Nasi Sebungkus Berdua, Kisah Lansia Sakit di Sukabumi yang Kini Tercatat di Desil 9

Sukabumiupdate.com
Kamis 10 Sep 2026, 16:48 WIB
Nasi Sebungkus Berdua, Kisah Lansia Sakit di Sukabumi yang Kini Tercatat di Desil 9

Irwana (72) lansia asal Kelurahan Genteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi yang kini tercatat di Desil 9 (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Di saat tubuhnya nyaris tak lagi mampu digerakkan, Irwana (72), warga RT 04/04, Kelurahan Genteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, justru tercatat dalam desil 9. Hari-hari perempuan lanjut usia itu dijalani dalam kondisi serba terbatas. 

Hampir tiga tahun Irwana mengalami sakit hingga tak mampu berjalan maupun berdiri sendiri. Untuk sekadar berpindah posisi di tempat tidur, tubuhnya harus diangkat dan digendong oleh sang anak.

Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarganya juga jauh dari berkecukupan. Irwana hanya tinggal bersama anaknya yang bekerja sebagai juru parkir di terminal dengan sistem kerja dua hari sekali. Penghasilannya tidak menentu, bahkan terkadang tidak membawa uang pulang.

Baca Juga: BPR Sukabumi Cabang Cibadak: Tingkat Menabung Masyarakat Tetap Terjaga

Status desil 9 tersebut diketahui keluarga setelah petugas dari kelurahan datang melakukan kunjungan dan pengecekan data. Keluarga mengaku terkejut karena kondisi Irwana dinilai tidak menggambarkan kehidupan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang relatif tinggi.

Adik kandung Irwana, Yanti (67), mengatakan pihak keluarga sebelumnya tidak mengetahui kakaknya tercatat dalam desil berapa. Mereka baru mengetahui status tersebut ketika dilakukan pengecekan oleh pihak kelurahan.

"Saya tahu itu setelah ada kunjungan dari kelurahan, pas dicek ternyata kakak saya ini masuk desil 9, sementara keadaannya kayak begini (memprihatinkan)," ujar Yanti kepada sukabumiupdate.com di kediaman Irwana pada Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: HJKS ke-156, Bapperida Dorong Perencanaan Pembangunan Sukabumi Semakin Kolaboratif

Yanti mengaku tidak mengetahui apakah status desil Irwana mengalami perubahan dari sebelumnya. Sebab, keluarga tidak pernah melakukan pengecekan terkait status tersebut.

"Enggak ngerti saya, enggak pernah ngecek juga sebelumnya. Yang pasti pas dicek itu sekarang masuk desil 9," katanya.

Hampir Tiga Tahun Tak Bisa Berjalan

Menurut Yanti, kondisi Irwana saat ini sangat memprihatinkan. Kakaknya sudah hampir tiga tahun mengalami sakit yang membuat sebagian tubuhnya kaku dan tidak lagi dapat digerakkan secara normal.

Baca Juga: Jelang Persija vs Persib, PSSI Soroti Rivalitas Suporter dan Serukan Persaudaraan

Awalnya, Irwana mengalami gangguan pada ginjal dan kemudian menjalani operasi. Namun setelah menjalani tindakan medis tersebut, kondisi fisiknya justru berubah. Ia kehilangan kemampuan untuk beraktivitas secara mandiri.

"Jadi pertamanya itu dia ginjalnya, terus dibawa ke rumah sakit dioperasi. Setelah dioperasi jadi kayak begini, sebagian kaku tidak bisa digerakkan, jadi enggak bisa ngapa-ngapain," tuturnya.

Untuk duduk saja, Irwana membutuhkan bantuan orang lain. Begitu pula ketika hendak berpindah atau bergeser. Seluruh tubuhnya harus diangkat oleh sang anak.

Baca Juga: Rambu Jalan hingga RTH: 20 Catatan Komisi III DPRD Sukabumi untuk PT Proswel Indomax

"Duduk mah bisa, cuma harus diangkat. Jadi kalau mau pindah atau geser juga harus diangkat, digendong sama anaknya," sambung Yanti.

Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari Irwana sepenuhnya bergantung pada orang lain. Bahkan untuk buang air besar, ia harus menggunakan pispot di tempat tidur.

Sebungkus Berdua Jika Ada Uang

Di tengah kondisi kesehatan yang semakin membatasi ruang geraknya, keluarga Irwana juga harus bertahan dengan penghasilan yang tidak pasti. Irwana tinggal berdua dengan anaknya. Sang anak bekerja sebagai juru parkir di terminal setiap dua hari sekali. Namun pekerjaan tersebut tidak selalu menghasilkan uang.

Baca Juga: Pemdes Ungkap Pelaku Pembuang Sampah Cangkang Kelapa di Jalan Waluran Sukabumi

Ketika mendapatkan penghasilan, uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Tak jarang, satu bungkus nasi harus dibagi untuk dua orang.

"Kalau makan itu kan anaknya jadi juru parkir di terminal dua hari sekali, kadang-kadang enggak dapat uang. Kalau ada juga beli nasi bungkus satu dimakan berdua. Di rumah ini cuma berdua, ibu sama anak aja," ungkap Yanti.

Ironisnya, Yanti mengatakan Irwana selama ini juga tidak pernah menerima bantuan sosial. "Nggak pernah dapat bansos, apalagi sekarang masuk desil 9," katanya.

Baca Juga: Tinggal Baju di Badan, Hendra Menatap Puing Rumahnya yang Hangus di Simpenan

Kondisi itu membuat keluarga semakin khawatir. Dengan tercatat dalam desil 9, mereka takut Irwana semakin sulit memperoleh bantuan yang semestinya dapat membantu meringankan kebutuhan hidupnya.

Kelurahan Disebut akan Menurunkan Desil

Yanti mengatakan pihak kelurahan telah menyampaikan bahwa status desil Irwana akan diupayakan untuk diperbaiki atau diturunkan. Namun, perubahan tersebut tidak bisa dilakukan seketika sehingga keluarga masih harus menunggu proses pemutakhiran data.

"Kata orang kelurahan sih katanya mau diturunin, tapi kan diturunin juga enggak instan, masih harus nunggu," ujarnya.

Baca Juga: Hari Jadi Kabupaten Sukabumi ke-156: DKUKM Dorong Koperasi dan UMKM Naik Kelas

Keluarga pun berharap pemerintah tidak hanya melihat kondisi masyarakat melalui data administratif, tetapi juga memastikan kesesuaiannya dengan keadaan nyata di lapangan.

Bagi Yanti, kondisi kakaknya yang sudah lanjut usia, tidak mampu berjalan, tidak memiliki penghasilan sendiri, dan bergantung kepada anak untuk menjalani aktivitas sehari-hari semestinya mendapat perhatian serius.

"Ya minta tolonglah dibantu," katanya.

Baca Juga: Manchester United vs Sabah FK di Liga Champions 2026/2027, Michael Carrick Waspadai Kejutan

Rumah Bocor, Ember Jadi Penampung Air

Persoalan Irwana bukan hanya soal kebutuhan makan dan kesehatan. Rumah yang ditempatinya bersama sang anak juga dalam kondisi yang membutuhkan perhatian.

Yanti mengatakan sejumlah bagian rumah mengalami kebocoran. Saat hujan turun, ember harus disiapkan di beberapa titik untuk menampung air yang masuk melalui atap.

"Sekarang keadaan rumahnya pada bocor. Sekarang kan musim kemarau, tapi kalau sudah musim hujan itu biasanya banyak ember di sini, soalnya pada bocor," tutur Yanti.

Baca Juga: Panenjoan Situ Sukarame, Cara Berbeda Menikmati Danau di Parakansalak dari Ketinggian

Desil Yanti Juga Naik dari 3 Menjadi 6

Persoalan perubahan status desil ternyata tidak hanya dialami Irwana. Yanti sendiri mengaku mengalami perubahan status dari desil 3 menjadi desil 6.

Perubahan tersebut, menurut Yanti, turut berdampak pada bantuan yang sebelumnya ia terima. Bantuan berupa beras dan minyak kini tidak lagi didapatkannya.

"Saya pribadi juga sekarang desilnya jadi naik ke 6, sebelumnya desil 3. Biasanya dapat beras, dapat minyak, sekarang tidak," ungkapnya.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini