SUKABUMUPDATE.com – China adalah negeri para kontras yang memukau, Dimana QR code di pasar tradisional adalah hal yang sangat biasa, membuktikan bahwa revolusi digital di negara China menyentuh semua kalangan.
Sebagai seorang pengamat yang telah menjelajahi berbagai belahan dunia, mengatakan dirinya sulit untuk tidak terkesima dengan apa yang terjadi di China. Bukan hanya sekadar pertumbuhan ekonomi, tetapi sebuah transformasi peradaban yang terjadi dalam kecepatan yang sulit dipercaya.
Seorang traveler bercerita tentang pengalamannya berjalan-jalan di pasar tradisional Chengdu. Di antara aroma rempah-rempah dan sayuran segar, setiap pedagang bahkan yang berusia lanjut memamerkan kode QR untuk pembayaran digital.
Baca Juga: Jangan Salah Paham Sama Lagunya! Ini Rahasia Keluarga The Warning yang Bikin Haru!
Data dari People's Bank of China (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 85% transaksi retail telah beralih ke sistem digital. Bahkan, laporan World Economic Forum menyebutkan bahwa China memimpin dalam adopsi pembayaran digital, mengalahkan negara-negara Barat yang dianggap lebih maju secara teknologi.
Kereta yang Melaju Lebih Cepat dari Kendaraan F1 & Alam yang Seperti Keluar dari Dongeng
Perjalanan dari Beijing ke Shanghai yang dahulu memakan waktu hampir setengah hari, kini dapat ditempuh dalam 4,5 jam saja. Kereta cepat China (CRH) meluncur dengan kecepatan konsisten 350 km/jam, melewati jembatan-jembatan tinggi dan terowongan yang menembus pegunungan.
Berdasarkan data China State Railway Group (2024), jaringan kereta cepat China telah mencapai 45.000 km, menjadikannya yang terpanjang di dunia. Rata-rata keterlambatan kereta ini hanya 1-3 menit, sebuah efisiensi yang membuat banyak negara iri, mungkin juga Indonesia.
Tidak semua tentang kota dan teknologi. Taman Nasional Zhangjiajie, dengan pilar-pilar batu kapurnya yang menjulang, mengingatkan kita pada dunia Avatar. Kabut pagi yang menyelimuti puncak-puncaknya menciptakan pemandangan surgawi.
Berdasarkan keterangan UNESCO, China memiliki 57 Situs Warisan Dunia, termasuk landscape alam yang spektakuler seperti Gunung Huangshan dan Danau Jiuzhaigou. Lebih dari 30% wilayah China masih ditutupi hutan dan area konservasi alam.
Kuil-Kuil Kuno di Bawah Bayang-Bayang Pencakar Langit
Di Xi'an, Kuil Dayan yang berusia ribuan tahun masih aktif digunakan untuk ritual keagamaan. Hanya beberapa blok dari sana, gedung-gedung pencakar langit dengan desain futuristik menjulang tinggi.
Menurut National Cultural Heritage Administration, China telah memulihkan dan melestarikan 76.000 situs budaya dalam dekade terakhir—sebuah upaya untuk mempertahankan warisan sejarah di tengah gelombang modernisasi.
Kecerdasan Buatan (AI) di Kehidupan Sehari-Hari & Sebuah Eksperimen Besar yang Berhasil
Stasiun-stasiun kereta di Shanghai dan Shenzhen telah menggunakan sistem AI untuk pemanduan wisatawan. Traveler dapat berinteraksi dengan layar sentuh yang memahami 36 bahasa, memberikan arahan yang akurat dan rekomendasi yang dipersonalisasi.
Laporan Stanford University's AI Index (2023) menegaskan bahwa China merupakan kontributor terbesar dalam penelitian AI global, dengan 40% makalah akademik di bidang ini berasal dari institusi China.
Namun, China bukan tanpa kritik atau kontroversi, tetapi tidak dapat disangkal bahwa negara ini telah menciptakan sebuah model pembangunan yang unik dengan memadukan warisan budaya dengan terobosan teknologi, tanpa harus mengorbankan identitasnya.
Bagi para traveler dan pengamat dunia, China adalah bukti bahwa masa depan yang terkorelasi dengan teknologi tidak harus menghapus masa lalu tetapi justru dapat memperkuatnya.
Sumber: Unesco/Stanford University's AI Index Report (2023)
Penulis: Danang Hamid