TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
bankbjb

Sepak Terjang Civil Police dan Pao An Tui di Sukabumi: Revolusi Kemerdekaan 1945-1949

Penulis
Minggu 28 Agt 2022, 17:00 WIB

3. Sumatera :

a. Sumatera Utara (karesidenan Sumatera Timur)

b. Sumatera Tengah (bagian karesidenan Sumatera Barat)

c. Sumatera Selatan (bagian karesidenan Palembang).

Mensikapi agresi militer Belanda ke-1 tanggal 21 Juli 1947, orang-orang Tionghoa yang berada di Sukabumi pada khususnya dan Indonesia pada umumnya terutama Civil Police Tionghoa (Cina) yang memang sejak masuknya tentara Inggris ke Indonesia pasca Perang Dunia ke-2 orang Tionghoa kebanyakan memihak Inggris dan Belanda, (( hal tersebut pertama diketahui pada saat pertempuran Inggris dengan Arek-Arek Suroboyo 10 November 1945 secara nyata Pao An Tui (tentara sukarela penjaga kesejahteraan orang Cina/Tionghoa) membantu tentara Inggris)), untuk itu lalu orang-orang keturunan Tionghoa mengadakan rapat di Jakarta dari 24-26 Agustus 1947 yang disponsori oleh Chung Hua Chung Hui (persatuan konglomerat Tionghoa). Rapat tersebut menghasilkan beberapa keputusan diantaranya membentuk Pao An Tui pada 28 Agustus 1947. Terbentuknya Pao An Tui di Jakarta mendapat sambutan positif dari Pemerintah Belanda dan direstui oleh Panglima Tertinggi Tentara Belanda yaitu Jenderal Simoon Hendrik Spoor dengan mengeluarkan Ordonansi No.516 tanggal 12 September 1947 tentang Pao An Tui. Pengurus pusat Pao An Tui di Jakarta kemudian membentuk cabang di kota-kota besar pulau Jawa dan Sumatera juga dikota-kota kecil termasuk di Sukabumi.

Keterlibatan orang-orang Cina dan C.P Tionghoa dalam Agresi Militer ke-1 oleh Belanda pada 21 Juli 1947 terutama pada waktu menyerbu Kota Praja Sukabumi diceritakan oleh bapak Adang (107 tahun) seorang veteran 1945 dari Laskar Hizbullah Sukaraja Sukabumi, bahwa pada saat “Bedah-nya Kota Sukabumi” pada Bulan Romadlon tahun 1947 masehi, pasukan Belanda dari arah Bogor menyerbu ke Sukabumi melalui jalan raya Cigombong-Cicurug sebab pertahanan T.R.I dan laskar rakyat didaerah Cicurug sudah dijebol tentara Belanda dan dibantu oleh orang-orang Cina, sehingga pasukan tentara Belanda akhirnya menyerbu ke Kota Praja Sukabumi yang mendapat perlawanan hebat dari T.R.I dan laskar Hizbullah, laskar Pesindo, laskar Banteng, Brigade-17 TRIP Sukabumi dan lain-lain. Pertempuran yang dahsyat terjadi guna menahan gerak laju pasukan Belanda yang akan merebut Kota Praja Sukabumi yang merupakan  Markas Brigade II Suryakancana/Siliwangi pimpinan Kapten Harun Kabir yang mengungsi dari Bogor. Penghadangan mulai dari Cisaat dengan memasang ranjau darat, memasang rintangan dijalan dan menghancurkan jembatan sungai Cigunung dan Cipelang serta penempatan pasukan tempur. Pada pertempuran tersebut T.R.I dan laskar rakyat terdesak oleh pasukan Belanda, dan mundur ke daerah perempatan jalan Nanggeleng yang sekarang dikenal dengan perempatan Sigodeg jalan Pelda R.E Suryanta. Terkait penamaan perempatan Sigodeg tersebut diambil dari julukan Pelda R.E Suryanta yang waktu itu dijuluki nama “Sigodeg” sebabnya wajah beliau brewok dan beliau selalu bertugas jaga diperempatan jalan Nanggeleng tidak jauh dari pabrik senjata “PT.Barata” yang sebagian mesinnya diambil dari Kota Jepang Hiroshima-2 di Tegalpanjang dan tak jauh rumah RH Didi Soekardi ayah dari Letkol Eddi Soekardi. Pada waktu itu sebagian pejuang banyak yang brewok dan berambut gondrong sebab jangankan mengurusi rambut maupun penampilan, untuk makan dan beli pakaian saja sulit. Selanjutnya T.R.I dan laskar rakyat semakin terdesak dan mundur ke arah Jubleg-Baros dipinggir sungai Cimandiri, lalu mundur ke daerah Sagaranten dan Sukabumi Selatan dan bertahan disana.

Sukabumi Timur Basis Pertahanan Terakhir Kota Praja Sukabumi.

Pertahanan T.R.I dan laskar rakyat didaerah Gekbrong-Sukalarang (Tugu Harimau) cukup alot untuk dijebol sebab pertahanannya kuat, meskipun pada akhirnya dapat dijebol juga oleh tentara Belanda yang dibantu oleh orang Cina melalui jalan Cikancana-Lampegan Cianjur (bukti keterlibatan orang Cina pada Agresi Militer Belanda ialah adanya makam orang-orang Cina di Cijoho Warungkondang Cianjur yang mati dalam pertempuran Cijoho dihari kedua Ramadlan 1947 dan di Ciharegung Bencoy Kec.Cireunghas). Dan terjadilah pertempuran yang hebat antara T.R.I dan laskar rakyat melawan tentara Belanda didaerah Gekbrong pada hari keempat bulan Ramadlan 1947, yang akhirnya tentara Belanda berhasil menguasai stasiun kereta api Cireunghas, untuk selanjutnya T.R.I dan para pejuang mundur ke arah Gegerbitung-Takokak Cianjur dan sebagian lagi mundur ke arah Sasagaran-Kec.Kebonpedes yang merupakan basis laskar Hizbullah pimpinan K.H Ahmad Sanusi Gunung Puyuh Kota Praja Sukabumi.

Perihal keterlibatan Civil Police Tionghoa/Cina dalam Agresi Militer ke-1 Belanda ke Sukabumi berdasarkan informasi yang kami serap dari almarhum kakek kami bapak Itjang Mintapradja (lahir 1927) merupakan purnawirawan Polri angkatan pertama, semasa hidupnya beliau sering menceritakan bahwa semasa muda beliau mendaftar menjadi Keibodan (pembantu polisi jaman Jepang) di Sekolah Polisi Sukabumi (sekarang Setukpa Polri Sukabumi), lalu setelah lulus beliau dan rekan-rekannya diperbantukan membangun Kota Jepang Hiroshima-2 mulai dari Sukalarang sampai ke Tegalpanjang dan menjaga keamanannya serta sering menceritakan bahwa dahulu di Gunung Suta Kec. Sukalarang dan tempat yang ada Gerbang PUSDIKLAT SECAPA POLRI SUKABUMI 1993 merupakan tempat latihan Keibodan (pembantu polisi Jepang).                                       

 Selanjutnya pasca bala tentara Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945 dan disusul pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, bapak Itjang Mintapradja mendaftarkan diri menjadi Polisi Negara RI di Sekolah Polisi Sukabumi yang sekarang menjadi Setukpa Polri Sukabumi dan seterusnya turut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI di Sukabumi bersama TKR dan rakyat dari serangan tentara Gurkha. 


Editor
Halaman :
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini
x