Tangis Bayi di Rumah Lapuk, Kisah Pilu Remaja Tegalbuleud yang Dikhianati Sopir Travel

Sukabumiupdate.com
Jumat 26 Jun 2026, 13:31 WIB
Tangis Bayi di Rumah Lapuk, Kisah Pilu Remaja Tegalbuleud yang Dikhianati Sopir Travel

Rumah lapuk di Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, jadi saksi pilu perjuangan sebuah keluarga usai putri mereka melahirkan seorang bayi perempuan setelah diduga menjadi korban pelecehan seksual. (Sumber : SU/Ragil Gilang).

SUKABUMIUPDATE.com – Suara tangis bayi memecah kesunyian di dalam sebuah rumah panggung lapuk berukuran 5x5 meter di kawasan Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Di hunian beralas kayu dan berdinding bambu usang yang sudah berdiri selama 15 dekade tersebut, seorang ibu berinisial E berjuang menata hati.

Putri pertamanya, seorang remaja yang belum genap berusia 17 tahun, baru saja melahirkan bayi perempuan pada Kamis (25/6/2026) sekitar pukul 16.30 WIB. Bagi keluarga yang sehari-hari hanya mengandalkan upah buruh serabutan ini, kejadian tersebut menjadi pukulan berat yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan mata berkaca-kaca, E menceritakan bahwa putrinya lahir pada tahun 2009 dan terpaksa berhenti sekolah setelah lulus SMP karena keterbatasan ekonomi.

"Anak saya usianya belum 17 tahun, kelahiran 2009. Tamat SMP, tapi tidak bisa lanjut sekolah karena tidak ada biaya," ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: Mimpi Mahal Kampus Negeri, 60 Ribu Calon Mahasiswa Lolos Penerimaan Pilih Mundur

Menurut E, putrinya sempat menjalin hubungan dengan seorang laki-laki asal Kecamatan Ciracap yang bekerja sebagai sopir travel. Hubungan itu berlangsung sekitar lima bulan sebelum akhirnya berakhir.

Selama berpacaran, pria tersebut diketahui pernah datang ke rumah keluarga korban satu kali. Dari pengakuan anaknya, hubungan badan terjadi setelah pelaku berjanji akan bertanggung jawab atas perbuatannya.

"Katanya akan bertanggung jawab. Tapi setelah itu malah nomor telepon anak saya diblokir," kata E dengan nada lirih.

Keluarga pun berupaya mencari penyelesaian dengan menghubungi pihak keluarga laki-laki tersebut. Namun, harapan untuk memperoleh pertanggungjawaban tidak membuahkan hasil.

Baca Juga: Antusias! 28 Tim Ramaikan Turnamen MLBB Kapolres Cup 2026 di Sukabumi

"Kami juga sudah menghubungi keluarganya, tapi jawabannya tidak mengenakkan. Mereka tidak mau bertanggung jawab," tuturnya.

Kini, E dan keluarganya hanya bisa menerima kenyataan yang harus mereka jalani. Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, kehadiran bayi itu menghadirkan perasaan yang bercampur aduk.

"Kami hanya bisa pasrah. Setiap mendengar suara tangisan bayi, rasanya sedih sekali," ucapnya.

Sukabumiupdate.com bersama Kasi Pemerintahan (Kasipem) Kecamatan Tegalbuleud yang mewakili Camat Tegalbuleud menyempatkan diri mengunjungi rumah keluarga korban.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi keluarga sekaligus memberikan dukungan moral kepada korban dan keluarganya yang kini tengah menghadapi masa-masa sulit.

Baca Juga: Laki-laki Tertemper KA Pangrango di Babakan Cisaat Sukabumi

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kasus yang melibatkan anak memerlukan perhatian serius dari semua pihak, baik dalam aspek perlindungan hukum, pendampingan psikologis, maupun dukungan sosial agar korban dan bayinya dapat memperoleh hak-haknya serta menjalani proses pemulihan dengan layak.

 

Berita Terkait
Berita Terkini