SUKABUMIUPDATE.com – Di tengah rimbunnya kawasan Hutan Perhutani Hanjuang Selatan, Kampung Jantra, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, terdapat sebuah lokasi yang dikenal masyarakat sebagai Leuweung Kabuyutan.
Selain menjadi bagian penting kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikaso, tempat ini juga dipercaya memiliki nilai spiritual dan masih sering didatangi peziarah dari berbagai daerah.
Lokasinya berada sekitar satu kilometer dari permukiman warga. Untuk mencapai kawasan tersebut, pengunjung harus melewati jalan tanah dan bebatuan yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua hingga titik tertentu, sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalur setapak di tengah hutan.
Seorang warga Kampung Jantra, Usep (60), mengaku tidak mengetahui secara pasti asal-usul penamaan Leuweung Kabuyutan. Namun berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, kawasan itu sudah lama dipercaya sebagai lokasi yang dikeramatkan dan menjadi tujuan ziarah.
"Saya kurang tahu sejarah pastinya. Tapi sejak dulu, waktu masih hutan belantara, orang tua kami sering berziarah ke sana. Saya juga pernah ikut teman berziarah. Dulu debit mata airnya masih besar, sampai sekarang pun masih ada yang datang untuk ziarah," ujar Usep kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (27/6/2026).
Baca Juga: Menghijaukan Kembali Hulu Sungai Cikaso Sukabumi, Dihancurkan Tambang dan Penebangan Liar
Di dalam kawasan tersebut terdapat sebuah patilasan yang dipercaya masyarakat sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang sesepuh. Bentuknya tidak menyerupai makam pada umumnya, melainkan hanya berupa hamparan tanah dengan sebuah tunggul kayu berukuran besar berdiameter sekitar 30 hingga 40 sentimeter.
Tak jauh dari lokasi patilasan, terdapat mata air alami yang mengalir ke kolam kecil berukuran sekitar dua meter persegi. Air dari kolam itu kemudian mengalir ke saluran air di sekitarnya. Hingga kini, mata air tersebut kerap dimanfaatkan pengunjung untuk mandi atau bersuci sebelum berziarah.
Warga berfoto di lokasi mata air Leuweung Kabuyutan. | Foto: Istimewa
Usep mengenang, saat dirinya masih menggarap sawah bersama mertuanya puluhan tahun lalu, kondisi Leuweung Kabuyutan masih sangat alami dengan pepohonan besar yang tumbuh lebat di sekelilingnya.
"Dulu kalau musim kemarau panjang, dari arah curug sering terdengar suara bergemuruh. Kata orang tua, itu menjadi pertanda akan turun hujan besar," tuturnya.
Baca Juga: Curug Sawer Manglid Cidahu, Air Terjun Bertirai di Kaki Gunung Salak yang Bikin Betah Healing
Menurut Usep, kondisi kawasan tersebut kini sudah banyak berubah. Sejumlah pohon besar yang dulu mendominasi kawasan hutan mulai berkurang dan sebagian area mengalami kerusakan.
"Pohon damar yang ada di sana dulu saya yang menanam. Sekarang kondisinya sudah banyak yang rusak," katanya.
Di sekitar lokasi juga terdapat sebuah saung sederhana yang biasa digunakan pengunjung untuk beristirahat atau bermalam. Menurut Usep, para peziarah datang dengan berbagai tujuan, mulai dari berdoa memohon kelancaran usaha, kenaikan jabatan, hingga hajat pribadi lainnya.
"Banyak yang datang ke sana. Ada yang ingin usahanya lancar, naik pangkat, dan macam-macam niat lainnya. Cerita dari orang tua dulu, konon ada seorang sesepuh bernama Niis yang pernah tinggal di Leuweung Kabuyutan hingga meninggal dunia di sana," pungkasnya.
Hingga kini, Leuweung Kabuyutan masih menjadi salah satu lokasi yang dikenal masyarakat Pajampangan karena menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Di sisi lain, keberadaan mata air yang tetap mengalir di kawasan tersebut juga menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan di hulu DAS Cikaso.





