SUKABUMIUPDATE.com - Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Kampung Pajagan RT 03/11, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, kian memprihatinkan. Tumpukan sampah yang menggunung dikeluhkan warga karena menimbulkan bau menyengat, aliran air lindi (air sampah) hingga menjadi sarang tikus. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan serta mengancam kesehatan lingkungan permukiman sekitar.
Salah seorang warga berinisial HA mengungkapkan, kondisi kumuh tersebut merupakan dampak dari pemindahan lokasi TPS yang dilakukan sekitar empat tahun lalu. Sebelumnya, fasilitas pembuangan sampah berada di dekat Jalan Nasional Bogor–Sukabumi dengan kondisi tertata rapi, bertembok tinggi, dan beratap.
“Dulu pertama kali tempat sampah itu ada di paling depan, dekat jalan nasional, tertata rapi sehingga sampah tidak berserakan. Namun setelah pengurus RT/RW berganti, lokasi dipindahkan lebih masuk mendekati rumah warga dengan alasan akses pembuangan lebih dekat,” ujar HA kepada sukabumiupdate.com, Selasa (27/1/2026).
Kondisi semakin memburuk dalam setahun terakhir. Pengelolaan yang awalnya berjalan cukup baik kini dinilai telantar. Warga dan penghuni kontrakan sebenarnya dibebani iuran sampah sebesar Rp20.000 per bulan, namun pada praktiknya banyak yang tidak membayar.
Baca Juga: Ngeri! Ular Kobra Jawa Ngumpet di Sela Kasur Kamar Anak di Cimanggu Sukabumi
Ironisnya, tumpukan sampah tersebut tidak hanya berasal dari warga setempat. Lokasi yang berada di jalan pintas menuju pabrik membuat warga dari luar wilayah kerap ikut membuang sampah sembarangan tanpa mengenal waktu.
Akibatnya, dampak lingkungan yang dirasakan warga kini sudah pada tahap mengkhawatirkan. Saat hujan turun, air kotor dari tumpukan sampah mengalir langsung ke depan rumah warga.
“Air kotornya mengalir ke pemukiman, itu bahaya. Sekarang juga banyak tikus got berkeliaran yang dulunya tidak ada. Selain itu, ada saja orang yang membuang bangkai kucing ke situ, jadi baunya makin busuk,” ungkap HA.
Lahan milik Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat yang dulunya bersih dan menjadi tempat bermain anak-anak itu kini berubah menjadi sumber penyakit.
Baca Juga: Asap Muncul dari Dapur, Kebakaran Resto Parantina Jalur Lingsel Diduga Dipicu Korsleting
Lebih lanjut HA menyampaikan, bahwa upaya warga melapor ke pihak RT baru membuahkan hasil sebatas kerja bakti pemindahan arah tumpukan sampah agar menjauh dari permukiman dan mengarah ke jalan nasional. Namun, cara tersebut dinilai belum menyelesaikan masalah.
“Dalam kenyataannya, sampah tetap berserakan karena masih ada warga yang buang tidak di tempatnya,” kata HA.
Ia juga menyoroti faktor pengelolaan sampah yang dinilai kurang maksimal. Menurut pengamatannya, truk pengangkut sampah dari pemerintah kerap datang dalam kondisi sudah terisi, sehingga sampah di lokasi tidak terangkut seluruhnya.
“Yang diangkut tidak semuanya, mungkin setengah atau seperempatnya saja karena mobil sudah penuh,” ujarnya.
Warga kemudian mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan pemerintah setempat untuk segera membenahi sistem pengelolaan ini. Mereka berharap tempat pembuangan tersebut ditata kembali secara layak, dikelola dengan tegas, dan dipastikan diangkut hingga tuntas agar tidak ada sisa sampah yang terus menumpuk setiap hari.
“Harapan kami sampah tidak terus menumpuk setiap hari dan pengelolaannya bisa lebih baik,” pungkasnya.





