Kompleksitas MBG Lebih dari Pemilu, Dibalik Usulan Pembentukan Tim Asistensi Independen

Sukabumiupdate.com
Minggu 03 Mei 2026, 19:53 WIB
Kompleksitas MBG Lebih dari Pemilu, Dibalik Usulan Pembentukan Tim Asistensi Independen

Ilustrasi AI. Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia menyebutkan kompleksitas program MBG (makan bergizi gratis) lebih dari pemiru. (Sumber : copilot)

SUKABUMIUPDATE.com - Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) menyebutkan kompleksitas program MBG (makan bergizi gratis) lebih dari pemiru. APPMBGI mengusulkan pembentukan tim asistensi independen untuk membantu pengawasan dan evaluasi MBG

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dinilai masih memiliki sejumlah celah dalam pelaksanaannya. Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) menyebutkan, kritik publik tersebut terutama menyinggung aspek tata kelola, kualitas pelaksanaan, hingga tantangan operasional di lapangan.

Ketua Umum APPMBGI Abdul Rivai Ras menilai program tersebut memang belum sepenuhnya berjalan optimal karena skala implementasinya yang sangat besar. Oleh karena itu, ia mengusulkan adanya tim independen untuk memperkuat pengawasan.

Baca Juga: Kicau Mania, Dari Lagu Viral Hingga Ekonomi Triliunan Rupiah Setiap Tahun untuk Indonesia

“Sebagai intervensi gizi masyarakat yang dilaksanakan secara masif setiap hari sepanjang tahun, wajar jika masih terdapat berbagai kekurangan dan area perbaikan,” kata Rivai dalam pernyataannya, Minggu (3/5/2026).

Dilansir dari suara.com, menurut Abdul Rivai Ras kompleksitas MBG bahkan melampaui penyelenggaraan Pemilu yang bersifat periodik. “Pemilu saja, meski sudah berulang kali diselenggarakan, masih senantiasa memerlukan evaluasi dan penyempurnaan. MBG harus lebih presisi karena menyangkut asupan gizi harian," imbuhnya.

Meski memiliki potensi besar dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas pembelajaran anak, pelaksanaan MBG dinilai tidak bisa instan. Rivai menyebut perbaikan program membutuhkan proses bertahap berbasis data dan evaluasi berkelanjutan.

Baca Juga: Dua Ruang Kelas Ambruk, Pelajar SDN Ciganas Ciambar Pindah ke Mushola

Di sisi lain, APPMBGI menilai kritik publik yang muncul justru menjadi indikator adanya persoalan yang perlu segera dibenahi, bukan untuk diabaikan. Rivai menyampaikan bahwa pihaknya mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) untuk lebih responsif terhadap masukan publik.

“Kami mengajak BGN untuk semakin membuka diri. Kritik yang berkembang harus dijadikan energi positif untuk memperbaiki tata kelola, rantai pasok, kualitas bahan baku, serta standar higiene dan nutrisi,” kata Rivai.

Salah satu usulannya adalah pembentukan Tim Asistensi Independen guna mendampingi BGN dalam mengawal jalannya program.

Baca Juga: 6 Pelajar Jadi Tersangka: Pelaku Dugaan Pembakaran Pos Polisi di Bandung

Tim tersebut diharapkan mampu menghadirkan rekomendasi berbasis riset, sistem monitoring berbasis data, serta solusi teknis dari berbagai pemangku kepentingan.

“APPMBGI siap berkontribusi aktif dan memberikan dukungan penuh apabila diperlukan. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat sipil merupakan kunci keberhasilan program ini,” pungkasnya.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini