MPLS Tak Hanya Mengenal Sekolah, Pelajar di Cibadak Sukabumi Juga Dibekali Siaga Bencana

Sukabumiupdate.com
Rabu 15 Jul 2026, 14:33 WIB
MPLS Tak Hanya Mengenal Sekolah, Pelajar di Cibadak Sukabumi Juga Dibekali Siaga Bencana

Petugas BPBD Kabupaten Sukabumi memberikan sosialisasi dan edukasi kebencanaan kepada peserta MPLSSMP Mardi Yuana Cibadak, Selasa (14/7/2026). (Sumber : BPBD)

SUKABUMIUPDATE.com - Bencana bisa datang tanpa diduga, termasuk saat proses belajar mengajar berlangsung. Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi membekali siswa SMP Mardi Yuana Cibadak dengan pengetahuan dasar kebencanaan hingga cara menyelamatkan diri saat situasi darurat, Selasa (14/7/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB tersebut diikuti peserta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP Mardi Yuana Cibadak. Sosialisasi dan edukasi kebencanaan itu bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta kesiapsiagaan peserta didik dalam menghadapi potensi bencana sekaligus mendorong budaya keselamatan di lingkungan sekolah.

Penata Layanan Operasional Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sukabumi, Rusli Abdul Azis, mengatakan materi yang diberikan kepada para siswa mencakup pemahaman mengenai bahaya di sekitar, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, rencana pengungsian, hingga langkah-langkah evakuasi mandiri saat terjadi bencana.

Baca Juga: Daftar Akreditasi BAN-PT Kampus di Sukabumi Raya, Hanya Satu Kampus Berstatus Unggul

"Sebelum bencana terjadi, siswa harus memahami bahaya di sekitarnya, mengetahui sistem peringatan dini, mengetahui rute evakuasi dan rencana pengungsian, sehingga ketika terjadi bencana siswa bisa melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman," ujar Rusli.

Ia menjelaskan, saat bencana terjadi siswa harus segera melakukan evakuasi mandiri, mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan, kemudian berkumpul di tempat aman atau titik kumpul. Setelah itu, siswa diminta tetap berada di lokasi evakuasi hingga situasi dinyatakan aman serta menjauhi lokasi yang berpotensi menimbulkan bencana susulan.

"Hasil survei di Jepang menunjukkan 35 persen orang selamat dari bencana disebabkan oleh diri sendiri. Karena itu, siswa harus segera bisa melakukan evakuasi mandiri ketika terjadi bencana," katanya.

Baca Juga: Belum Bangun Koperasi Desa Merah Putih, Pemdes Kademangan Surade Bicara Kendala Lahan

Rusli mengatakan edukasi kebencanaan penting diberikan sejak dini. Menurutnya, edukasi semacam ini sebetulnya dapat dimulai sejak tingkat taman kanak-kanak hingga mahasiswa dan masyarakat agar mereka memiliki pengetahuan tentang cara menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.

Ia menyebutkan, berdasarkan hasil survei di Jepang, sebanyak 35 persen korban selamat karena menyelamatkan diri sendiri, 31,9 persen diselamatkan anggota keluarga, 28,1 persen oleh tetangga, 2,6 persen oleh orang yang kebetulan melintas, dan 1,7 persen oleh tim SAR.

"Pengetahuan yang dimiliki oleh diri sendiri untuk menyelamatkan diri dari ancaman risiko bencana sangat menentukan. Karena itu pengetahuan tentang kebencanaan harus lebih ditingkatkan lagi," ucapnya.

Rusli mengungkapkan, berdasarkan data kejadian bencana di Kabupaten Sukabumi, tanah longsor masih mendominasi dalam tiga bulan terakhir. Pada Juni 2026 tercatat 19 kejadian tanah longsor. Sementara pada Mei terjadi 104 kejadian tanah longsor, 25 banjir, dan 32 angin kencang. Adapun pada April tercatat 75 kejadian tanah longsor, 23 banjir, dan 44 angin kencang.

Baca Juga: DPRD Sukabumi Apresiasi Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69, Dorong Pelestarian Budaya Pesisir

Meski demikian, materi yang disampaikan kepada siswa SMP Mardi Yuana Cibadak lebih difokuskan pada kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi.

"Kalau melihat data memang tanah longsor mendominasi di Sukabumi. Tapi untuk potensi yang harus dipahami oleh para pelajar adalah gempa bumi. Ketika terjadi gempa bumi di sekolah, mereka harus tahu bagaimana cara menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman," jelas Rusli.

Dalam sosialisasi tersebut, BPBD juga mengingatkan siswa agar segera melakukan evakuasi mandiri secara aman ketika terjadi bencana, mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul, menunggu arahan guru atau informasi lebih lanjut, serta membantu proses evakuasi apabila kondisi memungkinkan.

Menurut Rusli, para siswa juga didorong mengubah pola pikir agar tidak hanya menjadi orang yang ditolong, tetapi juga mampu menjadi penolong apabila situasi memungkinkan. "Harapan kami, siswa bisa menganalisa potensi atau ancaman bencana di sekitarnya, mengantisipasi ketika bencana datang, mengurangi dampak bahayanya, serta memiliki keterampilan bagaimana cara melakukan evakuasi mandiri ketika terjadi bencana," pungkasnya.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini