SUKABUMIUPDATE.com - Timeline media sosial diramaikan oleh viralnya komentar yang diberikan oknum tenaga kesehatan (nakes) terhadap seorang pasien BPJS Kesehatan bernama Yurizal.
Komentar yang diberikan beberapa oknum nakes tersebut dinilai tidak memiliki empati hingga memancing reaksi keras dari warganet.
Kasus bermula dari unggahan seorang pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bernama Yurizal di media sosial Threads. Ia mengaku menggunakan BPJS Kesehatan dan harus menunggu selama delapan jam untuk mendapatkan kamar perawatan di sebuah rumah sakit.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah Golok Kala Petok, Warisan Raden Soemawinata yang Tumbuh di Sukabumi
Unggahan tersebut kemudian mendapat banyak respons dari warganet. Namun, sejumlah komentar yang muncul dinilai bernada negatif dan tidak berempati terhadap kondisi pasien.
Bahkan beberapa komentar dianggap tidak pantas dikemukan kepada pasien. Salah satunya datang dari akun yang diduga milik dokter dan tenaga kesehatan.
Kasus ini semakin menjadi perhatian publik setelah kerabat Yurizal menyampaikan kabar bahwa yang bersangkutan telah meninggal dunia dan meminta agar komentar bernada cibiran terhadap almarhum tidak lagi dilanjutkan.
Meski akhirnya beberapa nakes tersebut memberikan klarifikasi dan permintaan maaf di media sosial dan mengakui kesalahannya.
Respon dari dokter Gia Pratama
Atas viralnya kasus tersebut, salah satu dokter yang memiliki banyak pengikut di media sosial yaitu dr. Gia Pratama memberikan respon sekaligus mengingatkan rekan-rekan sejawatnya untuk selalu menjaga sikap dan rasa kemanusiaan terhadap sesama termasuk pasien dan keluarganya.
Dalam salah satu unggahan di Instagram pribadinya, dokter Gia mengunggah tulisan panjang dengan caption “Kita dan keluarga pernah menjadi pasien, mungkin sedang menjadi pasien, dan suatu hari mungkin kembali menjadi pasien.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Persib Bandung di Putaran Pertama Super League 2026/27
Maka, jadilah dokter dan tenaga kesehatan yang ingin kita temui saat kita sedang lemah, hati sedang takut, dan hidup terasa tidak pasti.
Kita berikan ilmu terbaik, sikap yang menghargai, ucapan yang menenangkan, serta tindakan yang menjaga martabat manusia.
Karena setiap pasien adalah seseorang yang sangat dicintai dan sedang diperjuangkan untuk pulang ke rumah”.
Ia juga mengingatkan rekan-rekan sesama tenaga kesehatan termasuk dokter dan perawat tentang tanggung jawab dan profesionalitas.
“Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi” tulis dr. Gia
Menurutnya seragam itu sebagai pengingat bahwa di balik rasa lelah, kecewa, marah dan segala tekanan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional.
“Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, lebih melelahkan menjadi pasien” tambahnya.
Dokter yang terkenal dengan sikap ramahnya itupun mengingatkan pentingnya sikap ramah dan tutur kata lembut kepada pasien maupun keluarganya. Menurutnya, nakes dan pasien berada di sisi yang sama yakni sama-sama sedang berjuang melawan penyakit.
Sikap ramah dan tutur kata yang baik juga bisa menjadi obat pertama bagi pasien yang sedang berjuang.
Selain itu, ia juga menyebut jika pasien merupakan ladang karunia bagi nakes, karena melalui pasien ilmu yang dimiliki nakes jadi memiliki arti, kesempatan menolong sesama, proses melatih kesabaran dan bisa menjadi ladang pahala.
Di akhir tulisannya dokter Gia menutup dengan sebuah kalimat “Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan.















