Persib Bandung dan Jejak Kejayaan yang Tak Pernah Padam di Sepak Bola Indonesia

Sukabumiupdate.com
Sabtu 23 Mei 2026, 21:21 WIB
Persib Bandung dan Jejak Kejayaan yang Tak Pernah Padam di Sepak Bola Indonesia

Starting line up Persib Bandung di laga menghadapi Selangor FC (Sumber : Instagram/@luchoguayco).

SUKABUMIUPDATE.com - Persib Bandung mencatat sejarah gemilang di sepak bola nasional setelah menjadi klub Indonesia pertama yang sukses meraih gelar juara kompetisi kasta tertinggi selama tiga musim beruntun. Kepastian hat-trick juara, setelah sebelumnya memenangkan musim 2023/24 dan 2024/25, diperoleh Maung Bandung usai bermain imbang tanpa gol melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu, 23 Mei 2026.

Hasil seri tersebut cukup membawa Persib mengamankan posisi teratas klasemen akhir dengan koleksi 79 poin. Meski Borneo FC juga mengoleksi poin serupa setelah mengalahkan Malut United, Persib tetap memastikan diri menjadi juara karena unggul dalam catatan head-to-head.

Berbicara tengant Persib, klub kebanggan masyarakat Jawa Barat ini merupakan klub sepak bola asal Kota Bandung, Jabar, yang saat ini berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Liga 1.

Baca Juga: Persib Juara Super League, Konvoi Bobotoh Padati Exit Tol Parungkuda Sukabumi

Sebelum nama Persib dikenal luas, di Bandung telah berdiri organisasi sepak bola bernama Bandoeng Inlandsche Voetball Bond (BIVB) sekitar tahun 1923. Pada masa itu, BIVB bukan hanya sekadar organisasi olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan kaum nasionalis. Tokoh yang tercatat pernah memimpin BIVB adalah Mr. Syamsudin, sebelum estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh R. Atot, putra dari pejuang emansipasi wanita Dewi Sartika.

R. Atot juga dikenang sebagai Komisaris Daerah Jawa Barat pertama. Dalam aktivitasnya, BIVB menggunakan lapangan Tegallega yang berada di depan tribun pacuan kuda sebagai markas pertandingan. Tim ini pun beberapa kali melakukan laga di luar kota, termasuk ke Yogyakarta dan Jatinegara, Jakarta.

Pada 19 April 1930, BIVB bersama sejumlah perkumpulan sepak bola lain seperti VIJ Jakarta, SIVB (kini Persebaya), MIVB atau PPSM Magelang, MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta), turut berperan dalam lahirnya PSSI melalui pertemuan di Societeit Hadiprojo, Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut, BIVB diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun setelahnya, kompetisi tahunan antar-perserikatan mulai digelar, dan BIVB sukses mencapai final pada 1933 meskipun harus mengakui keunggulan VIJ Jakarta.

Baca Juga: Euforia Persib Juara, Konvoi Ribuan Bobotoh Banjiri Jalanan Palabuhanratu

Setelah BIVB sempat menghilang, muncul dua organisasi baru bernuansa nasionalisme, yakni Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Kedua organisasi ini kemudian melebur pada 14 Maret 1933 dan melahirkan Persib, dengan Anwar St. Pamoentjak dipercaya sebagai ketua umum pertama. Beberapa klub yang bergabung ke dalam Persib antara lain SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.

Dalam perjalanan awalnya, Persib kembali tampil di final kompetisi perserikatan pada 1934, tetapi lagi-lagi harus kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun berselang, Persib kembali menembus partai puncak namun takluk dari Persis Solo. Penantian panjang itu akhirnya berakhir pada 1937, ketika Persib sukses meraih gelar juara setelah membalas kekalahan atas Persis di partai final.

Di Bandung pada masa itu juga telah berdiri sebuah perkumpulan sepak bola bentukan warga Belanda bernama VBBO (Voetbal Bond Bandung & Omstreken). Organisasi ini kerap memandang sebelah mata Persib Bandung dan menganggap Persib hanyalah klub “kelas dua”. Ejekan terhadap Persib pun sering dilontarkan oleh VBBO.

Baca Juga: Daftar Tim Degradasi Super League 2025/26: Persis Jadi Tim Terakhir yang Turun Kasta

Hal tersebut tidak lepas dari lokasi pertandingan Persib yang kala itu lebih banyak digelar di kawasan pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Sementara masyarakat saat itu cenderung lebih tertarik menyaksikan pertandingan VBBO karena dimainkan di area pusat kota yang dianggap lebih prestisius, yakni Lapangan UNI dan SIDOLIG.

Namun seiring waktu, Persib berhasil memenangkan persaingan tersebut dan menjadi klub sepak bola utama bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Beberapa klub yang sebelumnya berada di bawah naungan VBBO, seperti UNU dan SIDOLIG, akhirnya bergabung dengan Persib. 

Bahkan, VBBO kemudian menyerahkan lapangan-lapangan yang biasa mereka gunakan, seperti Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG yang kini dikenal sebagai Stadion Persib, serta Lapangan SPARTA yang sekarang menjadi Stadion Siliwangi. Kondisi ini semakin mempertegas posisi Persib sebagai kekuatan sepak bola di Bandung.

Baca Juga: Deretan Prestasi dan Rekor Pelatih Bojan Hodak Usai Bawa Persib Bandung Hattrick Juara

Saat Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang, seluruh aktivitas sepak bola yang dikelola organisasi lama dihentikan dan organisasinya dibubarkan. Situasi tersebut tidak hanya terjadi di Bandung, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Akibatnya, Persib pun mengalami masa vakum. Pemerintah kolonial Jepang saat itu membentuk organisasi olahraga baru bernama Rengo Tai Iku Kai sebagai wadah kegiatan olahraga.

Meski demikian, sebagai organisasi yang lahir dari semangat perjuangan, Persib tidak begitu saja tunduk kepada Jepang. Walaupun secara resmi nama Persib sempat diganti menggunakan istilah berbahasa Jepang, semangat, tujuan, dan perannya sebagai bagian dari perjuangan bangsa tetap tidak berubah.

Memasuki masa Revolusi Fisik setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan keberadaannya. Situasi perjuangan ketika itu membuat Persib tidak hanya aktif di Bandung, tetapi juga tersebar di sejumlah daerah seperti Tasikmalaya, Sumedang, hingga Yogyakarta. Pada periode tersebut, pasukan Siliwangi memang berhijrah ke Yogyakarta yang menjadi ibu kota perjuangan.

Baca Juga: Persib Cetak Sejarah: Raih "Hat-trick" Juara Super League dan Segel Bintang Kelima

Pada 1948, Persib akhirnya kembali berdiri di Bandung, kota kelahirannya. Ancaman dari Belanda kembali muncul ketika NICA berupaya menghidupkan lagi VBBO dengan nama berbahasa Indonesia. Sebagai bagian dari kekuatan nasionalis, Persib berusaha keras menggagalkan upaya tersebut. 

Dalam masa pendudukan NICA itu, Persib dibangun kembali berkat peran sejumlah tokoh seperti dr. Musa, Munadi, H. Alexa, dan Rd. Sugeng, dengan Munadi dipercaya sebagai ketua.

Perjuangan tersebut membuahkan hasil. Di Bandung akhirnya hanya ada satu perkumpulan sepak bola yang berlandaskan nasionalisme, yakni Persib. Dekade 1950-an kemudian menjadi periode penting bagi perkembangan organisasi klub. 

Baca Juga: Meski Ditahan Imbang Persijap, Persib Bandung Pastikan Gelar Juara

Pada rentang 1953 hingga 1957, Persib mengakhiri masa berpindah-pindah sekretariat setelah Wali Kota Bandung saat itu, R. Enoch, membangun sekretariat di kawasan Cilentah. Selanjutnya, berkat upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat tetap di Jalan Gurame yang masih digunakan hingga sekarang.

Pada periode tersebut, Persib Bandung mulai membangun reputasinya sebagai salah satu kekuatan besar di kompetisi Perserikatan. Sepanjang keikutsertaannya di ajang itu, Persib berhasil meraih gelar juara sebanyak empat kali, yakni pada 1961, 1986, 1990, dan musim terakhir Perserikatan pada 1994. Selain itu, Persib juga beberapa kali finis sebagai runner-up, tepatnya pada 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.

Ketangguhan Persib yang kala itu dipimpin Robby Darwis berlanjut pada era Liga Indonesia. Klub kebanggaan Bobotoh tersebut sukses menjuarai Liga Indonesia edisi perdana pada 1995. Menariknya, Persib mampu menembus dominasi klub-klub eks Galatama meski tanpa diperkuat pemain asing. 

Saat sebagian besar tim unggulan dari eks Galatama menguasai babak penyisihan dan mengirim tujuh wakil ke fase delapan besar, Persib justru tampil sebagai kampiun setelah menaklukkan Petrokimia Putra lewat gol tunggal Sutiono Lamso pada menit ke-76.

Namun setelah keberhasilan itu, performa Persib sempat mengalami penurunan. Situasi terberat terjadi pada 2003 ketika mereka nyaris terdegradasi ke Divisi I. Beruntung, melalui perjuangan di babak playoff, tim berjuluk Maung Bandung tersebut mampu mempertahankan tempatnya di Divisi Utama.

Selain dikenal sebagai tim kuat di level klub, Persib juga memiliki reputasi sebagai salah satu penyumbang pemain terbanyak untuk tim nasional Indonesia, baik kelompok usia maupun senior. Sejumlah nama besar seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Adjat Sudradjat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nuralim, Yaris Riyadi, hingga Erik Setiawan merupakan pemain-pemain binaan Persib yang pernah memperkuat timnas.

Sejak 9 September 2009, Persib memasuki babak baru dengan bertransformasi menjadi klub profesional yang dikelola oleh PT Persib Bandung Bermartabat.

Di era Perserikatan, Persib tercatat mengoleksi lima gelar juara, yaitu pada 1937, 1961, 1986, 1989–1990, dan 1993–1994. 

Sementara di era Liga Indonesia, termasuk Liga 1, Persib telah meraih lima gelar juara, yakni musim 1994–1995, 2014, 2023–2024, 2024–2025, serta Super League 2025–2026. Gelar terakhir tersebut sekaligus mengukuhkan Persib sebagai juara tiga musim berturut-turut.

Sumber: Kota Bandung-Berbagai Sumber.

 

Berita Terkait
Berita Terkini