SUKABUMIUPDATE.com - Kentongan atau yang dikenal dengan sebutan kohkol dalam budaya Sunda merupakan alat komunikasi tradisional yang umumnya dibuat dari bambu. Ketika dipukul, alat ini menghasilkan suara yang keras dan nyaring sehingga mampu terdengar hingga jarak yang cukup jauh.
Di balik bentuknya yang sederhana, kentongan menyimpan kecerdasan masyarakat zaman dahulu. Alat ini bukan hanya berfungsi sebagai penghasil bunyi, tetapi juga menjadi media komunikasi yang menggunakan pola ketukan sebagai kode tertentu.
Dengan sistem tersebut, warga dapat memahami pesan yang disampaikan hanya dari irama pukulan tanpa harus mengetahui siapa yang memukulnya.
Baca Juga: Sidomba Kuningan: Wisata Keluarga dengan Penangkaran Rusa, Hutan Pinus, dan Camp Ground
Sebagai contoh, bunyi kentongan dengan pola satu kali-satu kali di beberapa daerah dipercaya sebagai pertanda adanya warga yang meninggal dunia. Sementara pola dua kali-dua kali sering digunakan sebagai tanda terjadinya pencurian atau gangguan keamanan. Setiap daerah biasanya memiliki kesepakatan tersendiri mengenai arti dari setiap irama kentongan.
Warisan yang ditinggalkan leluhur bukan hanya berupa alat yang terbuat dari bambu, tetapi juga sebuah sistem komunikasi yang sederhana, efektif, dan mudah dipahami oleh seluruh masyarakat.
Tak heran jika kentongan masih tetap digunakan hingga sekarang sebagai simbol kebersamaan, gotong royong, sekaligus kewaspadaan warga.
Lantas, bagaimana asal-usul kentongan dan sejak kapan alat ini mulai digunakan? Berikut sejumlah fakta menarik yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Berawal dari kebutuhan manusia untuk berkomunikasi
Sebelum hadirnya surat, telepon, radio, hingga pengeras suara, masyarakat membutuhkan cara untuk menyampaikan informasi kepada banyak orang dalam waktu singkat. Kebutuhan tersebut kemudian melahirkan kentongan sebagai salah satu alat komunikasi paling efektif pada masanya.
Bunyi yang dihasilkan dari bambu atau kayu yang dipukul mampu menjangkau area yang luas, terutama di wilayah pedesaan dan pegunungan. Karena itu, kentongan kemudian dikenal sebagai salah satu sistem peringatan dini yang digunakan masyarakat Nusantara sejak zaman dahulu.
2. Telah dikenal sejak masa kerajaan
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa kentongan sudah digunakan sejak era kerajaan-kerajaan di Nusantara. Di Pulau Jawa, alat ini dimanfaatkan di lingkungan keraton maupun permukiman warga untuk memanggil masyarakat, memberi peringatan bahaya, hingga menandai dimulainya ronda malam.
Menariknya, setiap daerah memiliki pola bunyi yang berbeda. Ada irama yang menandakan kondisi aman, sementara pola lainnya menjadi isyarat kebakaran, pencurian, atau bencana. Karena menggunakan kode bunyi tertentu, kentongan kerap disebut sebagai "bahasa Morse" tradisional masyarakat Nusantara.
3. Dikaitkan dengan legenda Laksamana Cheng Ho
Selain berdasarkan catatan sejarah, terdapat pula kisah yang menghubungkan kentongan dengan Laksamana Cheng Ho. Dalam legenda tersebut diceritakan bahwa Cheng Ho mengenal alat serupa ketika melakukan pelayaran pada abad ke-15 dan memperkenalkannya ke berbagai wilayah Asia.
Meski demikian, kisah tersebut masih sebatas legenda budaya. Banyak sejarawan berpendapat bahwa masyarakat Nusantara kemungkinan telah mengenal dan menggunakan kentongan jauh sebelum masa pelayaran Cheng Ho.
4. Berkembang menjadi simbol kebersamaan masyarakat
Seiring berjalannya waktu, fungsi kentongan tidak lagi sebatas alat pemberi tanda bahaya. Kehadirannya juga dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas sosial dan keagamaan, seperti mengajak warga bergotong royong, mengundang rapat desa, menandai jadwal ronda malam, membangunkan sahur selama Ramadan, memberi penanda waktu salat sebelum adanya pengeras suara, hingga menjadi bagian dari pertunjukan seni tradisional.
5. Tetap relevan di tengah kemajuan teknologi
Meski kini masyarakat telah memiliki telepon seluler dan berbagai perangkat komunikasi modern, kentongan masih tetap dipertahankan di banyak daerah. Alasannya sederhana, alat ini memiliki sejumlah kelebihan yang sulit tergantikan.
Kentongan tidak memerlukan listrik, menghasilkan suara yang keras dan mudah dikenali, tetap dapat digunakan ketika jaringan komunikasi terganggu, biaya pembuatannya relatif murah karena menggunakan bahan lokal, serta telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Indonesia.
Hingga kini, kentongan masih dapat dijumpai di berbagai pos ronda dan balai desa. Bahkan saat terjadi pemadaman listrik atau bencana yang menyebabkan jaringan komunikasi lumpuh, kentongan tetap menjadi alat yang efektif untuk menyampaikan peringatan kepada warga sekitar.


