Tedi.
Di masa mudanya, Bisri Artawinata mengenyam pendidikan formal sekaligus mondok di Pesantren Al-Basyariyah, Kampung Cikiruh, Kecamatan Sukanagara. Ia berguru kepada KH Ahmad Basyari, ulama kharismatik yang dikenal memiliki kedekatan spiritual dan historis dengan perjuangan kemerdekaan.
Tedi menyebutkan, berdasarkan sejumlah sumber, Bisri juga memiliki hubungan kekerabatan dengan istri KH Ahmad Basyari dari garis ayahnya, Hasan.
Menurut Tedi, KH Ahmad Basyari sendiri merupakan murid langsung Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren Al-Basyariyah didirikan pada 1911, saat KH Ahmad Basyari masih dalam pelarian dari kejaran Belanda.
KH Ahmad Basyari dikenal luas masyarakat karena doa-doanya yang diyakini mustajab. Salah satu kisah yang berkembang menyebutkan, Kampung Cikiruh pernah luput dari serangan udara Belanda karena, berkat doanya, wilayah tersebut tampak seperti hutan belantara di mata pilot pesawat tempur Belanda.
Selain itu, KH Ahmad Basyari juga memiliki hubungna dengan Ir. Soekarno. Hubungan tersebut terjalin melalui R.A.A. Wiranatakusumah, Bupati Bandung yang kemudian menjabat Menteri Dalam Negeri pertama Republik Indonesia. Konon R.A.A. Wiranatakusumah menjadi Mendagri saat itu atas restu KH Ahmad Basyari.
Baca Juga: Harmoni di Puncak Geulis: PLN IP UBP JPR Perkuat Sinergi Akselerasi Energi 2026
Diangkat Jadi Lurah
Tedi menceritakan, pada Agresi Militer Belanda I Juli 1947, kawasan Sukanagara dan Nyalindung Sukabumi menjadi pusat pertahanan TNI setelah Kota Sukabumi dan Cianjur jatuh ke tangan Belanda. "Dalam situasi genting tersebut, Bisri Artawinata yang kala itu berusia 23 tahun diangkat sebagai Lurah Republiken (RI) di Desa Pasawahan dengan tugas utama mengumpulkan logistik bagi Brigade II/Suryakancana dan laskar pejuang," ungkapnya.
Namun kedekatan Bisri dengan para perwira Divisi Siliwangi juga membawa risiko besar. Setelah Sukanagara dibumihanguskan dan direbut Belanda pada 21 September 1947, Bisri Artawinata bersama ayahnya, Hasan, tertangkap dalam operasi pembersihan tentara kolonial.
Selamat dari Eksekusi
Belanda dikenal tak segan mengeksekusi pejuang yang tertangkap. Di Gunung Tugu, Takokak—kini Taman Makam Pahlawan—puluhan pejuang dieksekusi, termasuk Kapten Harun Kabir. Dari puluhan korban tersebut, hanya Lurah Bisri Artawinata yang selamat.
Masyarakat setempat meyakini, Bisri memiliki kesaktian, di antaranya kebal peluru dan ilmu halimunan. Kesaktian itu disebut-sebut diperoleh saat ia menimba ilmu spiritual di Pesantren Al-Basyariyah.
Kesaksian serupa disampaikan Dadan Sumardi (73), sahabat dekat Bisri sejak 1977. Ia menceritakan peristiwa saat Bisri menyelam di laut Palabuhanratu dan muncul kembali sambil membawa ikan kakap besar, yang diyakini sebagai bukti penguasaan Ilmu Antasena.
Baca Juga: DPC PPP Kabupaten Sukabumi Gelar Safari Ramadan dan Bimtek Kepengurusan di Tenjo Resmi
Sosok Sederhana hingga Akhir Hayat
Di masa tuanya, Bisri Artawinata—yang dikenal sebagai ayah angkat dari konglomerat nasional Tommy Winata—lebih banyak menghabiskan waktu di Takokak, Cianjur, dan Palabuhanratu, Sukabumi. Ia wafat setelah sempat dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.
Sesuai wasiatnya, Bisri dimakamkan di Takokak tanpa upacara militer, di tanah yang menjadi saksi perjuangannya mempertahankan kemerdekaan.
“Kisah Lurah Bisri Artawinata adalah potret pejuang sejati. Hidup sederhana, ramah, selalu menolong sesama, namun teguh dalam pendirian,” tutur Tedi Ginanjar. “Sosok seperti inilah yang patut menjadi suri teladan bagi generasi penerus bangsa.” imbuhnya.





