SUKABUMIUPDATE.com - Di kaki Gunung Salak, uap panas bumi terus dikonversi menjadi listrik untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Namun bagi Komunitas Kaki Daun, keberhasilan transisi energi tidak cukup diukur dari besarnya listrik yang dihasilkan. Di balik geliat energi hijau, mereka menilai perlindungan lingkungan, keterbukaan informasi, dan kesejahteraan masyarakat sekitar harus menjadi ukuran utama pembangunan.
Ketua Komunitas Kaki Daun, Saepul Rohman, menyampaikan pandangan tersebut melalui pernyataan sikap bertajuk Transisi Energi yang Berkeadilan untuk Gunung Salak. Dalam pernyataan itu, Komunitas Kaki Daun menegaskan bahwa Gunung Salak bukan sekadar kawasan penghasil energi panas bumi, melainkan juga ruang hidup, ruang budaya, kawasan ekologis, serta sumber kehidupan yang menopang masyarakat lintas generasi.
"Kami mendukung pengembangan energi terbarukan sebagai bagian dari upaya menghadapi krisis iklim. Namun, transisi energi harus berjalan beriringan dengan keadilan sosial, perlindungan lingkungan, dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat yang hidup di sekitar kawasan operasi," kata Saepul, Senin (22/6/2026).
Baca Juga: Wisata Cimincul, Kolam Mata Air Sebening Kaca yang Berada di Tengah Suasana Pedesaan Sunda
Komunitas Kaki Daun menilai PT Star Energy Geothermal Salak memiliki peran strategis dalam penyediaan energi nasional. Namun, besarnya kontribusi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan penguatan tanggung jawab sosial, ekologis, dan budaya agar manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat Kabupaten Sukabumi.
Dalam pernyataan sikap tersebut, Komunitas Kaki Daun mengusulkan lima agenda prioritas, yakni memperkuat transparansi publik melalui keterbukaan data lingkungan, hidrologi, dan pemantauan geologi; melibatkan masyarakat secara aktif dalam perencanaan, pengawasan, serta evaluasi pengelolaan kawasan; menempatkan perlindungan mata air, hutan, dan keanekaragaman hayati sebagai prioritas utama; mengarahkan program tanggung jawab sosial perusahaan untuk pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan peningkatan kapasitas generasi muda; serta menjadikan kebudayaan dan pengetahuan lokal sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, mereka juga mendorong pembentukan Forum Transparansi Publik Gunung Salak yang melibatkan unsur perusahaan, pemerintah, akademisi, komunitas, petani, perempuan, dan generasi muda.
Baca Juga: Kisah Abah Sarnuh, Petani 80 Tahun di Sukabumi yang Nikmati Listrik Gratis
Komunitas Kaki Daun turut mengusulkan pembentukan Dana Keadilan Ekologis untuk mendukung perlindungan mata air, pendidikan, kesehatan, mitigasi bencana, serta pembangunan ekonomi desa.
"Keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari jumlah listrik yang dihasilkan, tetapi dari kemampuannya menjaga kehidupan, memperkuat kesejahteraan masyarakat, dan melindungi warisan ekologis bagi generasi mendatang," ujar Saepul.
Ia menegaskan, Gunung Salak tidak hanya dipandang sebagai sumber energi, tetapi juga sumber kehidupan yang harus dijaga keberlanjutannya bersama. "Gunung Salak bukan sekadar sumber energi. Gunung Salak adalah sumber kehidupan," pungkasnya.




