SUKABUMIUPDATE.com - Peneliti Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) angkat bicara soal temuan bengkuang raksasa di Kampung Sukamaju, Desa Warnajati, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi yang sempat menjadi sorotan. Seperti diketahui, bengkuang tersebut memiliki berat 16 kilogram, lebar 43 sentimeter dan tinggi 26 sentimeter.
Akademisi sekaligus Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian UMMI, Neneng Kartika Rini menilai, banyak faktor yang bisa mempengaruhi bengkuang tersebut tumbuh melebihi ukuran normal. Mulai dari kondisi lingkungan dan tanah, faktor hormon, serta faktor genetik.
"Kalau dilihat dari faktor kondisi lingkungan, tanah yang banyak mengandung unsur hara bisa digunakan tumbuhan sehingga cadangan makanan pada umbi akar menjadi lebih banyak. Perlu dicek seperti apa kondisi tanah tempat tumbuhnya," kata Neneng kepada sukabumiupdate.com, Kamis (30/8/2018).
"Faktor lainnya, adalah faktor hormon. Hormon pada tanaman itu banyak jenisnya. Yang mempengaruhi pertumbuhan akar, batang, tunas atau daun. Hormon yang berpengaruh bagi pertumbuhan akar adalah auxin. Auxin disebarkan dalam tubuh tanaman melalui xylem dan floem. Xylem terdapat pada bagian akar. Jika auxin berlebih, maka bisa jadi pertumbuhan umbi akar akan lebih besar pula, melebihi pertumbuhan normal," lanjut Neneng memaparkan.
Kemudian, lanjut Neneng, dilihat pula faktor genetik dari benih umbinya. Apakah gen pada bagian umbi mengalami mutasi atau multiplikasi, sehingga ukuran bengkuang normal melebihi dan lebih besar.
BACA JUGA: Bengkuang 'Raksasa' di Cibadak Sukabumi Jadi Tontonan Warga
"Sebetulnya itu hal yang biasa di dunia pertanian. Tapi memang di masyarakat masih dianggap hal yang fenomenal karena jarang terjadi. Sebaiknya bengkuang tersebut jangan dikonsumsi dulu, kahwatir ada kandungan hormon yang berlebih atau adanya mutasi gen yang membahayakan bagi kesehatan. Sebaiknya dilakukan dulu uji laboratorium terhadap kandungan bengkuang, dan kandungan unsur hara tanah," tandas Neneng.










