Kisah Abah Sarnuh, Petani 80 Tahun di Sukabumi yang Nikmati Listrik Gratis

Sukabumiupdate.com
Senin 22 Jun 2026, 16:44 WIB
Kisah Abah Sarnuh, Petani 80 Tahun di Sukabumi yang Nikmati Listrik Gratis

Abah Sarnuh, Petani 86 tahun asal Pasirdatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi berhasil nikmati listrik gratis dari kincir air buatannya sendiri. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Gemericik air yang mengalir di belakang rumah sederhana milik Abah Sarnuh (80), di Kampung Pasirdatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, ternyata menyimpan kisah inspiratif. Selama hampir dua dekade, petani sepuh tersebut menikmati listrik gratis hasil kreativitasnya memanfaatkan tenaga air melalui sebuah kincir sederhana yang ia bangun sendiri.

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mini itu mulai dibuat Abah Sarnuh pada 2007. Bermodal ketekunan dan pengetahuan yang diperolehnya secara otodidak, ia berhasil mengubah aliran air di belakang rumah menjadi sumber energi yang mampu menerangi rumahnya, bahkan sempat dinikmati warga sekitar.

"Mulai dari tahun 2007, sekarang kendalanya ini kan lampu kalau nyala itu kedip-kedip mungkin dinamonya sudah tua harus dibongkar diganti sama yang lebih bagus," ujar Abah Sarnuh saat ditemui Sukabumiupdate.com.

Untuk membangun pembangkit listrik sederhana tersebut, Abah Sarnuh mengaku mengeluarkan modal sekitar Rp3,2 juta. Uang itu digunakan untuk membeli dinamo, kabel, hingga kayu untuk membuat kincir air.

"Pertama kali modal buat bikin ini (pembangkit listrik tenaga air) itu Rp3,2 juta, untuk beli dinamo, beli kabel, beli kayu buat bikin kincirnya, setelah nyala kalau dulu itu bisa menerangi sampai 10 rumah juga kuat, kurang lebih 70 gantungan lampu. Selain lampu, listrik juga bisa dipake buat hidupin tv juga sampai tiga masih bisa nyala," katanya.

Baca Juga: BPJS KIS Non Aktif, Pasien Lansia Bertahan di Selasar IGD! RSUD Palabuhanratu Beri Penjelasan

Ide membuat pembangkit listrik mandiri muncul karena biaya pemasangan listrik PLN saat itu dinilai cukup besar. Selain biaya pemasangan sebesar Rp600 ribu, ia juga harus menyediakan kabel sepanjang sekitar 3.200 meter untuk menjangkau lokasi rumahnya.

"Sebenernya dulu juga dari PLN ada, ceritanya saya juga ditawarin buat masang cuman bayarnya Rp600 ribu, itu dulu terus harus beli kabel sendiri 32 rol berarti 3200 meter, nah dari situ saya pikir mending beli dinamo saja, soalnya saya juga sebelumnya pernah melihat ada yang pake dinamo buat bikin listrik ini, terus saya coba saja bikin sendiri, berangkat ke Kota Sukabumi ke toko beli dinamo buat bikin kincir air buat nyalain lampu, terus dikasih," tuturnya.

Di usianya yang sudah menginjak 80 tahun, Abah Sarnuh masih menjalani aktivitas sehari-hari sebagai petani. Ia menggarap lahan hak guna usaha (HGU) yang sudah ditempatinya sejak 1998.

Baca Juga: Kantor Bupati Sukabumi Didemo, BEM Nusantara Soroti Pelemahan Rupiah hingga RSUD Palabuhanratu

"Kegiatan saya sehari-hari di sini ya berkebun saja di lahan HGU, jadi dulu ceritanya di sini itu kawasan HGU, saya tanya ke yang lain, lokasi ini siapa yang garap, ternyata nggak ada yang garap soalnya katanya di sini itu gudang maung (sarang harimau) jadi pada takut," ungkapnya.

Karena tidak memiliki lahan garapan di kampung asalnya di Desa Cikahuripan, Kecamatan Kadudampit, Abah Sarnuh akhirnya memutuskan merantau dan membuka lahan di kawasan yang saat itu masih dianggap angker oleh sebagian warga.

"Akhirnya saya nekat saja memberanikan diri dari pada nganggur di kampung karena nggak punya lahan juga itu waktu tahun 1998 abah mulai pindah ke sini, awalnya di Desa Cikahuripan, Kecamatan Kadudampit," ujarnya.

Kini, seiring usia dinamo yang semakin tua, pembangkit listrik tenaga air milik Abah Sarnuh mulai mengalami penurunan kinerja. Lampu-lampu yang menyala dari hasil tenaga air itu kerap berkedip. Namun, semangat dan kreativitas petani sepuh tersebut tetap menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk berinovasi dan memanfaatkan potensi alam di sekitarnya.

Berita Terkait
Berita Terkini