SUKABUMIUPDATE.com - Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa daerah terbesar di Indonesia yang memiliki kekayaan kosakata sangat beragam.
Selama ratusan tahun, bahasa ini berkembang seiring perjalanan budaya masyarakat Tatar Sunda dan melahirkan banyak istilah unik untuk menggambarkan alam, perasaan, kebiasaan, hingga aktivitas sehari-hari.
Namun sayangnya, tidak semua kosakata tersebut masih akrab di telinga generasi sekarang, karena seiring berkembangnya zaman, modernisasi, dan semakin dominannya penggunaan bahasa Indonesia maupun bahasa asing, sejumlah kosakata Sunda perlahan mulai ditinggalkan.
Baca Juga: Sajeungkal Hingga Salaksa, Mengenal Satuan Ukuran Dalam Bahasa Sunda
Padahal, banyak di antaranya memiliki makna yang khas dan sulit diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa lain. Bahkan, beberapa kata hanya dikenal oleh orang tua atau masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Melestarikan kosakata Sunda bukan sekadar menjaga sebuah bahasa, tetapi juga merawat warisan budaya yang diwariskan oleh para karuhun (leluhur).
Berikut ini sejumlah kosakata bahasa Sunda yang sudah jarang digunakan lengkap dengan arti dan maknanya.
Baca Juga: Mengenal Kawih, Nyanyian Tradisional Khas Masyarakat Sunda
- Girang Serat: Sekretaris
- Pupuhu: Pemimpin
- Inohong: Tokoh
- Balabah: Dermawan
- Darehdeh: Ramah
- Gambuhan: Rakus
- Daria: Serius
- Aheng: Aneh
- Bacacar: Berantakan
- Caremot: Belepotan
- Ajrih: Segan
- Iwal: Kecuali
- Hinis: Sembilu
- Bagea: Sealamat datang (Menyambut)
- Ngaguar: Membahas suatu masalah
- Ngabejer Beaskeun: Menjelaskan secara rinci
- Balangsiar: Mencari rezeki atau bahan makanan ke tempat lain atau hutan.
- Begung: Tubuh kurus sampai tulang punggung terlihat sedikit melengkung.
- Caahdengdeng: Banjir bandang besar yang meluap dari sungai.
- Beuteungkoreseun: Anak yang sangat mudah merasa lapar.
- Éwateun: Jerawat atau bisul kecil di muka yang berisi lemak.
Itulah beberapa kosakata bahasa Sunda yang sudah jarang digunakan di zaman sekarang.















