SUKABUMIUPDATE.com - Menikah bagi sebagian orang merupakan salah satu tahapan kehidupan yang ingin dicapai. Namun, bagi sebagian lainnya, pernikahan bukan menjadi prioritas dalam kehidupan.
Gambaran mengenai status perkawinan masyarakat Kabupaten Sukabumi terlihat dari data Open Data Kabupaten Sukabumi yang bersumber dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) untuk periode 2024-2025.
Berdasarkan data tersebut yang diperbarui pada 8 Juni 2026, terdapat puluhan ribu penduduk berstatus belum kawin di masing-masing kecamatan di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2025.
Kecamatan Cicurug tercatat memiliki jumlah penduduk berstatus belum kawin terbanyak, yakni 69.446 orang. Disusul Cisaat sebanyak 64.312 orang, Cibadak 60.938 orang, dan Palabuhanratu 60.729 orang.
Baca Juga: Desak Evaluasi! SMKN 1 Gunungguruh Sukabumi Soroti Respon SPPG Pasca Dugaan Keracunan MBG
Berikutnya, Sukaraja tercatat sebanyak 44.866 orang, Nagrak 43.219 orang, Cikembar 42.747 orang, Parung Kuda 40.977 orang, Cidahu 37.956 orang, dan Surade 36.571 orang.
Jika diurutkan berdasarkan jumlah penduduk berstatus belum kawin pada 2025, berikut datanya:
- Cicurug – 69.446 orang
- Cisaat – 64.312 orang
- Cibadak – 60.938 orang
- Palabuhanratu – 60.729 orang
- Sukaraja – 44.866 orang
- Nagrak – 43.219 orang
- Cikembar – 42.747 orang
- Parung Kuda – 40.977 orang
- Cidahu – 37.956 orang
- Surade – 36.571 orang
- Cisolok – 34.906 orang
- Cikidang – 34.839 orang
- Warung Kiara – 31.110 orang
- Cicantayan – 29.533 orang
- Jampangtengah – 29.358 orang
- Kadudampit – 29.172 orang
- Gunungguruh – 26.845 orang
- Simpenan – 26.648 orang
- Kalapanunggal – 26.296 orang
- Caringin – 25.022 orang
- Sukalarang – 24.732 orang
- Sukabumi – 24.422 orang
- Ciracap – 24.094 orang
- Ciemas – 23.977 orang
- Parakan Salak – 22.950 orang
- Kabandungan – 22.831 orang
- Cikakak – 22.790 orang
- Ciambar – 22.235 orang
- Nyalindung – 22.167 orang
- Jampang Kulon – 20.974 orang
- Sagaranten – 20.893 orang
- Bojong Genteng – 20.707 orang
- Bantargadung – 20.211 orang
- Gegerbitung – 19.112 orang
- Purabaya – 18.789 orang
- Cireunghas – 17.332 orang
- Kebonpedes – 16.149 orang
- Lengkong – 15.103 orang
- Tegal Buleud – 14.614 orang
- Kalibunder – 13.623 orang
- Waluran – 13.157 orang
- Cibitung – 13.008 orang
- Cimanggu – 12.404 orang
- Curug Kembar – 11.685 orang
- Pabuaran – 9.536 orang
- Cidadap – 6.992 orang
- Cidolog – 5.838 orang
Baca Juga: Bacaan Doa Setelah Tahiyat Akhir Sebelum Salam Untuk Meminta Keselamatan dan Perlindungan
Cicurug Tertinggi dan Cidolog Terendah
Dari 47 kecamatan tersebut, Cicurug menjadi wilayah dengan jumlah penduduk berstatus belum kawin terbanyak, yakni 69.446 orang.
Sementara itu, jumlah paling sedikit tercatat di Kecamatan Cidolog dengan 5.838 orang. Setelah Cidolog, Cidadap tercatat 6.992 orang, Pabuaran 9.536 orang, Curugkembar 11.685 orang, dan Cimanggu 12.404 orang.
Adapun lima kecamatan dengan jumlah penduduk berstatus belum kawin terbanyak yakni Cicurug, Cisaat, Cibadak, Palabuhanratu, dan Sukaraja.
Data tersebut merupakan jumlah penduduk berdasarkan Jumlah Penduduk Berdasarkan Status Kawin di Kabupaten Sukabumi data Disdukcapil pada 2025. Karena itu, angka penduduk berstatus belum kawin tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai jumlah orang yang memilih untuk tidak menikah. Faktor usia, kondisi sosial, pendidikan, ekonomi, maupun pilihan hidup dapat memengaruhi status perkawinan seseorang.
Baca Juga: Tak Perlu Jauh Urus Dokumen, UPTD Dukcapil Jemput Bola ke Warga Pasawahan Cicurug Sukabumi
Tren Pemuda Indonesia Belum Menikah Meningkat
Fenomena meningkatnya jumlah penduduk yang belum menikah juga terlihat dalam data nasional.
Mengutip laman Indonesia Baik, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2025 sebanyak 71,04 persen pemuda berusia 16–30 tahun belum menikah. Dengan demikian, sekitar 28 persen pemuda tercatat sudah berstatus kawin.
“Jika dibandingkan dengan kondisi satu dekade sebelumnya, persentase pemuda yang sudah menikah juga menunjukkan penurunan. Pada 2016, persentase pemuda yang sudah menikah tercatat 40,46 persen. Angka tersebut kemudian menurun hingga 27,92 persen pada 2025, sebaliknya, persentase pemuda yang belum menikah meningkat dari 58,10 persen pada 2016 menjadi 71,04 persen pada 2025,” tulisnya.
Sementara itu dikutip dari laman UMY, penundaan pernikahan tidak terjadi begitu saja. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Halim Purnomo, M.Pd.I., Guru Besar sekaligus dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Menurutnya, pernikahan adalah bentuk ibadah jangka panjang yang menuntut kesiapan secara menyeluruh, sehingga tidak bisa hanya mengandalkan dorongan emosional semata.
“Pernikahan bukan perjalanan satu atau dua hari, melainkan perjalanan hidup. Karena itu diperlukan persiapan matang, bagaimana menyatukan dua pribadi dan dua keluarga yang berbeda agar dapat berjalan bersama serta meminimalkan risiko dalam rumah tangga,” jelas Halim.
Ia menambahkan bahwa kesiapan individu menjadi salah satu pemicu utama fenomena ini. Pemuda masa kini umumnya lebih bersikap cermat dan berhati-hati sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Faktor finansial, kepastian karier, hingga mental yang matang menjadi pertimbangan utama mereka.
Kesimpulannya bahwa data diatas tentang Penduduk Belum Kawin di Kabupaten Sukabumi perlu dibaca dalam konteks demografi dan kondisi sosial yang lebih luas, bukan semata-mata sebagai indikator bahwa individu tersebut tidak ingin menikah.













