Di Balik Meninggalnya Calon Manajer Kopdes saat Latihan Militer, Ini 3 Faktanya

Sukabumiupdate.com
Minggu 28 Jun 2026, 12:41 WIB
Di Balik Meninggalnya Calon Manajer Kopdes saat Latihan Militer, Ini 3 Faktanya

Diklat Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa Merah Putih dan KNMP Tahun 2026 di Apron Skadron 45 Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu (17/6/2026). (Sumber : Instagram/@lanud_halim_perdanakusuma).

SUKABUMIUPDATE.com - Meski telah menelan lima korban jiwa hanya dalam waktu sepuluh hari, Kementerian Pertahanan memastikan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) untuk calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih akan tetap berjalan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal Ketut Gede Wetan Pastia, menyatakan pelatihan tersebut tetap dilaksanakan karena dinilai memiliki peran penting dalam mendukung dua program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada penguatan ekonomi berbasis kerakyatan.

“Karena itu, pembentukan calon pengelola koperasi yang berkarakter, berintegritas, disiplin, memiliki jiwa ketimuran menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan nasional dan pertahanan negara secara luas,” kata Ketut dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta, pada Sabtu, 27 Juni 2026.

Baca Juga: Ketika Korupsi Pejabat Pribumi Sudah Dibongkar Sejak 1860

Gelombang pertama Latsarmil berlangsung pada 17 Juni hingga 31 Juli 2026 dengan total 35.476 peserta. Mereka terdiri atas 30 ribu calon pengelola Kopdes Merah Putih dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih.

Berikut sederet persoalan dalam pelaksanaan Latsarmil tersebut, dikutip dari Tempo.co:

1. 5 Peserta Meninggal

Hingga sepuluh hari pelaksanaan, lima peserta dilaporkan meninggal. Mereka adalah Nola Dya Sari, Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.

Nola Dya Sari yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Bela Negara Kalimantan meninggal pada 26 Juni 2026 setelah mengeluhkan sesak napas dan demam. Pada hari yang sama, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, peserta di Satuan Pendidikan Batalyon Para Komando (Yonko) 465 Jakarta Timur, juga meninggal setelah mengalami keluhan serupa. Rifki diketahui memiliki riwayat hipertensi dan obesitas.

Sementara itu, peserta di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta, Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal pada 23 Juni 2026 akibat tuberkulosis (TBC) aktif.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Jepang Tantang Brasil, Argentina Hadapi Tanjung Verde

Selanjutnya, Anisa Muyassaroh meninggal sehari setelah pelatihan dimulai, yakni pada 18 Juni 2026, akibat heat stroke saat mengikuti latihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Adapun Yonanda Muhammad Taufiq meninggal pada hari pertama pelatihan, 17 Juni 2026, akibat cardiac arrest atau henti jantung.

2. Ada Indikasi Paparan Virus TBC

Setelah seorang peserta diketahui meninggal akibat TBC, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan Mayor Jendral Ketut Gede Wetan Pastia mengatakan penyelenggara melacak peserta sekaligus panitia latihan di di Pusat Bahasa Kodiklat TNI AU, Jakarta, untuk mengantisipasi penularan.

Ketut mengatakan hasil pelacakan menemukan adanya peserta lain yang terpapar TBC sehingga harus dipisahkan atau diisolasi. Menurut dia, kondisi mereka telah ditangani tenaga medis dan saat ini berada dalam kondisi terkendali.

"Saya sampaikan sampai saat ini ada pemisahan, memang beberapa orang yang terindikasi kena virus (bakteri) itu, tetapi kondisinya masih dalam kondisi aman dan terkendali," ujar Ketut.

3. Kemhan Tidak Larang 32 Ibu Hamil Ikut Latsarmil

Kementerian Pertahanan juga mengungkapkan terdapat 32 peserta yang sedang hamil mengikuti proses seleksi hingga masuk program Latsarmil. Ketut mengatakan sejak awal panitia tidak melarang perempuan hamil mengikuti rekrutmen.

Baca Juga: Diduga Jatuh Lewat Celah Penutup, Cerita Warga Ciracap Temukan Balita Meninggal di Sumur 10 Meter

Meski demikian, kini mereka telah dipulangkan ke rumah masing-masing. Pemulangan itu dilakukan setelah melihat perkembangan situasi kesehatan di satuan pendidikan dan alasan kemanusiaan.

“Dengan pertimbangan perkembangan kesehatan, dengan alasan kemanusiaan, ada 32 orang tahap pertama dipulangkan dengan talent pool,” kata Ketut di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.

Sumber: Tempo.co

 

Berita Terkait
Berita Terkini