TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
bankbjb

FDA Izinkan Pengobatan Pakai Kotoran Manusia untuk Cegah Kematian Penyakit Ini!

Metode pengobatan ini dilakukan dengan cara memberikan cairan ke dalam rektum atau usus pasien melalui selang, sehingga dokter bisa memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus pasien.

Sabtu 3 Des 2022, 23:00 WIB

Ilustrasi Bakteri C.diff yang Sebabkan Diare | Foto: iStock Dr Microbe

SUKABUMIUPDATE.com - Pengawas Obat dan Makanan AS atau FDA akhirnya menyetujui metode pengobatan yang terbuat dari kotoran manusia yang disebut sebagai Rebyota. Pengobatan tersebut akan menjadi yang pertama di dunia.

Melansir dari Suara.com, Rebyota merupakan metode yang mengandung bakteri usus yang dikumpulkan dari tinja pendonor sehat dan mencegah penyakit mengancam jiwa.

Metode pengobatan ini dilakukan dengan cara memberikan cairan ke dalam rektum atau usus pasien melalui selang, sehingga dokter bisa memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus pasien.

Baca Juga: Sebabkan Kandung Kemih Seorang Pria Pecah, Apa Itu Herpes Zoster?

Dampaknya sekumpulan mikrobiota ini berkumpul di saluran pencernaan bawah, sehingga jika pasien sakit karena bakteri jahat di dalam tubuh lebih banyak, maka pengobatan ini menambah jumlah bakteri baik sehingga lebih kuat melawan penyakit.

Mengutip dari Live Science, Sabtu (3/12/2022) pengobatan ini diizinkan diberi pada orang usia 18 tahun ke atas, yang baru saja dirawat karena infeksi berulang akibat bakteri Clotridioides diffivile atau C.diff yang membuat usus terganggu karena penggunaan antibiotik.

Sehingga bakteri yang tidak bisa lagi diatasi dengan antibiotik atau resisten antibiotik maka pengobatan ini bisa membantu.

Pengobatan ini juga diizinkan untuk orang usia 65 tahun ke atas, mereka dengan sistem kekebalan tubuh lemah, dan yang tinggal di panti jompo dengan risiko terinfeksi penyakit.

Adapun bakteri C.diff menginfeksi tubuh dengan cara melepaskan racun yang menyebabkan diare, sakit perut, demam dan radang usus besar atau kolitis.

Jika tidak segera ditangani penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan fungsi organ atau gagal organ yang bisa menyebabkan kematian.


Halaman :
Berita Terkait
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini
x