Dukung Bioetanol Nasional, Distan Sukabumi Siapkan 30 Ribu Hektare Lahan Jagung dan Singkong

Sukabumiupdate.com
Senin 05 Okt 2026, 18:01 WIB
Dukung Bioetanol Nasional, Distan Sukabumi Siapkan 30 Ribu Hektare Lahan Jagung dan Singkong

Rakor Program Khusus Bioetanol Tingkat Kabupaten Sukabumi di Aula Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Selasa (29/9/2026). (Sumber : dok Distan Kab Sukabumi).

SUKABUMIUPDATE.com - Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi mulai mematangkan strategi pengembangan komoditas pertanian yang akan diarahkan untuk mendukung program bioetanol nasional.

Tak tanggung-tanggung, Kabupaten Sukabumi mendapat sasaran pengembangan mencapai 30.000 hektare, terdiri dari 20.000 hektare lahan jagung dan 10.000 hektare lahan ubi kayu atau singkong.

Langkah tersebut dibahas Distan Kabupaten Sukabumi melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Program Khusus Bioetanol Tingkat Kabupaten Sukabumi di Aula Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Selasa (29/9/2026).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan rakor tersebut merupakan tindak lanjut agenda Kementerian Pertanian RI di Jakarta pada 21 September 2026.

Baca Juga: 27 Warga Gunungguruh Sukabumi Diare Massal, Polisi Selidiki Sumber Air yang Dikonsumsi

Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menyamakan strategi sekaligus mempersiapkan pengembangan komoditas yang berpotensi menjadi bahan baku bioetanol di Kabupaten Sukabumi.

“Ini merupakan tindak lanjut dari agenda Kementerian Pertanian. Sukabumi memiliki potensi besar untuk mendukung program bioetanol melalui pengembangan jagung dan ubi kayu,” ujar Aep, dalam keterangan yang diterima pada Senin (5/10/2026).

Aep menjelaskan, target 30.000 hektare tersebut terdiri dari 20.000 hektare untuk jagung dan 10.000 hektare untuk ubi kayu atau singkong.

Menurutnya, target tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan peningkatan luas tanam maupun produksi pertanian. Lebih dari itu, program bioetanol dinilai dapat membuka peluang terbentuknya rantai ekonomi baru di daerah.

Baca Juga: Hanya Notifikasi Kuota Mau Habis? Komdigi Nilai Perlindungan Pelanggan Belum Optimal

Mulai dari petani sebagai produsen bahan baku, sektor pengolahan hasil pertanian hingga industri energi terbarukan dapat terlibat dalam ekosistem tersebut.

“Target ini harus kita lihat sebagai peluang. Bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi baru yang melibatkan petani dan sektor pengolahan,” katanya.

Untuk mengejar target tersebut, Distan Sukabumi menilai kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya. Sebab, pengembangan bioetanol membutuhkan kesiapan lahan, kepastian bahan baku, pendampingan terhadap petani hingga dukungan rantai pasok.

Rakor tersebut melibatkan perwakilan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian, seluruh kepala UPTD, ketua tim kerja penyuluhan, serta penyuluh pertanian madya se-Kabupaten Sukabumi.

Baca Juga: Peringatan Dini Cuaca 3 Harian, BMKG: Sukabumi Waspada Hujan Sedang hingga Lebat

Pembahasan juga diperkuat dengan masukan dari Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) dan unsur kehutanan, di antaranya Balai Perhutanan Sosial Bogor, Perum Perhutani KPH Sukabumi, CDK Wilayah III, serta Gabungan Pengusaha Perkebunan Sukabumi.

Aep mengatakan keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar program tersebut tidak berhenti pada pencapaian target luas lahan. Distan ingin pengembangan komoditas bahan baku bioetanol memberikan manfaat nyata bagi petani dan perekonomian daerah.

“Sinergi seluruh pihak sangat penting. Kita ingin program ini tidak berhenti pada target luas tanam, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah,” ucapnya.

Menurut Aep, pengembangan jagung dan singkong sebagai bahan baku bioetanol juga menjadi peluang untuk memperluas pasar komoditas pertanian Kabupaten Sukabumi.

Baca Juga: MTA ASN Sukabumi Benteng Integritas, Bapperida: Nilai Agama Harus Tercermin dalam Pelayanan

Jika dikelola secara konsisten, program tersebut diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru melalui pengembangan energi terbarukan.

Distan Sukabumi pun mulai menyiapkan langkah untuk mendukung target tersebut. Pengembangan komoditas jagung dan singkong diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi hijau sekaligus mendukung agenda kemandirian energi.

Aep optimistis target pengembangan tersebut dapat menjadi pijakan bagi Kabupaten Sukabumi untuk mengambil peran dalam program bioetanol nasional.

“Kami optimistis ini bisa menjadi momentum kebangkitan ekonomi hijau di Kabupaten Sukabumi. Dengan kerja bersama, target menuju kemandirian energi pada 2028 harus kita persiapkan sejak sekarang,” tandasnya. (adv)

 

Berita Terkait
Berita Terkini