SUKABUMIUPDATE.com – Pemerintah Kabupaten Sukabumi merespon keluhan warga atas keberadaan peternakan ayam di Desa Citamiang, Kecamatan Purabaya. Masyarakat sekitar mengaku hidup berdampingan dengan serbuan lalat yang diduga berasal dari aktivitas kandang unggas di sekitar permukiman.
Keluhan tersebut disampaikan warga Kampung Padaringan dan Kampung Cigawar, Desa Citamiang. Mereka mengungkapkan bahwa aktivitas sehari-hari, baik di dalam maupun di luar rumah, sangat terganggu akibat lonjakan populasi lalat tersebut.
Merespon keluhan masyarakat, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, Asep Kurnadi, menyatakan bahwa pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan setempat.
Baca Juga: Salurkan Bantuan Sembako, Cara BPR Jampangkulon Sukabumi Peringati HUT ke-22
"Hari ini Dinas Peternakan melakukan koordinasi dengan pihak desa dan kecamatan, kemudian melakukan surveilans ke lokasi peternakan sekaligus pembinaan Good Farming Practice (cara beternak yang baik) untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan," ujar Asep Kurnadi kepada Sukabumiupdate.com, Senin (2/11/2026).
Asep menegaskan pembinaan, monitoring, dan evaluasi akan terus dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap pengelola peternakan menjalankan langkah penanganan dampak lingkungan secara komprehensif. Terkait kelengkapan legalitas, Asep mengonfirmasi bahwa perusahaan peternakan tersebut sudah mengantongi izin resmi.
Sementara itu, Camat Purabaya, Kurnia Lismana, menjelaskan detail hasil pemeriksaan lapangan yang dilakukan oleh tim gabungan. Tim yang terdiri dari Kepala UPT Peternakan Wilayah Jampangtengah beserta staf, Satpol PP Kecamatan, pemerintah desa, serta perwakilan warga penyorot keluhan telah mengunjungi sejumlah titik lokasi.
Baca Juga: Ayep Zaki Targetkan 15 Ribu Kesempatan Kerja, 30 CPMI Sukabumi Dilepas ke Luar Negeri
"Hasil cek lapangan hari ini langsung ke lokasi Kampung Padaringan Desa Citamiang, menyisir tiga lokasi peternakan rakyat yang berdekatan dengan pemukiman warga dan satu perusahaan peternakan yang lokasinya cukup jauh dari pemukiman," terang Kurnia.
Tim juga menyerap aspirasi melalui komunikasi langsung dengan ketua RT serta warga sekitar. Namun, saat peninjauan berlangsung, kondisi di lapangan menunjukkan hal berbeda dari laporan masyarakat.
"Saat kunjungan tidak ditemui adanya keberadaan lalat maupun bau, baik di pemukiman warga maupun di area peternakan. Mungkin pada saat-saat tertentu lalat atau bau memang ada, sama halnya dengan kondisi peternakan pada umumnya," tambah Kurnia.
Baca Juga: Sekretariat Karang Taruna di Sukabumi Jualan Miras Oplosan, Raden Koesoemo Minta Maaf
Meskipun demikian, isu ini tetap menjadi perhatian serius bagi Tim Kecamatan dan UPT Peternakan untuk pemantauan berkelanjutan, terlebih keberadaan peternakan tersebut juga menyerap tenaga kerja lokal dari masyarakat sekitar. Terkait dampak sosial, warga mengakui adanya penyaluran bantuan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang rutin dibagikan setiap musim panen atau hari raya.
"Hasil cek lapangan hari ini mungkin belum ada kesimpulan akhir, tetapi menjadi catatan penting bagi tim untuk melakukan evaluasi dan monitoring lebih lanjut—baik terhadap situasi di masyarakat maupun operasional peternakan itu sendiri. Untuk skala perusahaan tentu sudah berizin resmi karena sudah beroperasi puluhan tahun," pungkas Kurnia.














