SUKABUMIUPDATE.com - Nusa Putra University (NPU) kembali menggelar program bulanan bergengsi bertajuk Ambassador Talk pada Rabu (21/1/2026). Bertempat di Auditorium Nusa Putra University, acara kali ini menghadirkan narasumber spesial, yakni Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Anis Matta.
Dalam diskusi tersebut, Anis Matta membedah isu geopolitik global dan kaitannya dengan masa depan generasi muda Indonesia. Ia mengaku terkesan dengan ekosistem internasional yang ada di kampus tersebut.
"Saya kaget karena di sini ada banyak mahasiswa asing, sekitar 460 orang dari 80 negara lebih. Ini diskusi yang sangat produktif," ujar Anis Matta saat diwawancarai sukabumiupdate.com sesaat setelah usai kegiatan.
Baca Juga: Angkut Pasien dan Keluarganya, Ambulans Desa Tertimpa Pohon di Nyalindung Sukabumi
Isu Geopolitik Menjadi Isu Domestik Meski mengangkat tema yang cukup berat, Anis Matta mengapresiasi daya kritis para mahasiswa. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menunjukkan keterlibatan intelektual yang dalam terhadap isu global.
"Saya pikir ini tema yang berat, tapi ternyata para mahasiswa sangat antusias dan menyampaikan banyak pertanyaan yang 'berat-berat'. Ini waktunya kita mengubah isu-isu geopolitik menjadi isu sehari-hari atau isu domestik, karena hal ini mempengaruhi seluruh kehidupan kita," tambahnya.
Inspirasi bagi Generasi Muda Rektor Nusa Putra University, Kurniawan, menyampaikan bahwa kehadiran Wamenlu sangat tepat dengan visi kampus dalam memberikan perspektif global kepada mahasiswanya.
Baca Juga: Soal Upah dan BPJS Pekerja, Sidak DPRD Sukabumi ke Perusahaan AMDK di Cidahu
"Ini adalah program rutin Ambassador Talk kami setiap bulan. Kehadiran Pak Wamenlu sangat tepat untuk memberi perspektif bagaimana positioning Indonesia dan kondisi global saat ini. Ini sangat menarik dan menjadi inspirasi buat anak muda," kata Kurniawan.
Terkait keberagaman mahasiswa asing di NPU, Kurniawan juga mengungkapkan harapannya untuk terus bersinergi dengan Kementerian Luar Negeri.
"Tadi disampaikan bahwa kita memiliki mahasiswa dari 86 negara, sementara Kementerian memiliki jaringan di 170 negara. Sisanya, kita meminta dukungan Kemenlu untuk membantu mendatangkan lebih banyak mahasiswa asing lagi ke tempat kita," pungkasnya. (*)





