Ayah NS Tak Ingin Menuduh Tanpa Bukti, Pilih Otopsi untuk Ungkap Dugaan KDRT

Sukabumiupdate.com
Jumat 20 Feb 2026, 16:58 WIB
Ayah NS Tak Ingin Menuduh Tanpa Bukti, Pilih Otopsi untuk Ungkap Dugaan KDRT

Anwar Satibi ayah NS, remaja 12 tahun yang meninggal dengan banyak luka di tubuh (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Suasana haru menyelimuti RS Bhayangkara TK. II Setukpa Sukabumi, Jumat (20/2/2026), saat proses otopsi jenazah NS (12 tahun), warga Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi yang meninggal dunia dengan sejumlah luka di tubuhnya, dinyatakan rampung.

Pantauan sukabumiupdate.com di lokasi, ayah korban, Anwar Satibi, tak kuasa menahan tangis ketika jenazah putranya dibawa keluar dari ruang forensik dan dimasukkan ke ambulans. Ia tampak terpukul, berdiri tak jauh dari pintu ruangan, menyaksikan langsung proses tersebut dengan mata sembab.

Kasus meninggalnya NS menyita perhatian publik. Polisi masih harus menunggu hasil otopsi untuk memastikan penyebab kematian korban, menyusul ditemukannya sejumlah luka di tubuh anak tersebut.

Baca Juga: Hadapi PSM Makassar, Persija Jakarta Jaga Asa Menuju Tangga Juara

Anwar menuturkan, keputusannya meminta otopsi bukan tanpa pertimbangan. Ia mengaku ingin memastikan penyebab kematian anaknya agar tidak muncul tudingan tanpa dasar.

“Kenapa saya ingin diotopsi karena saya ingin tau, ingin memastikan, saya nggak bisa nuduh sembarangan, nanti fitnah, nanti saya juga dituntut sama orang, makanya saya minta tolong saya mau otopsi,” ujar Anwar kepada sukabumiupdate.com, Jumat (20/2/2026).

Ia bahkan menyebut, rencana otopsi hampir dibatalkan karena rasa kasihan terhadap kondisi anak. Namun ia memilih melanjutkan demi menghindari rasa penasaran berkepanjangan.

Baca Juga: Kakorlantas Pastikan Jalur Fungsional Tol Bocimi Seksi 3 Siap Dipakai Saat Lebaran 2026

Di tengah duka mendalam, Anwar juga menyampaikan pesan kepada para orang tua agar tetap mempertahankan rumah tangga demi anak. “Pesan saya kepada teman teman saya, serusak apapun rumah tangga kalian pertahankan, jangan sampai anak kalian diasuh oleh ibu tiri,” katanya.

Ia mengakui, selama ini jarang berada di rumah karena tuntutan pekerjaan di bidang jasa panggilan. “Jujur saya jarang di rumah, karena profesi saya di bidang jasa panggilan, jadi saya jarang di rumah, hanya pulang sesekali,” ungkapnya.

Menurut Anwar sehari-hari anaknya tinggal bersama ibu sambung, dan adiknya. Namun sang adik juga tidak menetap di rumah. “Di rumah tinggal dengan ibu nya, dan adik saya, tapi adik saya nggak sering ada di rumah, nggak menetap, hanya sesekali saja,” ujarnya.

Baca Juga: Ngabuburit Adem di Pantai Cempaka Ratu Sukabumi, Teduh di Bawah Rindangnya Pandan Laut

Hingga kini, pihak kepolisian masih menunggu hasil resmi autopsi sebagai dasar untuk memastikan penyebab kematian NS. Hasil tersebut akan menentukan langkah penyelidikan lebih lanjut atas kasus yang menjadi perhatian warga Jampangkulon ini.

Duka mendalam masih menyelimuti keluarga. Bagi seorang ayah, autopsi bukan sekadar prosedur medis, melainkan ikhtiar terakhir untuk menemukan jawaban atas kepergian anaknya.

Banyak Luka Bakar

Hasil autopsi terhadap NS (12), warga Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, mengungkap adanya sejumlah luka bakar di beberapa bagian tubuh korban. Meski demikian, tim forensik belum dapat menyimpulkan secara pasti penyebab kematian dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium lanjutan.

Baca Juga: Catatkan Delapan Kemenangan Beruntun, Real Madrid Bidik 3 Poin Saat Bertandang ke Osasuna

Kepala Instalasi Forensik RS Bhayangkara TK. II Setukpa Sukabumi, Kombes dr. Carles Siagian, menjelaskan jenazah diterima pada Jumat dini hari setelah sebelumnya pihak rumah sakit menerima laporan dari Polres Kabupaten Sukabumi.

“Kami menerima jenazah dari polres kabupaten sukabumi pada hari kamis malam menerima laporan. Hari jum'at dini hari kami menerima jenazah. Pada hari ini pukul 09.00 dokter forensik melakukan otopsi jenazah,” ujarnya saat diwawancarai sukabumiupdate.com, Jumat (20/2/2026).

Dari hasil pemeriksaan luar dan dalam, ditemukan luka bakar di sejumlah anggota gerak korban. “Dari hasil ditemukan anak-anak usia 12 tahun dengan luka bakar di anggota gerak, di lengan, kaki kanan dan kiri. Kemudian ada beberapa luka juga di punggung dan luka bakar juga ada di area bibir dan hidung. Yang diduga karena luka bakar. Namun dokter forensik belum bisa menyimpulkan apakah ini dari sebuah penganiayaan atau bukan,” jelasnya.

Baca Juga: Laporan Wardatina Mawa Naik ke Tahap Penyidikan, Pihak Insanul Fahmi Bereaksi

Carles menegaskan, luka-luka tersebut secara medis belum dapat dipastikan sebagai penyebab kematian. “Penyebab kematian masih belum bisa disimpulkan karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan Kematian,” katanya.

Untuk memastikan ada tidaknya faktor lain, tim forensik melakukan pemeriksaan lanjutan melalui uji laboratorium dan mengirimkan sampel ke Jakarta. “Kita melakukan pemeriksaan laboratorium dan mengirimkan hasil ke Jakarta. Kami sedang menunggu Hasil untuk mengetahui apakah ada zat-zat lain di dalamnya,” ujarnya.

Terkait dugaan kekerasan, ia menyebut tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul pada tubuh korban. “Kekerasan tumpul tidak ada. Jadi ada luka di area bibir bagian atas dan dekat hidung tapi itu luka sudah lama tidak bisa dipastikan apakah sebelumnya kekerasan tumpul atau bukan sehingga menjadi luka,” terangnya.

Baca Juga: Wali Rilis Lagu Religi Romantika Badar & Uhud, Berikut Lirik dan Maknanya

Proses autopsi sendiri berlangsung cukup lama. “Sekitar 2,5 jam hampir 3 jam,” tambahnya.

Selain luka bakar di lengan, kaki dan paha kanan-kiri, tim forensik juga memeriksa organ dalam seperti jantung dan paru-paru. “Yang tadi diperiksa dari jantung dan paru. Paru-paru juga ada yang diperiksa karena sedikit membengkak. Tapi belum tahu apakah memang karena pada korban memang punya penyakit sebelumnya atau tidak,” ungkap Carles.

Ia menambahkan, kasus ini menjadi perhatian serius mengingat korban masih berusia anak-anak. Pihaknya bersama kepolisian berkomitmen menyampaikan hasil lengkap kepada publik setelah pemeriksaan laboratorium rampung.

Baca Juga: Film Para Pencari Tuhan Jilid 19: Ini Sinopsis, Daftar Pemain, dan Jadwal Tayangnya

“Ini memang menjadi perhatian terus terang karena seorang anak yang kita juga sangat sayangkan sudah tidak ada. Kita juga sangat ingin memberikan informasi kepada publik apakah ini sebuah diduga kekerasan atau tidak. Apakah memang anak ini sakit sebelumnya dan meninggal. Kita bersama-sama teman-teman dari polres kita pasti akan umumkan,” pungkasnya.

 

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini