SUKABUMIUPDATE.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan sikap keras pemerintah dalam mengusut tuntas kasus penyerangan air keras terhadap Wakil Koordinator Kontras, Andrie Yunus. Presiden menginstruksikan jajarannya untuk tidak hanya menangkap eksekutor lapangan, tetapi juga mengungkap aktor intelektual di balik aksi tersebut.
Dalam sesi tanya jawab kepada awak media di Hambalang, Bogor, yang berlangsung sejak Rabu malam (18/3) hingga Kamis dini hari (19/3/2026), Prabowo menekankan bahwa penegakan hukum harus menyentuh hingga akar masalah.
"Siapa yang menyuruh, siapa yang membayar (harus terungkap)," kata Prabowo dalam keterangan yang dirilis Sekretariat Presiden pada Kamis (19/3/2026).
Presiden Prabowo juga menyoroti adanya dugaan keterlibatan oknum aparat negara dalam kasus ini. Ia menjamin proses hukum akan berjalan transparan tanpa pandang bulu, meski melibatkan anggota institusi keamanan.
"Ya jelas dong, tidak akan (ada impunitas). Saya menjamin," tegasnya.
Baca Juga: Memiliki Kepribadian Kritis, Sosok Andrie Yunus Aktivis Kontras di Mata SMAN 1 Cicurug Sukabumi
Prabowo mengutuk keras tindakan penyiraman air keras tersebut dan melabelinya sebagai "terorisme yang biadab". Ia menegaskan tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan terhadap warga negara, terlebih kepada aktivis yang menyuarakan kritik.
Sebelumnya dua orang tak dikenal menyiram air keras kepada Andrie Yunus di kawasan Jalan Talang, Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Andrie kemudian menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada Jumat dini hari, 13 Maret 2026, sekitar pukul 00.00 WIB.
Akibat kejadian tersebut, Andrie mengalami luka bakar hingga 24 persen. Tim medis yang terdiri atas enam dokter dari berbagai spesialisasi, yaitu mata, THT, saraf, tulang, toraks, penyakit dalam, dan kulit, kini menangani Andrie.
Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya menyebut dua penyerang Andrie berinisial BHC dan MAK. Polisi menampilkan foto keduanya dalam konferensi pers di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 18 Maret 2026.
Pada hari yang sama, Pusat Polisi Militer Tentara Nasional Indonesia atau Puspom TNI mengumumkan penahanan empat orang berinisial NDP, SL, BWH, dan ES yang diduga terlibat dalam serangan. Keempatnya merupakan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dari matra udara dan laut.




